Peran Administrator Jaringan: Keterampilan yang Dibutuhkan untuk Mengelola Proxy yang Didukung AI.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Peran administrator jaringan yang mengelola sistem proxy yang didukung Artificial Intelligence (AI) mengalami pergeseran mendasar dari konfigurasi manual ke manajemen layer kecerdasan buatan. Keterampilan utama adalah kemampuan untuk mengintegrasikan arsitektur AI dan proxy, memastikan alat-alat ini bekerja secara sinergis untuk mengamankan dan mengoptimalkan lalu lintas data. Keahlian dalam mengelola infrastruktur canggih ini sangat penting untuk mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Administrator harus memiliki literasi Artificial Intelligence dan Machine Learning (AI/ML) yang kuat. Ini berarti memahami cara kerja filter adaptif, bagaimana model dilatih, dan bagaimana menginterpretasikan confidence scores yang dihasilkan AI untuk mengurangi false positives (pemblokiran yang salah) pada sumber daya edukasi yang sah.
Keahlian dalam etika data dan kepatuhan privasi adalah keterampilan non-teknis yang paling penting. Administrator adalah garda terdepan yang memastikan AI yang terpasang pada proxy mematuhi regulasi ketat (seperti GDPR), melindungi Informasi Identitas Pribadi (PII) siswa dan menjaga tata kelola yang bertanggung jawab. Ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Administrator membutuhkan keahlian dalam orquestrasi keamanan dan Scripting (misalnya Python) untuk menyesuaikan aturan AI dan proxy melalui Application Programming Interface (API). Mereka harus dapat mengkonfigurasi respons otomatis (automated response) AI terhadap ancaman siber yang terdeteksi.
Keterampilan menerjemahkan kebijakan pedagogis menjadi konfigurasi teknis sangat diperlukan. Administrator harus mampu mengubah keputusan guru atau kurikulum tentang Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) (misalnya, mengizinkan akses ke database riset iklim) menjadi aturan whitelist dan prioritas bandwidth yang akurat. Ini mendukung SDG 4.7 (pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan).
Keterampilan troubleshooting tingkat lanjut adalah mutlak, terutama kemampuan mendiagnosis apakah masalah konektivitas disebabkan oleh kegagalan jaringan atau oleh filter AI yang terlalu agresif. Resolusi yang cepat sangat penting untuk memastikan akses tanpa hambatan, yang mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Administrator harus mahir dalam manajemen vendor dan negosiasi. Mereka bertanggung jawab untuk mengevaluasi lisensi proxy dan fitur keamanan AI yang ditawarkan oleh penyedia yang berbeda, memastikan bahwa sekolah mendapatkan kinerja terbaik dengan biaya yang optimal. Pengelolaan kemitraan yang efektif ini mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Kemampuan untuk mengoptimalkan sumber daya menggunakan laporan AI adalah keterampilan manajemen yang vital. Administrator harus menggunakan data AI untuk mengatur kebijakan caching dan alokasi bandwidth secara dinamis, memaksimalkan efisiensi infrastruktur sekolah. Optimalisasi ini mendukung efisiensi ekonomi.
Keterampilan komunikasi dan pelatihan juga penting. Administrator harus mampu menjelaskan kompleksitas sistem proxy yang didukung AI kepada guru dan staf administrasi, melatih mereka cara melaporkan masalah dan memahami laporan keamanan. Peningkatan kompetensi kolektif ini sejalan dengan SDG 4c (peningkatan kualitas guru).
Pada akhirnya, peran administrator adalah memastikan bahwa teknologi proxy berfungsi sebagai alat pedagogis yang aman dan cerdas, bukan sebagai penghalang. Keahlian mereka menggabungkan keamanan dan pendidikan untuk menjaga lingkungan digital yang mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas secara keseluruhan.