Transparansi AI: Mengajarkan Siswa Bagaimana ChatGPT Dibuat dan Batasan Modelnya.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Mengajarkan siswa bagaimana ChatGPT dibuat (training data, arsitektur transformer) dan batasan inheren modelnya adalah aspek esensial dari literasi AI modern. Transparansi ini menghilangkan mitos tentang AI sebagai "kotak hitam" dan memberdayakan siswa dengan pemahaman kritis tentang cara kerja teknologi yang memengaruhi kehidupan mereka. Pemahaman fundamental ini sangat penting untuk mencapai SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kompetensi digital yang mendalam.
Pendidikan harus secara eksplisit mengungkap bahwa data pelatihan AI mencerminkan bias dan ketidaksetaraan historis, dan oleh karena itu, output AI dapat mengandung bias gender, ras, atau ekonomi. Mengkritisi asal-usul bias ini sangat penting untuk membentuk pengguna teknologi yang etis dan untuk mendukung tujuan SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Guru harus menjelaskan batasan timestamp model AI, yaitu bahwa AI tidak memiliki pengetahuan real-time. Siswa harus diajarkan bahwa untuk informasi terbaru tentang peristiwa global atau regulasi baru, seperti kemajuan dalam energi berkelanjutan (SDG 7) atau krisis kesehatan global (SDG 3), mereka harus merujuk pada sumber daya online yang diperbarui. Penekanan pada verifikasi ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Pemahaman tentang mekanisme Deep Learning (misalnya, hallucination dan probabilitas) mengajarkan siswa bahwa AI tidak memiliki penalaran kausal atau kesadaran. Siswa harus tahu bahwa jawaban yang terdengar meyakinkan secara linguistik belum tentu benar secara faktual, menumbuhkan sikap skeptisisme yang sehat dan pemikiran kritis.
Transparansi tentang biaya komputasi dan energi yang diperlukan untuk melatih dan menjalankan LLM juga harus diajarkan. Ini membuka diskusi tentang dampak lingkungan dari AI dan teknologi besar, mengaitkannya dengan tantangan perubahan iklim (SDG 13) dan perlunya inovasi yang berkelanjutan. Pemahaman ini sejalan dengan tanggung jawab global.
Dengan memahami keterbatasan AI, siswa didorong untuk menciptakan nilai tambah manusia dalam tugas mereka, yaitu menambahkan empati, konteks lokal, dan penalaran etika yang tidak dimiliki AI. Peningkatan keterampilan yang unik ini mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pengajaran transparansi AI memerlukan guru yang kompeten. Oleh karena itu, pelatihan guru harus mencakup modul tentang cara menjelaskan arsitektur AI secara pedagogis dan bagaimana memfasilitasi diskusi kritis tentang etika AI. Peningkatan kompetensi guru ini selaras dengan SDG 4c.
Sekolah harus menggunakan kebijakan transparansi dan akuntabilitas sebagai model. Kebijakan harus menjelaskan bagaimana data interaksi siswa dikelola dan tujuan penggunaannya, menunjukkan kepada siswa praktik tata kelola yang bertanggung jawab. Akuntabilitas kelembagaan ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Mendorong siswa untuk melakukan eksperimen dengan prompt yang dirancang untuk menguji batas logis dan pengetahuan AI adalah cara praktis untuk memahami batasan model. Eksperimen ilmiah yang didorong oleh curiosity ini sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Pada akhirnya, transparansi AI adalah alat untuk pemberdayaan. Dengan mendidik siswa tentang bagaimana dan mengapa AI bekerja dan gagal, pendidikan memastikan bahwa generasi mendatang akan menjadi pengguna, pencipta, dan pengkritik teknologi yang cerdas dan etis. Pemahaman mendalam ini adalah fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).