Model CIPP (Context, Input, Process, Product) dalam Evaluasi Kurikulum oleh Spesialis Magister Teknologi Pendidikan.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 23 Nopember 2025 - Model CIPP (Context, Input, Process, Product) adalah kerangka evaluasi komprehensif yang diajarkan dan diterapkan oleh lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan. Model ini memastikan bahwa keputusan kurikulum didasarkan pada bukti empiris yang dikumpulkan secara sistematis melalui empat fase evaluasi yang ketat. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan menggunakan CIPP sebagai tool untuk menjamin akuntabilitas, efektivitas, dan adaptasi kurikulum. Penggunaan model CIPP sangat penting untuk evaluasi EdTech yang kompleks.
Fase pertama adalah Evaluasi Konteks (Context Evaluation), yang bertujuan untuk menentukan kebutuhan dan tujuan kurikulum. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan menilai lingkungan belajar, masalah siswa yang ada, dan standar industri yang relevan. Fase ini menjawab pertanyaan apa yang perlu dilakukan, memberikan justifikasi yang kuat untuk tujuan kurikulum yang baru. Analisis kebutuhan ini adalah fondasi etis dan pedagogis untuk seluruh desain.
Untuk Evaluasi Konteks, lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan memanfaatkan data analisis AI. Mereka menggunakan Gemini AI untuk menganalisis data kinerja siswa historis dan tren industri untuk mengidentifikasi celah kompetensi yang harus diatasi. Analisis berbasis data ini memastikan bahwa tujuan kurikulum yang ditetapkan realistis, terukur, dan relevan dengan pasar kerja. Ini mengubah penentuan tujuan dari intuisi menjadi ilmu.
Fase kedua adalah Evaluasi Input (Input Evaluation), yang menilai sumber daya yang tersedia untuk melaksanakan kurikulum. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan mengevaluasi strategi yang diusulkan, anggaran, dan yang terpenting, kesiapan teknologi guru dan siswa. Mereka memastikan bahwa tool dan platform yang dibutuhkan (seperti platform LMS dan tool AI) sudah memadai. Fase ini menjawab pertanyaan bagaimana melakukannya dan apakah kita mampu melakukannya.
Fase ketiga adalah Evaluasi Proses (Process Evaluation), yang memantau pelaksanaan kurikulum di lapangan. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan berfokus pada pengukuran Fidelity Implementasi—sejauh mana guru menerapkan model pembelajaran sesuai rencana. Mereka menggunakan tool learning analytics untuk melacak aktivitas online guru dan siswa. Fase ini menjawab pertanyaan apakah kita melakukannya dengan benar, memungkinkan koreksi segera jika terjadi penyimpangan.
Untuk memonitor Proses, lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan menggunakan Gemini untuk menganalisis log LMS dan engagement metrics secara real-time. Gemini dapat mengidentifikasi penurunan mendadak dalam partisipasi siswa atau bottleneck teknis. Analisis cepat AI ini memungkinkan just-in-time intervention pada implementasi, mencegah kegagalan yang meluas.
Fase keempat adalah Evaluasi Produk (Product Evaluation), yang menilai hasil dan dampak kurikulum terhadap pencapaian tujuan. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan mengukur hasil jangka pendek (skor tes) dan hasil jangka panjang (kualitas output proyek, tingkat serapan lulusan). Fase ini menjawab pertanyaan apakah program ini berhasil.
Evaluasi Produk mengharuskan lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan melakukan asesmen dual, mensintesis data kuantitatif (skor, engagement rate) dengan data kualitatif (analisis sentimen feedback siswa). Sintesis ini memberikan pemahaman yang holistik, menjelaskan bagaimana dan mengapa kurikulum menghasilkan hasil tersebut.
Penggunaan model CIPP memastikan bahwa evaluasi kurikulum bersifat sistematis dan mendorong perbaikan berkelanjutan. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan memastikan bahwa temuan di setiap fase CIPP (Context, Input, Process, Product) diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti. Rekomendasi ini memicu siklus perbaikan kurikulum yang baru.
Penerapan model CIPP oleh lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan sangat penting untuk akuntabilitas institusi. Evaluasi yang ketat ini menjamin kurikulum tidak hanya efektif secara pedagogis, tetapi juga efisien secara sumber daya. Model ini mendukung Pencapaian Pendidikan Berkualitas (SDG 4) dengan memastikan pendidikan tinggi menghasilkan hasil yang terukur dan valid.