Tantangan Enkripsi: Bagaimana Proxy Modern Mengelola Lalu Lintas Terenkripsi (HTTPS) yang Digunakan Alat AI.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Proxy modern menghadapi tantangan besar dalam mengelola lalu lintas terenkripsi Hypertext Transfer Protocol Secure (HTTPS) yang dominan digunakan oleh alat Artificial Intelligence (AI) dan layanan cloud EdTech. Lalu lintas HTTPS menyembunyikan konten data, termasuk malware atau informasi sensitif, dari inspeksi proxy biasa. Proxy harus menggunakan teknik Inspeksi SSL/TLS untuk mendekripsi, memfilter, dan mengenkripsi ulang lalu lintas ini. Penguasaan tantangan teknis ini secara fundamental mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui peningkatan kemampuan keamanan digital.
Inspeksi SSL/TLS adalah prasyarat untuk menerapkan filter konten cerdas dan pencegahan kebocoran data (DLP) pada alat AI. Tanpa dekripsi, proxy tidak dapat memblokir prompt yang tidak pantas atau mencegah kebocoran Informasi Identitas Pribadi (PII) siswa yang dikirimkan ke layanan AI eksternal. Pengawasan yang diperlukan ini penting untuk menjaga SDG 4: Pendidikan Berkualitas di lingkungan cloud.
Tantangan utama adalah keseimbangan antara keamanan dan privasi. Meskipun inspeksi SSL/TLS penting untuk keamanan, ia menimbulkan kekhawatiran etika karena proxy membaca konten yang terenkripsi. Sekolah harus memastikan bahwa kebijakan ini transparan dan hanya diterapkan untuk tujuan keamanan dan kepatuhan yang ketat, mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Pengelolaan lalu lintas terenkripsi yang efisien sangat penting untuk mengamankan akses ke sumber daya SDGs. Proxy harus memastikan bahwa data sensitif (misalnya, data penelitian kesehatan, SDG 3) yang dipertukarkan dengan database penelitian melalui HTTPS tetap aman dari ancaman eksternal, sambil memfasilitasi akses.
Teknik inspeksi SSL/TLS memerlukan sertifikat keamanan yang disebarkan ke semua perangkat siswa. Proses manajemen sertifikat ini bisa menjadi rumit dan membutuhkan staf TI yang terampil. Peningkatan kompleksitas ini menyoroti perlunya pengembangan profesional guru dan staf TI yang berkelanjutan, sejalan dengan tujuan SDG 4c.
Proxy yang mampu mengelola enkripsi secara efisien membantu mengurangi ketidaksetaraan risiko siber. Sekolah dengan kemampuan proxy yang kuat dapat melindungi semua siswanya dari malware tersembunyi, yang jika tidak dideteksi, dapat melumpuhkan sistem EdTech, yang seringkali memiliki dampak terbesar pada sekolah yang kurang sumber daya.
Lalu lintas HTTPS yang intensif komputasi dapat memperlambat koneksi jika proxy tidak memiliki kapasitas pemrosesan yang memadai. Proxy modern harus dirancang dengan hardware yang kuat untuk menangani beban dekripsi/enkripsi tanpa mengorbankan kecepatan akses, sehingga menjaga pengalaman belajar yang mulus.
Pengelolaan enkripsi yang berhasil mendukung kolaborasi internasional yang aman. Ketika siswa mengakses platform EdTech atau data penelitian bersama dari lembaga mitra (SDG 17) melalui HTTPS, proxy memastikan bahwa komunikasi lintas batas tersebut terjamin keamanannya.
Sekolah harus menggunakan inspeksi SSL/TLS secara selektif, hanya menerapkannya pada domain yang diperlukan untuk filter konten dan keamanan, sementara membiarkan domain yang tidak relevan dengan pendidikan tetap terenkripsi dari end-to-end. Pendekatan yang bijaksana ini menghormati privasi.
Pada akhirnya, tantangan enkripsi adalah ujian bagi keamanan EdTech modern. Dengan mengelola lalu lintas terenkripsi secara cerdas dan transparan, proxy memastikan bahwa alat AI yang inovatif dapat digunakan secara aman, yang merupakan fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).