Tantangan Etika: Penggunaan Data Siswa oleh AI dalam Platform Teknologi Pendidikan.
s2tp.fip.unes.ac.id, 15 Nopember 2025 - Penggunaan data siswa oleh Kecerdasan Buatan (AI) merupakan dilema etika paling mendasar dalam Teknologi Pendidikan (EdTech) modern. Data ini, yang mencakup skor ujian, pola interaksi, log perilaku, dan pertanyaan sensitif yang diajukan di chat (misalnya, WhatsApp Web), adalah bahan bakar yang diperlukan AI untuk memberikan personalisasi dan Learning Analytics. Namun, koleksi data dalam skala besar ini secara langsung berbenturan dengan hak fundamental siswa atas privasi dan perlindungan Personally Identifiable Information (PII).
Tantangan etika ini diperparah oleh potensi komersialisasi. Data yang dikumpulkan dari platform EdTech sangat berharga bagi perusahaan iklan dan pemasaran. Ada risiko yang melekat bahwa data akademik dan perilaku siswa dapat dialihkan atau digunakan untuk tujuan non-pedagogis dan komersial, yang secara etika tidak dapat diterima oleh institusi pendidikan.
Isu krusial lainnya adalah Bias Algoritmik dan Keadilan. Jika AI digunakan untuk memprediksi risiko kegagalan akademis seorang siswa (misalnya, berdasarkan data socio-ekonomi yang diizinkan), bias yang ada dalam data pelatihan AI dapat secara tidak adil mengidentifikasi kelompok siswa tertentu sebagai "berisiko tinggi." Keputusan yang didorong oleh AI yang bias dapat menghambat peluang siswa dan melanggengkan ketidaksetaraan sistem.
Kepatuhan Hukum adalah non-negosiasi. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) di banyak yurisdiksi menetapkan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab hukum untuk menjaga kerahasiaan PII siswa. Setiap penyalahgunaan, kebocoran, atau pemrosesan data tanpa izin eksplisit merupakan pelanggaran serius terhadap kepercayaan dan undang-undang.
Strategi perlindungan data harus dimulai dengan Anonimitas dan Minimalisasi Data yang Ketat. Guru dan administrator harus menerapkan protokol untuk menghapus semua PII langsung (nama, ID) dan memproses data hanya dalam bentuk agregat atau pseudonim sebelum diumpankan ke Model Bahasa Besar (LLM) seperti Gemini atau ChatGPT. AI hanya boleh menerima data yang mutlak diperlukan untuk tujuan pedagogis.
Meskipun demikian, AI memiliki kemampuan untuk Menyimpulkan Data Sensitif. Bahkan jika PII dihapus, AI dapat menganalisis pola log perilaku atau log chat (misalnya, timestamp login, pertanyaan tentang krisis keluarga) dan menyimpulkan informasi sensitif (data inferensial). Ini adalah tantangan etika yang menuntut agar model AI yang digunakan di lingkungan sekolah harus menjamin bahwa output inferensial tidak digunakan untuk tujuan yang tidak etis.
Transparansi Penuh dan Izin Eksplisit adalah prinsip etika utama. Sekolah wajib menginformasikan kepada siswa dan orang tua jenis data apa yang dikumpulkan, bagaimana AI menganalisisnya, dan langkah-langkah yang diambil untuk mengamankannya. Izin yang jelas dan terinformasi harus diperoleh sebelum AI memproses data perilaku yang sensitif. .
Kesimpulan
Etika data besar dalam EdTech adalah konflik antara efisiensi AI dan hak privasi siswa. AI memiliki potensi untuk merevolusi pembelajaran melalui Learning Analytics, tetapi integritas sistem bergantung pada kepatuhan hukum (UU PDP), anonimitas data yang ketat, dan komitmen etis guru untuk bertindak sebagai firewall manusia. Kegagalan dalam melindungi data siswa dapat menghancurkan kepercayaan publik terhadap janji-janji inovasi AI di sekolah.