Prompt Engineering untuk Anak: Mengajarkan Keterampilan Bertanya yang Efektif kepada Gemini.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 - Penguasaan Prompt Engineering (PE)—seni memberikan perintah yang efektif kepada Kecerdasan Buatan (AI)—telah menjadi keterampilan literasi dasar baru bagi semua kalangan usia. Bagi anak-anak dan siswa K-12, PE adalah jembatan menuju pembelajaran yang mandiri dan personal. Mengajarkan mereka cara berinteraksi dengan alat seperti Gemini secara efektif tidak hanya sekadar mengajarkan teknologi; ini melatih keterampilan berpikir logis, komunikasi presisi, dan sintesis yang merupakan inti dari SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).
Strategi utama dalam mengajarkan PE kepada anak adalah mengubah permintaan sederhana (query) menjadi instruksi yang terstruktur. Siswa harus memahami bahwa Gemini adalah asisten yang cerdas tetapi membutuhkan panduan yang ketat. Ini adalah transisi dari "Tuliskan tentang ikan paus" menjadi "Bertindak sebagai Ahli Biologi, jelaskan cara kerja paru-paru ikan paus untuk siswa kelas 5, gunakan tiga analogi sederhana."
Pilar pertama dalam pelatihan PE adalah Penetapan Persona (Role Setting). Siswa diajarkan untuk memberi peran pada AI (misalnya, "Bertindak sebagai Profesor yang ramah," "Bertindak sebagai copywriter yang kocak"). Menetapkan persona memungkinkan AI untuk menyesuaikan nada suara, tingkat kosakata, dan style penjelasannya, yang sangat penting untuk engagement dan pemahaman siswa yang lebih muda.
Pilar kedua adalah Definisi Aksi yang Eksplisit. Siswa harus belajar menggunakan kata kerja yang kuat dan spesifik. Mereka harus belajar membedakan antara prompt yang meminta penjelasan ("Jelaskan X") dengan prompt yang menuntut kreasi ("Buatkan kuis tentang X") atau analisis ("Bandingkan X dan Y"). Kejelasan aksi ini memaksimalkan efisiensi AI dan output edukasi.
Pilar ketiga adalah Penentuan Konteks dan Batasan. Siswa dilatih untuk menyertakan batasan yang ketat: tingkat kelas (misalnya, "Jawab dalam tingkat kesulitan SMP"), bahasa (misalnya, "Terjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan dialek [X]"), atau batasan data (misalnya, "Gunakan data historis sebelum tahun 1950"). Ini melatih siswa untuk memahami pentingnya kontekstualisasi dalam riset dan komunikasi.
Penerapan PE secara langsung mendukung SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan). Anak-anak dari latar belakang yang kurang memiliki sumber daya kini dapat mengakses tutor pribadi yang sabar dan canggih hanya dengan perintah lisan atau teks yang efektif. Keterampilan ini mendemokratisasi akses ke bimbingan belajar berkualitas tinggi.
Iterasi dan Refleksi Kritis adalah fase penting dalam pelatihan PE. Siswa diajarkan untuk tidak menerima output pertama dari Gemini. Jika respons AI terlalu sulit atau generik, siswa harus dilatih untuk mengkritik AI: "Jawaban Anda terlalu teknis. Tolong sederhanakan dan gunakan analogi makanan." Proses perbaikan prompt ini melatih keterampilan metakognitif siswa dan pemecahan masalah.
Literasi AI Kritis juga terintegrasi. Dengan menguji output Gemini, siswa belajar tentang hallucination (membuat fakta palsu) dan bias. Guru menggunakan PE untuk menugaskan siswa memverifikasi klaim AI dengan sumber otoritatif (Google Search/Scholar), mengubah AI dari sumber kebenaran menjadi objek yang harus diuji.
Kesimpulan
Menguasai Prompt Engineering adalah keterampilan kunci untuk otoupmenguasai pembelajaran mandiri di era AI. Gemini berfungsi sebagai asisten kognitif yang sangat responsif, tetapi membutuhkan instruksi yang cerdas. Melalui pelatihan PE yang terstruktur, pendidikan memberdayakan siswa untuk menjadi pembelajar otonom yang mampu menggunakan AI secara efektif, etis, dan strategis, mendukung SDG 4 dengan cara yang paling fundamental.