Pengembangan Profesional: Melatih Guru untuk Berinteraksi dengan Alat AI Baru.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 13 Nopember 2025 - Pengembangan profesional (Professional Development/PD) guru di era AI Generatif tidak dapat lagi berfokus pada kesadaran dasar tentang teknologi; PD harus mengarah pada kompetensi praktis dan kepercayaan diri dalam mengintegrasikan alat AI baru. Tujuan utamanya adalah memberdayakan guru untuk melihat AI (seperti ChatGPT atau Gemini) bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai asisten pribadi yang mengotomatisasi pekerjaan padat karya. Program pelatihan harus berfokus pada keterampilan kognitif dan etis yang diperlukan untuk mengorkestrasi kecerdasan buatan.
Titik awal pelatihan adalah Mengatasi Hambatan Psikologis dan Membangun Pola Pikir Adaptif. Guru harus memahami bahwa AI mengambil alih pekerjaan yang berulang (administrasi, drafting), membebaskan waktu mereka untuk tugas yang humanis (empati, bimbingan, fasilitasi). Pelatihan harus menunjukkan bagaimana AI mengurangi burnout dan meningkatkan waktu yang dapat dihabiskan guru untuk interaksi siswa yang bermakna.
Pilar utama PD adalah Penguasaan Prompt Engineering. Ini adalah literasi digital baru yang paling penting. Guru dilatih untuk menyusun prompt yang kompleks dan berlapis (misalnya, menetapkan Persona, Aksi, Konteks, dan Format) untuk menghasilkan output yang spesifik dan berkualitas tinggi. Mereka harus belajar mengarahkan AI untuk membuat Rencana Pelajaran (RPP) yang kontekstual, soal ujian yang menguji pemikiran kritis, dan script video yang efektif.
Keterampilan esensial kedua adalah Literasi AI Kritis dan Audit Fakta. Karena AI rentan terhadap hallucination (membuat fakta palsu) dan bias, pelatihan harus fokus pada verifikasi. Guru dilatih untuk secara cepat memverifikasi silang klaim yang dihasilkan AI (melalui Google Search/Scholar) dan mengidentifikasi bias budaya atau gender dalam output yang akan digunakan sebagai materi ajar. .
Pelatihan harus secara intensif menangani Desain Tugas yang Menjaga Integritas Akademik. PD harus menunjukkan kepada guru cara merancang asesmen yang menuntut sintesis dan data unik (misalnya, wawancara lokal, refleksi pribadi) yang tidak dapat dihasilkan oleh AI. Ini memastikan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu siswa, bukan sebagai pengganti pemikiran.
Aplikasi Praktis dalam Produksi Konten juga harus menjadi fokus. Guru dilatih untuk mengintegrasikan output ChatGPT (naskah) dengan alat visual seperti Canva (untuk slide deck profesional) dan mengelola distribusi materi ajar melalui platform komunikasi (seperti Google Classroom atau WhatsApp Web). Pelatihan harus bersifat hands-on dengan toolkit ini.
Penggunaan AI untuk Learning Analytics dan Personalisasi adalah komponen pelatihan tingkat lanjut. Guru diajarkan cara menggunakan AI (Gemini) untuk menganalisis log diskusi siswa (misalnya, dari WA Web) untuk mendiagnosis miskonsepsi secara kolektif dan merancang intervensi remediasi yang ditargetkan untuk siswa yang berisiko gagal.
Aspek non-teknis namun krusial adalah Pelatihan Etika dan Hukum. PD wajib memberikan panduan yang jelas mengenai batasan plagiarisme AI, pentingnya atribusi, dan protokol keamanan data siswa (PII), terutama saat menggunakan AI untuk analisis data.
PD harus Kolaboratif. Pelatihan harus mendorong guru untuk berbagi prompt yang sukses dan RPP yang telah teruji dalam Professional Learning Communities (PLC). Ini mengubah pengetahuan AI dari informasi individu menjadi aset yang dibagikan oleh komunitas.
Kesimpulan
Pengembangan profesional guru di era AI adalah transformasi peran yang mendasar. Pelatihan harus berfokus pada penguasaan Prompt Engineering, Literasi Kritis, dan Analisis Data yang didukung AI. Ini memberdayakan guru untuk mengalihkan waktu dari pekerjaan mekanis ke strategi, bimbingan etis, dan koneksi humanis dengan siswa, yang merupakan nilai tertinggi dari profesi pendidik.