VR/AR dalam Pendidikan: Integrasi AI dan Google's Teknologi Imersif.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 12 Nopember 2025 - Teknologi imersif, yang mencakup Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), telah lama diakui memiliki potensi revolusioner dalam pendidikan. Kedua teknologi ini memungkinkan pembelajaran kontekstual—siswa tidak hanya membaca tentang sebuah konsep, tetapi mengalami dan berinteraksi dengannya. Namun, untuk bertransformasi dari sekadar alat baru menjadi metode pembelajaran yang dominan, VR/AR membutuhkan kecerdasan adaptif yang disediakan oleh AI. Google, dengan ekosistem AI-nya (Gemini) dan sejarahnya dalam aksesibilitas VR (Google Cardboard, Expeditions), adalah pendorong utama sinergi ini.
Masalah utama dengan VR tradisional adalah sifatnya yang statis. Pengalaman VR lama bersifat prasetel—semua siswa mengalami simulasi yang sama, terlepas dari gap pengetahuan atau kecepatan belajar mereka. Integrasi AI memecahkan masalah ini. AI mengubah lingkungan virtual dari sekadar video 360-derajat menjadi ruang belajar yang adaptif dan responsif, yang mampu mengubah skenario, tantangan, dan tingkat kesulitan secara real-time berdasarkan tindakan dan respons siswa di dalamnya.
Integrasi pertama AI adalah Kesadaran Situasional dalam AR. AR (misalnya, melalui aplikasi berbasis Google Lens) menggunakan Computer Vision untuk mengenali objek di dunia nyata. AI menganalisis apa yang dilihat siswa (misalnya, sebuah mesin, diagram di papan tulis) dan secara otomatis menempatkan lapisan informasi digital (overlay) yang relevan. Misalnya, AI mengenali bagian mesin yang rusak dan memproyeksikan instruksi perbaikan 3D, memfasilitasi pembelajaran just-in-time. .
Peran AI yang paling canggih adalah sebagai Tutor dan Pelatih Real-time di dalam VR. Model LLM seperti Gemini dapat diprogram untuk berinteraksi dengan siswa di dalam simulasi. Jika seorang siswa melakukan kesalahan dalam urutan langkah eksperimen kimia virtual, Gemini tidak hanya akan mengulang instruksi; ia akan mendiagnosis mengapa kesalahan itu terjadi (misalnya, kurangnya pemahaman tentang Konsep X) dan memberikan scaffolding (bantuan) secara lisan atau visual yang dipersonalisasi.
Sinergi VR/AR dan AI ini menghasilkan lompatan kognitif yang signifikan. Pembelajaran menjadi situated—terkait dengan lingkungan tertentu. Pengalaman ini secara radikal meningkatkan retensi memori karena melibatkan memori spasial dan emosi, memecahkan masalah kognitif di mana siswa kesulitan menghubungkan teori abstrak (teks) dengan aplikasi fisik.
Google telah lama mendemokratisasi akses ke VR melalui inisiatif sederhana. Google Cardboard dan Google Expeditions membuka jalan bagi banyak sekolah untuk pertama kalinya merasakan pengalaman immersive. Kini, AI memperkuat demokratisasi tersebut, karena konten VR yang dihasilkan AI akan lebih murah dan lebih cepat diproduksi daripada konten VR yang membutuhkan studio mahal.
Aplikasi praktis dari pembelajaran imersif yang didukung AI sangat luas, terutama dalam pelatihan Vokasi dan STEM. Siswa teknik dapat mempraktikkan pengelasan virtual tanpa risiko, atau mahasiswa kedokteran dapat melakukan simulasi operasi yang kompleks. AI melacak setiap gerakan, menganalisis efisiensi prosedur, dan memberikan feedback korektif segera setelah tindakan selesai, menciptakan lingkungan pelatihan yang bebas kesalahan dan sangat efektif.
Visi masa depan bergerak menuju Generasi Skenario Adaptif. Guru akan memasukkan tujuan pembelajaran dan tag minat siswa ke AI. AI akan merespons dengan secara otomatis menghasilkan simulasi VR yang unik dan dipersonalisasi—misalnya, siswa yang tertarik pada sejarah dapat meminta AI untuk mensimulasikan negosiasi politik tertentu di Roma kuno, lengkap dengan dilema etika dan respons karakter yang dinamis.
Tantangan tetap ada, terutama terkait biaya hardware tingkat lanjut dan kebutuhan untuk pelatihan guru agar mahir dalam merancang pengalaman imersif (Prompt Engineering). Meskipun demikian, konvergensi AI Generatif dengan alat desain 3D yang semakin mudah diakses akan terus menurunkan biaya produksi konten, menjadikan VR/AR yang cerdas sebagai standar EdTech di masa depan.
Kesimpulan
Integrasi AI dan teknologi imersif Google mengubah pembelajaran dari penerimaan informasi pasif menjadi pengalaman yang aktif dan personal. AI bertindak sebagai otak adaptif yang mendiagnosis kebutuhan siswa, mempersonalisasi scaffolding, dan menyediakan feedback real-time di dalam lingkungan VR/AR. Sinergi ini menjanjikan cara paling efektif untuk mengajarkan keterampilan dan konsep abad ke-21, memastikan pendidikan menjadi kontekstual, menarik, dan terukur.