Peran Perpustakaan: Bagaimana Pustakawan Mengintegrasikan Akses Gemini dan AI dalam Sumber Daya Mereka.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 - Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) ke dalam sumber daya perpustakaan telah mengubah peran pustakawan secara fundamental, menggeser fokus dari pengelolaan buku fisik menjadi arsitektur akses pengetahuan digital yang cerdas. Perpustakaan modern menghadapi tantangan untuk membimbing pengguna melalui lautan informasi yang dihasilkan oleh AI Generatif seperti Gemini, di mana kecepatan berlawanan dengan kredibilitas. Pustakawan kini berfungsi sebagai Kurator Data dan Pelatih Literasi AI yang bertanggung jawab.
Peran utama pustakawan saat ini adalah menyediakan Akses Setara terhadap AI Canggih. Mengingat lisensi premium Gemini atau infrastruktur komputasi yang mahal dapat menjadi hambatan ekonomi, perpustakaan bertindak sebagai institusi yang mendemokratisasikan akses ini. Mereka menyediakan stasiun kerja dengan akses gratis ke alat AI berbayar atau koneksi jaringan berkecepatan tinggi, memastikan bahwa semua lapisan masyarakat, terlepas dari status ekonomi, dapat memanfaatkan alat canggih ini—sebuah implementasi langsung dari SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan).
Pustakawan juga berfungsi sebagai Pelatih Prompt Engineering. Ini adalah literasi dasar yang baru. Alih-alih mengajarkan cara mencari buku di katalog, pustakawan kini mengajarkan pengguna cara berbicara dengan AI. Pelatihan ini berfokus pada menyusun prompt yang spesifik, kontekstual, dan etis kepada Gemini untuk menghasilkan output riset atau edukasi yang berkualitas.
Fungsi vital lain adalah Verifikasi Fakta dan Integritas Sumber Daya. Karena Gemini rentan terhadap hallucination (membuat fakta palsu), pustakawan menjadi lapisan validasi yang tak tergantikan. Mereka mengajarkan metode cross-verification—menguji klaim yang dihasilkan AI dengan merujuk ke sumber otoritatif, jurnal peer-reviewed, dan arsip perpustakaan yang terverifikasi, menjaga standar SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).
Pustakawan juga memediasi Navigasi Sumber Daya Hibrida. Ketika pengguna melakukan riset dengan Gemini, AI mungkin hanya memberikan ringkasan. Pustakawan memandu pengguna ke langkah berikutnya: dari ringkasan AI menuju sumber primer yang sebenarnya (PDF jurnal di database berbayar, video YouTube yang dikurasi, atau buku fisik). Mereka memastikan proses riset siswa bersifat holistik. .
Manajemen Etika dan Hak Cipta adalah tanggung jawab moral pustakawan (mendukung SDG 16). Mereka harus melatih pengguna tentang etika atribusi (kapan dan bagaimana mengutip output AI), menghindari plagiarisme kognitif, dan memahami batasan hukum penggunaan aset visual yang dihasilkan AI Generatif.
Pustakawan juga memanfaatkan AI untuk Efisiensi Internal Perpustakaan (SDG 9). Mereka menggunakan AI untuk mengotomatisasi tagging dan katalogisasi data, membantu mengorganisir koleksi digital yang luas, dan bahkan menyediakan layanan referensi otomatis berbasis chatbot.
Kesimpulan
Peran perpustakaan di era AI telah bermutasi menjadi Hub Literasi Digital dan Kredibilitas. Pustakawan berfungsi sebagai kurator data, pelatih PE, dan penjaga etika yang memastikan akses setara (SDG 10) terhadap alat-alat canggih seperti Gemini. Sinergi ini memastikan bahwa AI digunakan secara bertanggung jawab dan strategis, memperkuat peran perpustakaan sebagai institusi sentral dalam pendidikan seumur hidup.