Voice AI: Peran Asisten Suara Google dan Model ChatGPT yang Berbicara dalam Pendidikan.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 12 Nopember 2025 - Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) berbasis suara telah menandai pergeseran fundamental dalam antarmuka Teknologi Pendidikan (EdTech), bergerak dari dominasi teks dan layar ke komunikasi yang lebih alami dan percakapan. Baik Asisten Suara Google maupun model Generatif yang berbicara (seperti fitur voice pada ChatGPT) mengubah pembelajaran menjadi proses interaktif yang instan dan hands-free. Peran AI Suara di kelas modern adalah sebagai alat inklusif, pendukung literasi, dan tutor yang selalu tersedia.
Salah satu kontribusi terbesar AI Suara adalah dalam meningkatkan aksesibilitas dan inklusivitas. Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus (ABK), khususnya dengan gangguan penglihatan atau disleksia, AI Suara berfungsi sebagai mata dan juru tulis. Teknologi Text-to-Speech (TTS) memungkinkan materi ajar dibacakan secara lantang, sementara teknologi Speech-to-Text (STT) memungkinkan siswa merespons tugas secara lisan, memecahkan hambatan motorik dan visual yang menghalangi partisipasi penuh mereka.
Asisten Suara Google unggul sebagai sumber informasi just-in-time dan alat riset cepat. Siswa di rumah atau di laboratorium dapat secara lisan mengajukan pertanyaan faktual dasar ("Apa itu fotosintesis?" atau "Konversi satuan ini") dan mendapatkan jawaban instan tanpa harus membuka browser atau mengetik. Kemampuan ini mengintegrasikan pembelajaran langsung ke dalam lingkungan fisik siswa, mendukung pembelajaran kontekstual.
Sementara itu, model ChatGPT yang Berbicara berfungsi sebagai tutor percakapan dinamis. AI Generatif memungkinkan siswa untuk terlibat dalam dialog yang lebih dalam—bertanya mengapa suatu konsep benar, meminta penjelasan dari sudut pandang yang berbeda, atau meminta analogi. Kualitas reasoning dan konteks yang diberikan AI Suara ini melampaui jawaban faktual sederhana, menyediakan scaffolding kognitif yang dipersonalisasi dan adaptif.
Aplikasi dalam Pembelajaran Bahasa adalah yang paling transformatif. AI Suara menyediakan lingkungan immersion yang aman. Siswa dapat berlatih pengucapan, intonasi, dan ritme bahasa asing tanpa rasa malu atau takut dihakimi. Model AI dapat mendengarkan ucapan siswa (STT) dan memberikan umpan balik korektif linguistik secara instan, yang merupakan aspek krusial dalam penguasaan bahasa lisan.
Namun, efektivitas AI Suara bergantung pada kualitas keluaran suara dan pemahaman AI terhadap aksen regional. Google dan penyedia LLM terus berinvestasi dalam membuat suara AI terdengar lebih alami dan empatik, yang penting untuk membangun koneksi emosional dengan siswa. Pada saat yang sama, model STT harus dilatih secara masif untuk memahami berbagai aksen dan dialek yang digunakan oleh siswa global.
Peran guru bergeser menjadi Pelatih Pertanyaan Lisan dan Pendengar Kritis. Guru harus mengajarkan siswa bagaimana merumuskan pertanyaan lisan yang efektif kepada AI. Selain itu, guru harus melatih siswa untuk mendengarkan secara kritis output AI—memverifikasi akurasi informasi lisan yang diterima, karena hallucination (halusinasi) yang diucapkan AI bisa terasa lebih persuasif dan sulit untuk segera diperiksa faktanya.
Integrasi Visual tetap menjadi keharusan. Meskipun AI Suara memberikan input auditori yang kuat, studi menunjukkan retensi maksimal terjadi ketika audio dipasangkan dengan visual. Oleh karena itu, output AI Suara yang terbaik harus diintegrasikan dengan slide deck (Canva) atau video (YouTube) yang menyediakan referensi visual yang mendukung narasi lisan.
Kesimpulan
AI Suara mengubah pembelajaran menjadi proses yang lebih alami, inklusif, dan responsif. Asisten Suara Google menyediakan akses cepat dan faktual, sementara model Generatif (ChatGPT) menyediakan dukungan tutorial dan percakapan yang adaptif. Sinergi ini menghilangkan hambatan mengetik dan visual, menjadikan AI sebagai mitra pembelajaran yang penting dan selalu ada bagi setiap siswa.