Problem-Based Learning (PBL): Mengangkat Isu Viral ssstiktok (Diterjemahkan AI) sebagai Studi Kasus Masalah di Forum WhatsApp Web.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 8 Nopember 2025 - Problem-Based Learning (PBL) adalah metodologi pengajaran yang membalik alur belajar tradisional. Alih-alih dimulai dengan teori dan diakhiri dengan contoh soal, PBL dimulai dengan masalah dunia nyata yang kompleks dan otentik. Siswa, dalam kelompok kolaboratif, kemudian "menarik" teori dan pengetahuan yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah tersebut.
Tantangan terbesar dalam PBL adalah menemukan "masalah" yang otentik, relevan, dan menarik bagi siswa. Seringkali, studi kasus dalam buku teks terasa kering dan dibuat-buat.
Di sinilah alur kerja EdTech modern—menggunakan ssstiktok, AI Google Translate, dan WhatsApp Web—memberikan solusi yang kuat. Alur kerja ini memungkinkan guru untuk "mengimpor" masalah dunia nyata yang sedang viral secara global, menjadikannya studi kasus instan di forum kelas.
Pergeseran Peran: Dari Materi Ajar ke Pemicu Masalah (Problem Trigger)
Dalam model ini, peran setiap alat berubah secara fundamental:
ssstiktok (Sumber Pemicu Masalah):
TikTok (diunduh via ssstiktok) tidak lagi digunakan sebagai "materi ajar" atau "tutorial". Ia digunakan sebagai "adegan TKP" (crime scene) atau "laporan berita" mentah. Guru mencari video viral yang menunjukkan sebuah masalah—sebuah jembatan yang runtuh, sebuah kampanye pemasaran yang gagal total, sebuah krisis lingkungan, atau sebuah konflik sosial.
AI Google Translate (Jembatan Konteks Masalah):
Seringkali, masalah paling menarik terjadi di negara lain. Video jembatan runtuh mungkin dari Italia, video kampanye gagal dari Korea. AI Google Translate (fitur Transkripsi/Kamera) digunakan untuk menerjemahkan wawancara warga, klip berita, atau teks di layar. Peran AI adalah untuk memastikan siswa memahami konteks penuh dari masalah tersebut, bukan hanya visualnya.
WhatsApp Web (Forum Pemecahan Masalah):
Ini adalah "ruang kerja" atau "forum" PBL. WhatsApp Web bukanlah tempat guru berceramah, melainkan tempat siswa berkolaborasi untuk membedah masalah dan merumuskan solusi.
Alur Kerja PBL Digital dalam 5 Langkah
Mari kita terapkan dalam skenario: Kelas Manajemen atau Sosiologi membahas "Krisis PR (Public Relations)".
Langkah 1: Penyajian Pemicu Masalah (Oleh Guru)
Guru membuka forum WhatsApp Web.
STUDI KASUS PBL: Krisis PR Global
"Selamat pagi. Hari ini kita tidak akan membaca buku teks. Kita akan memecahkan masalah nyata yang terjadi minggu lalu di Prancis."
Pemicu Masalah:
(Video ini, diunduh dari ssstiktok, menunjukkan iklan sebuah brand mewah yang memicu kemarahan publik).
Konteks (Diterjemahkan AI):
"Ini adalah iklan baru mereka. Namun, setelah diluncurkan, terjadi protes besar. Narasi di video (diterjemahkan AI) awalnya bertujuan untuk 'menghormati budaya', tetapi publik (menurut klip berita terpisah) menganggapnya 'menghina' dan 'tidak sensitif'."
Langkah 2: Perumusan Masalah (Oleh Siswa di WA)
Guru kini mundur dan melempar pertanyaan pemandu.
Tugas 1: Rumuskan Masalah (Diskusi Grup)
"Berdasarkan video dan konteks tadi, silakan diskusikan di grup: Menurut kalian, apa masalah UTAMA yang dihadapi brand ini? (Apakah masalah di produknya, di iklannya, atau di timing-nya?)"
Siswa mulai berdiskusi, berdebat, dan merumuskan satu pernyataan masalah inti.
Langkah 3: Investigasi Mandiri (Oleh Siswa, di Luar WA)
Setelah masalah dirumuskan (misal: "Masalahnya adalah pesan iklan tidak sesuai dengan nilai-nilai audiens target"), guru memberi tugas berikutnya.
Tugas 2: Investigasi (Kerja Kelompok)
"Baik, masalah sudah jelas. Sekarang, silakan (secara berkelompok) cari data/teori pendukung. Cari artikel berita lain tentang ini, cari teori Sosiologi tentang 'sensitivitas budaya' dalam iklan. Waktu 24 jam."
Langkah 4: Sintesis & Solusi (Oleh Siswa di WA)
Keesokan harinya, setiap kelompok kembali ke forum WhatsApp Web untuk mempresentasikan solusi mereka.
Tugas 3: Presentasi Solusi
"Silakan setiap kelompok posting 3 paragraf rekomendasi Anda."
Contoh Jawaban Siswa:
"Tim A merekomendasikan: 1. Tarik iklan (sesuai Teori X). 2. Rilis permintaan maaf publik (sesuai Teori Y). 3. Tunjuk konsultan budaya lokal untuk kampanye berikutnya..."
Langkah 5: Debriefing (Oleh Guru)
Setelah semua solusi dipresentasikan, guru akhirnya masuk kembali untuk menutup siklus PBL, menghubungkan solusi siswa dengan teori formal yang ada di kurikulum.
Kesimpulan
Model PBL digital ini secara fundamental mengubah dinamika kelas. ssstiktok menjadi penyedia masalah dunia nyata tanpa batas. AI Google Translate memastikan masalah global dapat diakses. Dan WhatsApp Web menjadi forum yang hidup di mana siswa—bukan guru—melakukan pekerjaan kognitif terberat: menganalisis masalah dan merancang solusi.