Simulasi Imersif: Menggunakan AI untuk Menciptakan Pengalaman Belajar Virtual dan Augmented.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 21 Nopember 2025 - Simulasi Imersif: Menggunakan AI untuk Menciptakan Pengalaman Belajar Virtual dan Augmented.
Artificial Intelligence (AI) merevolusi pendidikan melalui simulasi imersif (Virtual Reality/VR dan Augmented Reality/AR), menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan realistis yang memungkinkan siswa belajar melalui pengalaman (learning by doing). Siswa dapat menjelajahi reruntuhan kuno, melakukan eksperimen ilmiah berbahaya tanpa risiko, atau membedah organ virtual. Pengalaman belajar yang ditingkatkan ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Simulasi imersif yang didukung AI menghilangkan kebutuhan akan laboratorium fisik yang mahal, perjalanan lapangan yang memakan biaya, atau bahan kimia berbahaya. Hal ini mendemokratisasi akses ke pengalaman belajar langsung yang berkualitas tinggi dan intensif sumber daya. Inovasi teknologi ini secara langsung mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Teknologi VR/AR memungkinkan akses yang setara bagi semua siswa, terlepas dari keterbatasan fisik, mobilitas, atau lokasi geografis mereka. Siswa di daerah terpencil dapat mengalami studi lapangan yang sama dengan siswa di kota besar, yang sangat penting untuk mengatasi kesenjangan akses. Upaya inklusif ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
AI dapat menghasilkan skenario Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang menantang secara emosional, menempatkan siswa dalam peran pengambil keputusan (misalnya, mengelola polusi air di kota yang padat, SDG 4.7). Pengalaman langsung ini membangun empati dan kesadaran global yang mendalam.
Simulasi imersif menyediakan pelatihan zero-risk untuk keterampilan profesional berisiko tinggi, seperti prosedur medis atau operasi mesin kompleks. AI melacak kinerja siswa dan memberikan umpan balik detail. Kesiapan kerja yang ditingkatkan ini mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth.
AI melacak interaksi siswa dalam simulasi dan mengubah variabel skenario secara dinamis untuk mempertahankan tingkat kesulitan optimal, memberikan pengalaman belajar adaptif yang sepenuhnya dipersonalisasi.
VR/AR memungkinkan sekolah untuk menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan. Simulasi menggantikan kebutuhan akan bahan habis pakai, bahan kimia, atau konsumsi energi yang berlebihan dari perjalanan lapangan yang jauh, menjadikan pendidikan sains lebih ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production.
Simulasi dapat digunakan untuk melatih penalaran etika dengan memodelkan dilema moral (misalnya, distribusi sumber daya medis yang terbatas, SDG 16). Siswa harus membuat keputusan sulit, dan AI melacak proses pengambilan keputusan mereka.
Peran guru bergeser menjadi perancang skenario dan fasilitator debriefing. Mereka menganalisis data kinerja dari simulasi dan memimpin diskusi reflektif untuk menyimpulkan pembelajaran, fokus pada aspek kritis dan emosional. Peningkatan peran guru ini sejalan dengan tujuan SDG 4c.
Pada akhirnya, simulasi imersif AI mengubah pembelajaran pasif menjadi pengalaman yang aktif dan transformatif. Teknologi ini mempersiapkan siswa untuk kompleksitas dunia nyata, yang merupakan fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).