Model Pembelajaran Blended Learning Visual: Menggabungkan Sesi Kelas dengan Tugas Video Snaptik yang Diedit di Canva.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 11 Nopember 2025 - Pembelajaran Blended Learning (Pembelajaran Campuran) yang efektif harus secara mulus mengintegrasikan waktu tatap muka (untuk diskusi dan kolaborasi) dengan aktivitas digital mandiri. Model visual ini menantang siswa untuk menguasai keterampilan Abad ke-21 dengan menggabungkan Sesi Kelas (Teori) dengan Tugas Video Pendek (Aplikasi Praktis), menggunakan klip ssstiktok/Snaptik sebagai bahan baku dan Canva sebagai studio produksi yang mudah diakses.
Strategi ini dimulai dengan Pembagian Tugas Pembelajaran yang Jelas. Guru menetapkan bahwa waktu kelas tatap muka akan fokus pada diskusi konseptual, verifikasi fakta, dan pemecahan masalah. Sedangkan tugas di luar kelas (mandiri) akan fokus pada produksi konten, visualisasi, dan aplikasi praktis. Ini memaksimalkan efisiensi kedua mode pembelajaran.
Langkah berikutnya adalah Kurasi Aset Visual untuk Pre-Learning. Sebelum sesi tatap muka, siswa ditugaskan untuk mengkurasi klip ssstiktok/Snaptik yang relevan. Micro-learning ini menjamin siswa memiliki pemahaman awal dan hook visual sebelum masuk ke kelas. Tugas ini memicu pemikiran kontekstual sejak awal.
Fase Tatap Muka digunakan untuk Analisis Kritis dan Teori. Di kelas, guru memfasilitasi diskusi yang menantang pemikiran kritis siswa tentang klip yang telah mereka tonton. Guru menggunakan slide Canva (yang telah didesain untuk menyajikan teori) untuk memverifikasi keakuratan klaim yang ada dalam klip viral, menjembatani kesenjangan antara media dan akademik.
Kemudian, guru beralih ke Penugasan Produksi Konten (PjBL Mikro). Tugas utamanya adalah meminta siswa membuat produk akhir yang bersifat visual. Siswa ditugaskan untuk mengambil teori yang mereka pelajari di kelas dan mengubahnya menjadi video demonstrasi singkat, menggunakan klip ssstiktok/Snaptik yang mereka kurasi sebagai B-roll atau visual evidence.
Canva berfungsi sebagai Studio Produksi Mandiri siswa. Siswa menggunakan Canva untuk mengedit dan membingkai klip yang mereka kumpulkan. Mereka membuat template video vertikal (untuk YouTube Shorts atau Instagram) di Canva, menambahkan teks penjelasan, lower thirds untuk label teknis, dan musik, yang menunjukkan keterampilan komunikasi visual mereka.
Naskah dan Kualitas Komunikasi ditingkatkan dengan bantuan AI. Siswa menggunakan AI (Gemini/ChatGPT) untuk menulis naskah voice-over yang ringkas dan padat untuk video proyek mereka. AI memastikan naskah koheren, tetapi siswa harus merekam suara mereka sendiri, melatih keterampilan komunikasi lisan dan personal.
Pengumpulan dan Publikasi dilakukan di platform yang sesuai. Video hasil editan Canva diunggah ke YouTube (Unlisted atau Public). Guru dapat mengumpulkan tautan YouTube ini dari siswa (misalnya, via Gmail atau WA Web) untuk dinilai.
Asesmen dan Umpan Balik dipermudah oleh AI. Guru menilai video proyek akhir siswa berdasarkan kualitas komunikasi visual dan akurasi teoritis. AI dapat digunakan untuk menganalisis narasi video dan memberikan skor awal berdasarkan rubrik yang spesifik.
Kesimpulan
Model Blended Learning Visual ini mengintegrasikan yang terbaik dari kedua dunia: kelas tatap muka (untuk kedalaman diskusi dan verifikasi) dan pembelajaran mandiri digital (untuk kreativitas dan produksi). Klip ssstiktok/Snaptik menyediakan bahan baku visual yang relevan, sementara Canva berfungsi sebagai alat produksi profesional yang mudah diakses. Strategi ini secara efektif melatih siswa dalam keterampilan abad ke-21 melalui produksi konten yang autentik.