Model Digital Commons: Magister Teknologi Pendidikan Merancang Perpustakaan Sumber Belajar Terdesentralisasi.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 23 Nopember 2025 - Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memimpin perancangan Model Digital Commons, sebuah perpustakaan sumber belajar terdesentralisasi yang memanfaatkan teknologi Blockchain untuk menjamin akses universal dan bebas biaya (Open Educational Resources atau OER). Tujuan utama adalah mengubah konten pendidikan menjadi aset publik yang dikelola komunitas. Inovasi ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Digital Commons didukung oleh DLT (Distributed Ledger Technology) untuk menjamin integritas dan hak kekayaan intelektual (IP) konten. Blockchain mencatat kepengarangan dan lisensi (misalnya, Creative Commons) secara imutabel, melindungi pencipta dari plagiarisme. Hal ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Model ini secara langsung mengatasi kesenjangan sumber daya (SDG 10). Dengan menghilangkan paywalls dan biaya lisensi, Digital Commons membuat konten berkualitas tinggi dapat diakses oleh institusi, guru, dan siswa di seluruh dunia, terutama di negara berkembang.
Tata kelola terdesentralisasi (DAO) adalah inti dari Commons. Lulusan Magister Teknologi Pendidikan merancang mekanisme di mana kontributor (guru, ahli) dapat memvotasi keputusan mengenai kualitas dan kebijakan arsip, menciptakan sistem yang transparan dan self-governing. Hal ini mendukung SDG 17: Partnerships for the Goals.
AI diintegrasikan untuk kurasi dan quality control. AI dapat secara otomatis memverifikasi tag metadata, menilai kualitas teknis, dan merekomendasikan konten yang paling efektif kepada pengguna, meningkatkan efisiensi perpustakaan. Hal ini mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Sistem ini mendorong ekonomi kreator (SDG 8) yang etis. Kontributor dapat menerima reward token atau donasi mikro atas penggunaan konten mereka, memberikan insentif finansial untuk pembuatan materi baru yang teruji efektif.
Digital Commons mempromosikan keberlanjutan lingkungan (SDG 12) dengan secara radikal mengurangi ketergantungan pada pencetakan buku teks fisik dan delivery konten berpemilik yang redundan.
Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memastikan perpustakaan memprioritaskan konten yang berkaitan dengan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), menyediakan tagging dan navigasi khusus untuk sumber daya yang mendukung literasi iklim atau keadilan sosial. Hal ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Pemberdayaan guru (SDG 4c) ditingkatkan karena guru bertransisi dari konsumen menjadi pencipta dan kontributor aktif, dengan hak untuk memodifikasi dan melokalisasi konten sesuai kebutuhan siswa.
Pada akhirnya, peran lulusan Magister Teknologi Pendidikan adalah menciptakan infrastruktur pengetahuan global yang inklusif. Desain yang terbuka dan terdesentralisasi ini menjamin aksesibilitas materi bagi semua, termasuk kelompok rentan (SDG 4.5 (Inklusivitas/Vulnerable Groups)).