Ketergantungan AI: Risiko dan Manfaat Mengandalkan Gemini dan Google Translate dalam Proses Pembelajaran.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 5 Nopember 2025 - Ketergantungan pada Kecerdasan Buatan (AI) seperti Gemini dan Google Translate (GT) dalam proses pembelajaran adalah pedang bermata dua. Alat-alat ini menawarkan peningkatan efisiensi dan aksesibilitas yang luar biasa, tetapi juga membawa risiko laten yang dapat melemahkan keterampilan kognitif dan integritas akademik siswa jika tidak dikelola dengan bijak.
Manfaat Ketergantungan AI (Efisiensi dan Aksesibilitas)
Ketergantungan pada AI yang terkelola dengan baik menghasilkan empat manfaat utama:
Akselerasi Riset dan Sintesis: Gemini berfungsi sebagai asisten peneliti yang tak kenal lelah, mampu menyaring informasi dalam jumlah besar dari web (real-time). Ketergantungan pada Gemini untuk peringkasan jurnal atau analisis data awal memungkinkan siswa menghemat waktu berjam-jam pada tugas-tugas low-level (pengumpulan data), dan mengalihkan fokus ke pemikiran kritis tingkat tinggi.
Penghapusan Hambatan Linguistik: Ketergantungan pada GT dan Gemini untuk terjemahan instan (seperti dalam Kelas Multilingual di WA Web) memastikan aksesibilitas materi yang setara. Siswa yang kesulitan dengan bahasa kedua mereka dapat segera memahami konsep inti, mencegah language barrier menjadi hambatan akademik.
Scaffolding Kognitif dan Struktur: ChatGPT (sebagai pelengkap) dan Gemini membantu mengatasi writer's block dan membangun struktur tugas (seperti kerangka esai). Ketergantungan pada AI untuk draf kerangka dan perbaikan tata bahasa memungkinkan siswa fokus pada kualitas argumen mereka daripada mekanika penulisan.
Dukungan 24/7: Bot pembelajaran yang didukung AI (Gemini) menyediakan dukungan tutor instan di luar jam sekolah, memungkinkan siswa mendapatkan klarifikasi konsep segera setelah timbul kebingungan.
Risiko Ketergantungan AI (Atrofi Keterampilan dan Orisinalitas)
Ketergantungan yang tidak terkelola dapat menyebabkan konsekuensi negatif yang serius:
Atrofi Keterampilan Kognitif: Ketergantungan pada AI untuk sepenuhnya menulis draf esai, merumuskan ide, atau memecahkan masalah matematika yang kompleks melemahkan "otot kognitif" siswa. Siswa kehilangan kemampuan untuk mensintesis informasi, berargumen secara logis, dan menghadapi frustrasi proses kreatif. GT, jika digunakan untuk menerjemahkan seluruh kalimat, mencegah siswa mengembangkan pemahaman linguistik yang mendalam.
Erosi Orisinalitas dan Kejujuran Akademik: Ketergantungan AI meningkatkan risiko plagiarisme AI (menyerahkan output AI sebagai karya sendiri). Jika siswa terlalu mengandalkan AI untuk ide, pekerjaan mereka menjadi generik, kehilangan suara otentik, dan berisiko kehilangan integritas akademik.
Ketergantungan pada Akurasi: Ketergantungan buta pada output Gemini (data real-time) tanpa verifikasi silang dapat menyebabkan internalisasi misinformasi atau halusinasi AI. Siswa gagal mengembangkan keterampilan literasi digital kritis yang penting untuk memverifikasi sumber.
Ancaman Privasi: Ketergantungan untuk mengunggah log komunikasi atau data akademik sensitif ke server AI (untuk Learning Analytics) meningkatkan risiko privasi, meskipun data sudah dianonimkan.
Kesimpulan
Ketergantungan AI dalam pembelajaran adalah keniscayaan, tetapi harus diatur. Manfaatnya adalah efisiensi radikal dan aksesibilitas global, yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggeser fokus siswa dari tugas low-level ke pemikiran high-level. Namun, risikonya adalah atrofi keterampilan kognitif dan erosi orisinalitas. Strategi EdTech yang bijak adalah mengajarkan Literasi AI Kritis—yaitu, kapan harus menggunakan AI (untuk riset dan drafting) dan kapan harus mematikan AI (untuk sintesis, refleksi, dan tugas berbobot). Guru harus menjadi arsitek proses yang menjamin AI digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti otak.