Snaptik dan Canva untuk Soft Skills: Mengajarkan Presentasi dan Komunikasi Visual Efektif.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 11 Nopember 2025 - Pelatihan keterampilan lunak (soft skills) seperti komunikasi, presentasi, dan persuasi memerlukan alat yang otentik dan relevan dengan bahasa visual audiens modern. Dalam konteks ini, klip video viral (diunduh via Snaptik atau ssstiktok) dan alat desain grafis Canva menciptakan alur kerja yang efektif untuk mengajarkan siswa dan profesional tentang komunikasi visual yang dinamis dan berdampak.
Strategi ini dimulai dengan Analisis Komunikasi Visual yang Berhasil. Guru mengajarkan siswa bahwa video Snaptik yang sukses (viralitas tinggi) bukanlah kebetulan; itu adalah hasil dari desain visual dan ritme komunikasi yang presisi. Siswa menganalisis klip tersebut, mengidentifikasi teknik kunci: penggunaan hook yang kuat dalam 3 detik pertama, penyajian satu ide per frame, dan tempo visual yang cepat.
Canva kemudian menjadi Studio Produksi dan Eksperimen. Siswa menggunakan Canva untuk memproduksi presentasi, tetapi tujuannya telah bergeser dari hanya menyampaikan informasi menjadi memikat audiens. Siswa diajarkan untuk menggunakan template dan fitur desain Canva untuk menerapkan prinsip low-attention span yang dipelajari dari Snaptik—yaitu, teks tebal dan singkat, warna kontras tinggi, dan animasi yang dinamis.
Aplikasi Keterampilan Presentasi Lisan sangat penting. Siswa harus membuat slide deck Canva mereka (yang didesain untuk ritme cepat) dan merekam diri mereka sendiri saat mempresentasikannya (misalnya, diunggah ke YouTube Unlisted). Ini melatih mereka untuk berbicara dengan kecepatan tinggi, tempo yang jelas, dan menyinkronkan narasi mereka dengan pergantian slide yang cepat, meniru efisiensi komunikasi visual.
Pelatihan Call-to-Action (CTA) Persuasif juga diotomatisasi. Klip Snaptik/ssstiktok selalu diakhiri dengan CTA yang jelas. Siswa menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) Generatif untuk menulis CTA untuk presentasi mereka dan mendesain slide penutup yang menarik di Canva, yang mendorong audiens untuk melakukan tindakan (misalnya, berinvestasi, mendukung, atau mengubah pandangan).
Desain untuk Kredibilitas dan Brand adalah fokus utama. Siswa belajar bahwa soft skills didukung oleh profesionalisme visual. Mereka menggunakan Brand Kit Canva untuk menjaga konsistensi font dan warna, yang secara tidak sadar membangun otoritas dan kepercayaan di mata audiens.
Analisis Feedback Audiens adalah fase akhir. Siswa berbagi tautan presentasi mereka di grup (misalnya, WA Web) dan mengumpulkan feedback dari rekan-rekan mereka. Guru dapat menggunakan AI untuk menganalisis feedback ini: "Apakah hook presentasi berhasil menarik perhatian dalam 5 detik pertama?" Data ini digunakan untuk revisi presentasi.
Kesimpulan
Mengajar soft skills di era digital menuntut alat dan metode yang relevan. Klip Snaptik/ssstiktok menyediakan materi studi otentik tentang cara menguasai perhatian audiens. Canva berfungsi sebagai studio produksi yang memungkinkan siswa menerapkan prinsip low-attention span dalam desain presentasi mereka. Strategi ini secara efektif melatih siswa untuk menjadi komunikator yang dinamis, persuasif, dan mahir secara visual.