Studi Kasus: Keberhasilan Sekolah Menengah Dalam Menggunakan Proxy dan AI untuk Ujian Online.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Keberhasilan Sekolah Menengah dalam mengintegrasikan proxy server dan Artificial Intelligence (AI) untuk ujian online menandai tonggak penting dalam menjaga integritas akademik di era digital. Dalam studi kasus ini, proxy berfungsi sebagai gerbang keamanan yang memastikan lingkungan ujian yang terkendali, sementara AI menyediakan pengawasan dan analisis perilaku yang adaptif. Sinergi teknologi ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memvalidasi hasil belajar siswa dan mempertahankan standar mutu pendidikan.
Peran proxy sangat vital dalam pencegahan kecurangan. Selama periode ujian, proxy mengaktifkan aturan ketat untuk memblokir domain yang tidak sah, khususnya layanan AI generatif (seperti ChatGPT), situs berbagi jawaban, dan media sosial. Kontrol akses ini memastikan siswa hanya dapat terhubung ke platform ujian resmi, menghilangkan jalan pintas digital.
AI mendukung integritas dengan menganalisis log proxy dan pola perilaku siswa secara real-time. AI mencari anomali seperti lonjakan traffic yang tidak biasa (indikasi penggunaan proxy pihak ketiga) atau perubahan cepat pada keystroke dynamics. Deteksi cheating yang cerdas dan berbasis bukti ini sangat diperlukan.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa proxy dan AI membantu mengurangi ketidaksetaraan dalam penilaian. Dengan memastikan bahwa semua siswa diuji dalam kondisi yang sama dan tidak ada yang mendapatkan keuntungan curang dari alat AI canggih, sekolah menjamin hasil penilaian yang adil dan valid. Penguatan ekuitas penilaian ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Sekolah juga memanfaatkan proxy untuk mengamankan koneksi ujian melalui enkripsi SSL/TLS, terutama bagi siswa yang mengambil ujian dari rumah melalui jaringan yang kurang aman. Proxy memastikan bahwa data ujian yang sensitif terlindungi dari intersepsi atau malware. Keamanan data ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Keberhasilan implementasi ini didukung oleh pelatihan guru yang komprehensif. Guru dilatih untuk memahami dan mengelola laporan anomali yang dihasilkan AI, serta mengoperasikan kebijakan proxy selama ujian. Peningkatan kompetensi guru dalam keamanan siber ini sejalan dengan tujuan SDG 4c (peningkatan kualitas guru).
Analisis AI dari data proxy ujian memberikan wawasan berharga untuk peningkatan kurikulum. Jika data menunjukkan sebagian besar siswa menunjukkan pola keraguan atau kecenderungan curang pada topik tertentu, hal ini mengindikasikan bahwa topik tersebut memerlukan pengajaran yang lebih mendalam atau metodologi yang berbeda. Pengambilan keputusan kurikulum berbasis data ini sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Meskipun fokus pada keamanan, proxy dan AI tetap dirancang untuk mendukung proyek yang relevan dengan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di luar jam ujian. Fleksibilitas ini memastikan bahwa infrastruktur teknologi mendukung tujuan akademik yang lebih luas, seperti riset global yang berkaitan dengan SDG 17 (Kemitraan).
Kepercayaan publik dan orang tua terhadap sistem ujian online sekolah meningkat secara signifikan karena adanya transparansi dan mekanisme pengamanan yang canggih. Keberhasilan dalam menjaga integritas penilaian digital mendorong adopsi teknologi yang lebih luas dan tepercaya.
Pada akhirnya, studi kasus ini membuktikan bahwa integrasi proxy dan AI bukan hanya tentang memblokir, tetapi tentang menciptakan lingkungan ujian digital yang kredibel. Pengamanan ini vital dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan berintegritas, yang merupakan fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).