Pengembangan Keterampilan Soft: Menggunakan ChatGPT untuk Latihan Berpikir Kritis dan Debat.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - ChatGPT adalah alat yang efektif untuk pengembangan keterampilan soft skill esensial, khususnya berpikir kritis dan debat, dengan menyediakan mitra bicara yang responsif, non-judgmental, dan mampu menyajikan argumen tandingan yang logis. Siswa dapat berlatih menyusun argumen, mengidentifikasi kelemahan logika (fallacy), dan merespons kontra-klaim secara instan. Latihan berbasis interaksi ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan keterampilan kognitif tingkat tinggi.
AI dapat memainkan peran advokat iblis yang kuat dalam debat simulasi, secara konsisten menantang asumsi siswa dan memaksa mereka untuk mempertahankan posisi mereka dengan bukti yang lebih kuat. Ketersediaan lawan debat yang selalu siap ini memungkinkan siswa untuk mengasah kemampuan argumentasi mereka tanpa rasa takut atau malu, meningkatkan otonomi belajar.
Latihan debat dapat difokuskan pada isu-isu Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang memiliki banyak sudut pandang yang sah. Siswa dapat berdebat dengan AI tentang trade-off antara pertumbuhan ekonomi (SDG 8) dan pelestarian lingkungan (SDG 15), atau tentang strategi paling efektif untuk mencapai nol kelaparan (SDG 2). Pengintegrasian tema SDGs ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Penggunaan ChatGPT untuk latihan debat dan berpikir kritis mendemokratisasikan akses ke pelatihan soft skill yang biasanya hanya tersedia melalui klub debat eksklusif atau kursus kepemimpinan mahal. Mahasiswa di daerah terpencil atau dengan sumber daya terbatas kini dapat berlatih dengan partner debat canggih. Pemerataan akses ini secara langsung mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Latihan debat dengan AI dapat secara spesifik diarahkan untuk melatih siswa mengidentifikasi dan mengatasi bias kognitif dalam argumen, baik yang muncul dari AI maupun dari diri sendiri. Siswa dapat meminta AI untuk menyajikan argumen yang sarat bias, kemudian bertugas mendekomposisi bias tersebut. Penguatan kesadaran etika ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Keterampilan berpikir kritis dan debat yang diasah melalui AI sangat penting untuk kesiapan kerja. Lulusan yang mahir dalam mengartikulasikan argumen dan menganalisis masalah kompleks akan menjadi tenaga kerja yang lebih produktif dan inovatif. Keterampilan ini relevan untuk banyak pekerjaan di era AI.
AI dapat memberikan umpan balik terperinci setelah sesi debat, menyoroti kekuatan argumen siswa, penggunaan bahasa yang persuasif, dan poin-poin yang terlewatkan. Umpan balik yang instan dan objektif ini mempercepat kurva pembelajaran siswa dalam keterampilan debat.
Guru menggunakan AI untuk merancang skenario debat yang disesuaikan dengan kurikulum, mengatur parameter peran AI, dan memastikan bahwa topik debat relevan dengan konteks kelas. Peran guru bergeser menjadi fasilitator dan validator, yang sejalan dengan peningkatan peran profesional yang dicita-citakan oleh SDG 4c.
Penggunaan AI dalam pelatihan keterampilan soft skill menunjukkan inovasi metodologi pendidikan. Sekolah yang mengadopsi alat ini menunjukkan komitmen untuk membangun infrastruktur yang mendukung pelatihan keterampilan abad ke-21 yang dinamis. Inisiatif teknologi ini sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Pada akhirnya, pelatihan berpikir kritis dan debat yang didukung ChatGPT memberdayakan siswa untuk menjadi komunikator yang efektif, pemikir yang analitis, dan warga global yang mampu berpartisipasi dalam wacana publik secara konstruktif. Pengembangan keterampilan soft skill ini adalah fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).