Perspektif Guru: Pengalaman Pendidik dalam Menggunakan AI untuk Menyusun Daftar Putar YouTube.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 -Kurasi video edukasi di YouTube dulunya adalah salah satu tugas guru yang paling memakan waktu, sebuah pekerjaan yang penuh dengan scrolling tanpa akhir, mencoba memverifikasi kualitas dan menyusun video secara pedagogis. Pengalaman ini seringkali membuat guru merasa lelah secara digital. Namun, Kecerdasan Buatan (AI) Generatif telah mengubah kurasi dari beban menjadi tugas strategis yang efisien, memungkinkan saya sebagai pendidik untuk berfokus pada desain pembelajaran, bukan pada penggalian data.
Bagi saya, manfaat terbesar AI (seperti ChatGPT atau Gemini) adalah Penghematan Waktu yang Radikal. Saya dapat memberikan prompt yang spesifik ("Buatkan saya daftar putar $90\text{-menit}$ untuk topik [X], bagi menjadi 4 bagian, target audiens kelas 11"), dan AI mengembalikan draf awal dalam hitungan detik. Ini menggantikan proses manual berjam-jam yang sebelumnya saya habiskan hanya untuk mencari keyword yang tepat dan memfilter iklan.
Peran saya bergeser dari pencari data menjadi Auditor Kualitas dan Filter Kritis. AI mungkin cepat, tetapi tidak sempurna; ia dapat merekomendasikan video usang atau menghasilkan judul yang sedikit bias. Saya menghabiskan waktu yang dihemat AI untuk menonton sekilas dan memverifikasi $10\%$ dari video yang direkomendasikan untuk memastikan integritas faktual dan kualitas pedagogis sebelum saya membagikannya kepada siswa.
AI juga sangat membantu dalam Menyusun Struktur Pembelajaran yang Logis. Saya dapat meminta AI untuk mengatur video dalam daftar putar secara sekuensial (misalnya, 'Konsep Dasar' $\rightarrow$ 'Aplikasi' $\rightarrow$ 'Analisis Kritis'). Struktur ini memastikan bahwa siswa menerima informasi dalam urutan yang memaksimalkan pemahaman kognitif, memberikan kerangka kerja yang kuat pada materi yang berserakan di YouTube.
Aspek lain yang sangat berharga adalah Mengatasi Hambatan Bahasa. Saya dapat menggunakan AI untuk menemukan dan menerjemahkan narasi video pembelajaran terbaik dari luar negeri (misalnya, video fisika Jerman atau matematika India) yang sebelumnya tidak dapat saya gunakan. AI memberikan scaffolding linguistik (melalui terjemahan Google Translate) yang memperluas perpustakaan sumber daya saya secara global.
Namun, pengalaman ini menuntut kewaspadaan terhadap Potensi Halusinasi dan Bias AI. Saya harus selalu mengingat bahwa AI adalah mesin statistik. Saya harus secara eksplisit menguji output AI (Gemini) untuk melihat apakah ia merekomendasikan klip yang salah secara faktual atau yang memiliki narasi yang bias. Saya menggunakan prompt lanjutan untuk memaksa AI mengungkapkan sumbernya.
Pembingkaian Pedagogis tetap menjadi tugas manusia yang tak tergantikan. Setelah daftar putar disusun AI, saya harus menambahkan konteks, humor, atau analogi lokal yang hanya dipahami oleh siswa saya. Saya menggunakan AI untuk menuliskan deskripsi untuk daftar putar tersebut, tetapi saya selalu menyuntikkan sentuhan pribadi saya untuk menjaga koneksi emosional dengan siswa. .
Daftar putar yang sudah disempurnakan ini kemudian diintegrasikan ke dalam sistem saya (misalnya, Google Classroom atau WA Web). Saya melengkapinya dengan tugas yang dibuat AI—misalnya, $5$ pertanyaan kuis formatif yang secara langsung terkait dengan video-video di daftar putar tersebut, yang harus dijawab siswa setelah menonton.
Analisis Kinerja Jangka Panjang melengkapi siklus ini. Saya melacak Watch Time dan engagement siswa terhadap daftar putar yang disusun AI. Jika data menunjukkan bahwa satu video tertentu menyebabkan drop-off besar, saya tahu video itu perlu diganti semester depan. Wawasan data ini terus-menerus menginformasikan keputusan kurasi saya.
Kesimpulan
Pengalaman menggunakan AI untuk menyusun daftar putar YouTube telah mengubah peran guru menjadi Arsitek Konten Strategis. AI mengotomatisasi pekerjaan low-level (pencarian dan penstrukturan), membebaskan waktu saya yang berharga. Nilai saya kini terletak pada kecerdasan kurasi, validasi faktual, dan penambahan konteks humanis yang mengubah konten digital yang masif menjadi pengalaman belajar yang efektif dan terukur.