Model Bahasa Khusus: Pengembangan Model ChatGPT yang Dioptimalkan untuk Teknologi Pendidikan Indonesia.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 13 Nopember 2025 - Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLMs) global seperti ChatGPT dan Gemini telah merevolusi sektor pendidikan, namun efektivitasnya di Indonesia seringkali terhambat oleh masalah kontekstual dan linguistik. Model-model ini dilatih pada data global yang luas, yang berarti mereka kekurangan kedalaman pemahaman kurikulum nasional, referensi sejarah lokal, dan nuansa bahasa Indonesia yang kompleks. Mengatasi keterbatasan ini menuntut strategi pengembangan model AI khusus yang dioptimalkan untuk kebutuhan Teknologi Pendidikan (EdTech) Indonesia.
Masalah utama dari model AI generik adalah Ketidaksesuaian Kontekstual Kurikulum. ChatGPT dapat membuat Rencana Pelajaran (RPP) yang logis, tetapi sering gagal menyertakan referensi wajib dari Kementerian Pendidikan atau mengaitkan konsep sains dengan studi kasus lokal (misalnya, masalah lingkungan spesifik di Kalimantan atau Jawa). Pengembangan model khusus akan memungkinkan AI menghasilkan output yang secara default mematuhi standar Taksonomi Bloom yang diinginkan guru dan mengintegrasikan sumber daya Indonesia yang relevan.
Tantangan kedua adalah Kompleksitas Linguistik. Bahasa Indonesia memiliki variasi formal, informal, dan fenomena code-switching (percampuran bahasa) yang umum dalam komunikasi siswa (misalnya, di WhatsApp Web). Model khusus dapat dilatih secara spesifik untuk memahami dan memproses nuansa ini, menghasilkan terjemahan dan respons yang terasa lebih alami dan tidak kaku dibandingkan terjemahan out-of-the-box dari model global.
Solusi teknis untuk optimasi ini terletak pada Fine-Tuning dan Data Lokal yang Terkurasi. Institusi riset dan universitas harus berkolaborasi untuk melatih ulang (fine-tune) arsitektur LLM dasar menggunakan dataset yang sangat spesifik: RPP yang sudah disetujui, buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah Indonesia, transkrip ceramah dosen lokal, dan log komunikasi siswa yang sudah dianonimkan. Kekayaan data lokal ini adalah yang akan menyuntikkan kecerdasan kontekstual ke dalam model.
Optimalisasi Kurikulum adalah hasil langsung dari fine-tuning. AI yang dioptimalkan akan mampu menghasilkan soal ujian yang tidak hanya benar, tetapi juga relevan secara budaya, dan secara otomatis menyarankan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekolah Indonesia (misalnya, menggunakan bahan lokal untuk eksperimen sains).
Pengembangan model khusus juga sangat penting untuk Integrasi Bahasa Lokal dan Kesetaraan Akses. Model yang dioptimalkan dapat memperluas dukungan bahasa ke bahasa daerah (Jawa, Sunda, Batak, dll.) dengan akurasi yang lebih tinggi daripada model global. Ini akan secara signifikan menyempitkan Kesenjangan AI Digital bagi siswa di daerah yang bahasa pengantar utamanya mungkin bukan Bahasa Indonesia standar, mendorong inklusivitas.
Aspek Kedaulatan Data dan Privasi juga diuntungkan. Dengan mengembangkan model lokal (on-premise atau di bawah yurisdiksi nasional), institusi dapat mematuhi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dengan lebih mudah. Ini memastikan bahwa data siswa yang sensitif untuk Learning Analytics tidak pernah keluar dari server yang dikontrol oleh sekolah atau negara.
Pemerintah dan institusi pendidikan tinggi memiliki peran penting sebagai fasilitator data. Kolaborasi harus didorong untuk membangun repository data akademik yang aman dan etis untuk pelatihan AI, memastikan bahwa ekosistem EdTech didukung oleh AI yang paling relevan dengan kebutuhan pembelajaran nasional.
Aplikasi praktis dari model lokal ini mencakup Produksi Aset Belajar yang Lebih Baik. AI yang dioptimalkan akan menghasilkan naskah video YouTube yang menggunakan analogi yang hanya dimengerti audiens Indonesia dan draf email yang nadanya sesuai dengan profesionalisme lokal, membuat komunikasi EdTech lebih efektif.
Kesimpulan
Pengembangan Model Bahasa Khusus yang dioptimalkan untuk Teknologi Pendidikan Indonesia adalah keniscayaan strategis. Ini adalah langkah maju dari sekadar menggunakan AI Generatif menuju menguasai AI Generatif. Model lokal menyelesaikan masalah kontekstual dan linguistik yang gagal diatasi oleh model global, menjamin bahwa alat AI yang digunakan di ruang kelas mampu menghasilkan materi ajar yang akurat, relevan secara kurikulum, dan etis dalam perlindungan data.