Simulasi Wawancara: ChatGPT untuk Melatih Keterampilan Berbicara dan Percakapan Berbasis Skenario.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - ChatGPT memberikan kesempatan unik bagi pelajar untuk berlatih keterampilan berbicara dan percakapan melalui simulasi wawancara berbasis skenario yang fleksibel dan tersedia 24/7. Ketersediaan ini menghilangkan hambatan geografis dan waktu, memungkinkan latihan yang konsisten tanpa perlu kehadiran mentor atau guru. Aksesibilitas luas terhadap praktik berkualitas tinggi ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, memastikan bahwa setiap pelajar, terlepas dari lokasi atau jadwal, dapat meningkatkan kemampuan komunikasinya.
Kemampuan AI untuk berperan sebagai pewawancara dalam berbagai konteks, mulai dari wawancara kerja teknis hingga simulasi negosiasi antarbudaya, memungkinkan pelajar mengembangkan keterampilan yang sangat spesifik dan aplikatif. Pelajar dapat berlatih menghadapi situasi realistis, menerima pertanyaan dadakan, dan merumuskan jawaban secara spontan. Skenario pelatihan yang beragam ini sangat penting untuk menyiapkan individu menghadapi tuntutan pasar global, selaras dengan tujuan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan membekali mereka dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang produktif.
Fitur umpan balik instan adalah keunggulan utama simulasi ini. Setelah setiap sesi, ChatGPT dapat menganalisis respons pelajar, memberikan kritik terhadap kejelasan, koherensi, tata bahasa, dan bahkan intonasi yang disarankan (jika didukung melalui fitur suara). Umpan balik yang cepat dan terperinci ini mempercepat kurva pembelajaran dan memungkinkan pelajar untuk segera mengoreksi kesalahan. Kualitas umpan balik yang tinggi dan cepat ini adalah wujud nyata dari target SDG 4.4, yaitu secara substansial meningkatkan jumlah kaum muda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknis dan kejuruan.
Simulasi wawancara dengan AI membantu mengurangi kecemasan berbicara di depan umum dan rasa takut akan kegagalan, karena pelajar berlatih di lingkungan yang aman dan bebas penilaian. Mereka dapat mengulangi latihan sebanyak yang dibutuhkan tanpa merasa malu atau canggung. Pengurangan hambatan psikologis ini memungkinkan pelajar yang pemalu atau kurang percaya diri untuk membangun keberanian secara bertahap. Hal ini berkaitan dengan aspek inklusif dari SDG 4, memastikan bahwa lingkungan belajar mendukung perkembangan pribadi dan psikologis semua siswa.
Penggunaan AI dalam pelatihan komunikasi ini dapat dirancang untuk fokus pada kepekaan budaya dan dialog yang inklusif. Guru dapat membuat prompt yang meminta ChatGPT untuk mensimulasikan wawancara dengan perspektif global, mendorong pelajar untuk memahami dan merespons isu-isu keragaman dan etika. Pelatihan komunikasi yang sensitif terhadap isu global ini adalah bagian integral dari upaya SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh, yaitu mempromosikan masyarakat yang damai dan inklusif.
Bagi pelajar dari komunitas yang kurang beruntung atau daerah dengan akses terbatas ke program pelatihan keterampilan mahal, ChatGPT menawarkan solusi biaya rendah dan berdaya guna tinggi. Teknologi ini mendemokratisasi akses ke pelatihan wawancara berkualitas yang sebelumnya hanya tersedia melalui layanan bimbingan karier premium. Dengan demikian, platform AI menjadi alat yang kuat untuk mengurangi ketidaksetaraan akses terhadap pelatihan profesional, sejalan dengan prinsip inti SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Guru dapat menggunakan analisis data dari sesi simulasi siswa untuk mengidentifikasi area kesulitan bersama dalam komunikasi, kemudian menyesuaikan kurikulum dan materi pengajaran mereka. Data performa ini memberikan pandangan mendalam mengenai kemajuan kelas secara kolektif dan individual, memungkinkan intervensi pengajaran yang lebih tepat sasaran. Pendekatan berbasis data ini merupakan inovasi dalam metodologi pengajaran yang mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan mengintegrasikan teknologi informasi untuk meningkatkan efektivitas layanan pendidikan.
Pelatihan percakapan dengan AI dapat secara spesifik berfokus pada isu-isu keberlanjutan. Misalnya, simulasi dapat berupa wawancara untuk posisi di organisasi nirlaba yang menangani perubahan iklim (SDG 13) atau manajer proyek energi terbarukan (SDG 7). Dengan melatih keterampilan berbicara dalam konteks masalah-masalah global ini, pelajar tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi tetapi juga memperdalam pemahaman mereka terhadap SDGs, mendukung komitmen SDG 4.7.
Teknologi AI memastikan bahwa kualitas pelatihan percakapan tetap tinggi dan konsisten di seluruh dunia, terlepas dari kualifikasi atau jumlah guru di suatu institusi. Hal ini sangat penting untuk standardisasi kualitas pendidikan di berbagai negara dan wilayah. Melalui kolaborasi dan berbagi prompt simulasi antar pendidik global, AI mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik dalam pelatihan keterampilan.
Pada akhirnya, simulasi wawancara yang didukung ChatGPT tidak hanya melatih keterampilan berbicara, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, adaptabilitas, dan kesiapan profesional. Dengan memberikan alat yang efektif dan inklusif untuk pengembangan keterampilan komunikasi yang penting, AI berkontribusi pada pengembangan modal manusia global yang lebih terampil dan berdaya saing. Pemberdayaan individu melalui pendidikan dan pelatihan ini adalah fondasi krusial bagi keberhasilan implementasi seluruh kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).