Refleksi Kritis: Ketergantungan Teknologi Pendidikan pada Platform Raksasa Seperti YouTube.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 - Ketergantungan Teknologi Pendidikan (EdTech) pada platform raksasa seperti YouTube adalah sebuah fenomena yang mendefinisikan ulang lanskap pembelajaran modern. YouTube, sebagai perpustakaan video terbesar di dunia, menawarkan akses tak terbatas, stabilitas, dan infrastruktur hosting gratis yang tidak mampu disaingi oleh institusi pendidikan mana pun. Namun, kenyamanan ini datang dengan harga yang mahal: hilangnya kontrol pedagogis dan risiko kedaulatan data yang signifikan, yang menuntut refleksi kritis dari para pendidik.
Keuntungan YouTube terletak pada Skalabilitas dan Aksesibilitas Universal. Platform ini secara otomatis memecahkan masalah distribusi video global, streaming yang andal, dan closed captions berbasis AI. Kemampuan untuk menyematkan (embed) video YouTube ke dalam LMS atau Rencana Pelajaran (RPP) guru secara instan memperkaya materi ajar, membuat pendidikan berkualitas tinggi lebih mudah diakses di seluruh dunia.
Risiko terbesar, bagaimanapun, adalah Kontrol Algoritmik. AI YouTube dioptimalkan untuk engagement dan monetisasi (iklan), bukan untuk kedalaman akademis. Algoritma cenderung memprioritaskan video yang sensasional atau clickbait daripada konten yang bernuansa dan penting secara pedagogis. Ketergantungan pada feed rekomendasi YouTube dapat secara halus membentuk kurikulum yang dikonsumsi siswa, memprioritaskan tontonan daripada pemahaman.
Masalah mendasar lainnya adalah Kedaulatan Data dan Privasi. Ketika interaksi siswa (misalnya, watch history, pencarian) terjadi di YouTube, metadata tersebut dikumpulkan oleh perusahaan korporat. Meskipun data ini digunakan AI untuk Learning Analytics yang canggih, institusi pendidikan kehilangan kendali atas di mana data itu disimpan dan bagaimana data tersebut dapat digunakan di masa depan, menimbulkan konflik etika dengan regulasi perlindungan data.
Kerentanan terhadap Perubahan Kebijakan adalah risiko eksistensial. Sebuah video pembelajaran yang mahal dan penting dapat dihapus, didemonetisasi, atau diblokir oleh AI YouTube karena perubahan mendadak dalam Terms of Service (ToS) platform. Ketika YouTube berfungsi sebagai arsip utama konten pembelajaran, penghapusan mendadak ini dapat melumpuhkan kurikulum sekolah secara keseluruhan.
Strategi yang bertanggung jawab harus menekankan Mitigasi Risiko melalui Kurasi Kritis. Guru harus menggunakan AI (Gemini) untuk secara ketat memverifikasi video yang dikurasi, memastikan integritas faktual dan memprioritaskan channel yang transparan dan kredibel. Guru harus bertindak sebagai filter yang melindungi siswa dari noise dan bias algoritmik.
Penciptaan Infrastruktur Hibrida adalah solusi jangka panjang. Sekolah tidak boleh menjadikan YouTube sebagai satu-satunya arsip. Materi ajar penting (misalnya, slide deck Canva, worksheet) harus disimpan di cloud storage institusional (Google Drive, server sekolah). YouTube digunakan hanya sebagai antarmuka distribusi untuk streaming, bukan sebagai bank penyimpanan data utama.
Kesimpulan
Ketergantungan EdTech pada YouTube adalah trade-off antara efisiensi yang tak tertandingi dan risiko hilangnya kontrol. AI telah membuat integrasi ini mulus, tetapi tantangan etika dan siber tetap ada. Masa depan yang berkelanjutan menuntut institusi untuk menggunakan YouTube sebagai alat pengayaan dan distribusi, sambil secara sadar membangun lapisan pertahanan data dan arsitektur konten yang independen di bawah kendali mereka sendiri.