Model PjBL (Project-Based Learning) Global: Teknologi Pendidikan yang Mengandalkan Riset ssstiktok, Kolaborasi WhatsApp Web, dan Bantuan AI Google Translate.
s2tp.fip.unesa.ac.id. 2 Nopember 2025 - Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) adalah sebuah terobosan pedagogis, menggeser fokus dari menghafal teori menjadi memecahkan masalah dunia nyata. Namun, PjBL seringkali masih terbatas pada konteks lokal—siswa memecahkan masalah di lingkungan sekolah atau kota mereka.
Tantangan berikutnya dalam Teknologi Pendidikan (EdTech) adalah: Bagaimana kita memfasilitasi PjBL Global, di mana siswa dari Indonesia dapat berkolaborasi dengan siswa di Brazil atau Jerman untuk memecahkan masalah bersama (seperti perubahan iklim, polusi mikroplastik, atau disinformasi)?
Secara tradisional, proyek semacam ini gagal karena tiga hambatan besar: biaya platform, perbedaan zona waktu, dan tembok bahasa.
Kabar baiknya adalah, kita tidak lagi memerlukan platform kolaborasi global yang mahal. Dengan merangkai alat-alat gratis yang sudah ada—dan menggunakan AI sebagai fasilitator—kita dapat menciptakan model PjBL global yang gesit dan efektif. Alur kerja ini mengubah peran alat yang kita kenal: ssstiktok menjadi alat riset primer, WhatsApp Web menjadi markas proyek, dan AI Google Translate menjadi juru bahasa kolaboratif.
Pergeseran Peran Alat dalam PjBL Global
Berbeda dengan model "Flipped Classroom" di mana guru adalah pusatnya, dalam PjBL, siswa menjadi agen aktif. Peran alat pun berubah:
ssstiktok: Bukan lagi sekadar "sumber video" yang dikurasi guru. Ini menjadi alat riset kualitatif yang digunakan siswa untuk menemukan "artefak digital" dan studi kasus dari berbagai negara.
WhatsApp Web: Bukan lagi "saluran distribusi" satu arah dari guru ke siswa. Ini menjadi "Markas Proyek" (Project Hub) yang dinamis, tempat siswa berkolaborasi, berbagi file, dan mengelola tugas.
AI Google Translate: Bukan lagi "asisten guru" untuk membuat materi. Ini menjadi alat kolaborasi real-time yang digunakan siswa untuk berkomunikasi dan menerjemahkan temuan riset lintas bahasa.
Fase-Fase Implementasi PjBL Global
Mari kita gunakan studi kasus hipotetis: Proyek "Air Bersih Perkotaan", yang dikerjakan bersama oleh tim siswa di Surabaya (Indonesia) dan Mumbai (India).
Fase 1: Riset & Penemuan Masalah (ssstiktok)
Proyek dimulai dengan siswa mengidentifikasi masalah nyata di komunitas mereka yang memiliki paralel global.
Pengumpulan Data Primer: Siswa di Surabaya menggunakan TikTok untuk mencari tagar seperti #KaliSurabaya atau #PolusiAir. Siswa di Mumbai mencari #MithiRiver atau #WaterPollutionMumbai.
Akuisisi Artefak: Menggunakan ssstiktok, kedua tim mengunduh 5-10 video pendek (wawancara warga, rekaman polusi, liputan berita lokal) yang paling mewakili masalah di kota mereka.
Hasil: Tim kini memiliki "papan bukti" (evidence board) visual yang kaya, menunjukkan masalah yang sama dari dua konteks budaya yang berbeda.
Fase 2: Pembentukan Tim & Markas Digital (WhatsApp Web)
Setelah masalah diidentifikasi, kolaborasi dimulai.
Pembentukan Markas: Guru (sebagai fasilitator) membuat satu grup WhatsApp ("PjBL Air Bersih SBY-MBI") yang berisi anggota tim dari kedua negara.
Pusat Komando: WhatsApp Web menjadi pusat koordinasi. Mengapa?
Asinkron: Sempurna untuk mengelola perbedaan zona waktu (India dan Indonesia berbeda 1,5 jam). Siswa dapat meninggalkan pembaruan kapan saja.
Multimodal: Siswa dapat berbagi teks, foto, dokumen, dan file video (hasil riset ssstiktok) di satu tempat.
Aksesibel: Berjalan dengan low-bandwidth, memastikan siswa di kedua negara dengan kualitas internet berbeda dapat berpartisipasi setara.
Fase 3: Kolaborasi Lintas Bahasa (AI Google Translate)
Ini adalah fase di mana PjBL global biasanya gagal, namun kini menjadi mungkin berkat AI.
Komunikasi Harian: Siswa Surabaya mengetik pembaruan di grup dalam Bahasa Indonesia. Siswa Mumbai menyalin teks itu, menempelkannya ke Google Translate (ID -> EN/Hindi), dan memahami pesannya. Mereka membalas dalam Bahasa Inggris (atau Hindi), dan siswa Surabaya menerjemahkannya kembali. AI Google Translate menjadi penerjemah simultan yang memungkinkan obrolan harian.
Berbagi Temuan Riset: Tim Surabaya menemukan artikel berita lokal penting tentang program bank sampah di bantaran kali. Mereka merangkumnya dalam Bahasa Indonesia dan mengirimkannya ke grup. Tim Mumbai menggunakan Google Translate untuk memahami temuan tersebut.
Analisis Artefak Asing: Tim Mumbai membagikan video (dari ssstiktok) berisi wawancara dengan aktivis lingkungan lokal yang berbicara dalam bahasa Hindi. Tim Surabaya menggunakan fitur "Transkripsi" Google Translate untuk "mendengarkan" audio video tersebut dan mendapatkan terjemahan teksnya.
Fase 4: Produksi Produk Akhir
Sebagai hasil akhir, tim memutuskan untuk membuat video dokumenter komparatif yang mengusulkan solusi bersama.
Kolaborasi Konten: Tim Surabaya membuat segmen video mereka, tim Mumbai membuat segmen mereka.
Alih Bahasa AI: Mereka saling bertukar naskah. AI Google Translate digunakan untuk membuat subtitle (teks film) dalam Bahasa Indonesia, Hindi, dan Bahasa Inggris (sebagai bahasa netral).
Hasil: Produk akhir adalah satu video yang koheren, dibuat oleh tim internasional, yang dapat dipahami oleh komunitas di kedua negara.
Kesimpulan
Model PjBL Global ini mentransformasi pedagogi. Ia menggunakan AI bukan sebagai pengganti guru, tetapi sebagai fasilitator kolaborasi siswa. Alur kerja ssstiktok, WhatsApp Web, dan Google Translate memecahkan tiga hambatan terbesar PjBL global (biaya, platform, dan bahasa) secara bersamaan.
Hasilnya adalah pengalaman belajar yang mendalam di mana siswa tidak hanya belajar tentang masalah global; mereka mengalami kolaborasi global untuk memecahkan masalah tersebut.