Mengubah Peran Guru: Dari Pengajar Menjadi Kurator Konten AI (ssstiktok, Google Translate) di Platform WhatsApp Web.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 2 Nopember 2025 - Selama satu abad, model pendidikan kita berpusat pada satu figur: guru sebagai "Pengajar". Dalam model ini, guru adalah sumber utama pengetahuan, sang "sage on the stage" yang bertugas menuangkan informasi dari kurikulum tetap ke dalam benak siswa. Ruang kelas adalah lingkungan yang terkendali, dan buku teks adalah otoritas utamanya.
Peran ini sekarang sedang mengalami transformasi fundamental, yang didorong oleh dua kekuatan besar: ledakan informasi global dan ketersediaan Kecerdasan Buatan (AI).
Di era baru ini, informasi tidak lagi langka; informasi ada di mana-mana, melimpah, dan seringkali gratis. Tantangannya bukan lagi "bagaimana menyampaikan informasi," melainkan "informasi mana yang benar, relevan, dan bermakna?"
Inilah pergeseran peran terbesar dalam dunia pendidikan: dari Pengajar menjadi Kurator Konten Bertenaga AI. Dan ekosistem untuk kurasi ini secara mengejutkan tidak mahal atau rumit; ia terbangun dari alat-alat yang sudah ada di saku kita.
Alur Kerja Guru Model Lama (Pengajar)
Alur kerja seorang "Pengajar" bersifat linier dan terpusat pada guru:
Merancang: Guru membaca buku teks dan menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
Membuat: Guru membuat slide presentasi dan lembar kerja dari awal.
Menyampaikan: Guru berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi (ceramah).
Mengevaluasi: Guru memberikan kuis berdasarkan apa yang telah ia sampaikan. Kelemahan: Model ini lambat, terbatas pada pengetahuan guru, dan seringkali terputus dari dunia nyata siswa.
Alur Kerja Guru Model Baru (Kurator AI)
Peran "Kurator" sangat berbeda. Seorang kurator museum tidak melukis semua lukisan; ia berburu, menyeleksi, membingkai, dan menceritakan kisah di balik karya-karya terbaik dunia. Seperti itulah guru modern.
Alur kerja seorang "Kurator AI" bersifat dinamis dan terdesentralisasi:
1. Berburu Aset Global (Menggunakan ssstiktok)
Guru tidak lagi membuat semua materi visual. Ia berburu materi terbaik di "perpustakaan global" terbesar: platform video seperti TikTok. Ia mencari studi kasus 30 detik yang nyata, demonstrasi sains yang viral, atau klip sejarah langka.
Alat seperti ssstiktok adalah "sarung tangan kurator"—memungkinkannya mengambil artefak digital ini (file MP4) untuk dipamerkan di "galeri" kelasnya.
2. Memproses Aset (Menggunakan AI Google Translate)
Di sinilah peran AI menjadi krusial. Seringkali, aset terbaik (video) terkunci dalam bahasa asing (Mandarin, Spanyol, Jerman). Dulu, ini adalah tembok penghalang. Sekarang, ini adalah peluang.
AI Google Translate bertindak sebagai "asisten kurator" pribadi guru:
Ia "mendengarkan" video melalui fitur Transkripsi dan memberikan draf terjemahan naskah.
Ia "melihat" teks di layar video melalui fitur Kamera dan menerjemahkannya.
AI mengambil alih tugas berat alih bahasa, membebaskan guru untuk melakukan pekerjaan yang lebih penting.
3. Membingkai & Memberi Konteks (Peran Manusia yang Tak Tergantikan)
Ini adalah inti dari kurasi. AI hanya memberikan terjemahan mentah. Gurulah yang memberikan kontekstualisasi.
Guru mengambil video dan draf terjemahan AI, lalu menulis "plakat galeri"—teks penjelasan yang menghubungkan video viral tersebut dengan kurikulum.
"Video dari kreator di Jepang ini adalah contoh sempurna dari konsep 'Kaizen' yang kita bahas..."
"Perhatikan bagaimana fisikawan di Jerman ini mendemonstrasikan... Ini terkait dengan rumus..."
Inilah keahlian pedagogis yang tidak bisa digantikan AI: menghubungkan titik-titik, memberi makna, dan memantik rasa ingin tahu.
4. Memamerkan & Memfasilitasi (di Platform WhatsApp Web)
Akhirnya, sang kurator memamerkan karyanya. "Galeri" pameran yang paling efektif bukanlah LMS yang rumit, melainkan platform tempat siswa sudah berkumpul: WhatsApp Web.
Guru mengirimkan "paket pameran" ini—file video (dari ssstiktok) dan teks konteks (hasil sintesis guru + AI)—ke grup kelas. Pameran ini tidak statis; guru langsung melanjutkannya dengan satu pertanyaan pemantik, mengubah platform dari sekadar "distribusi" menjadi "ruang diskusi".
Kesimpulan: Peran Guru Menjadi Lebih Penting, Bukan Berkurang
Pergeseran dari "Pengajar" menjadi "Kurator AI" tidak mengurangi nilai seorang guru; justru sebaliknya, ini meningkatkan nilainya.
Pekerjaan mekanis (membuat slide dasar, menerjemahkan) kini dapat dibantu AI. Ini membebaskan waktu dan energi guru untuk fokus pada tugas-tugas yang paling manusiawi dan berdampak besar:
Menjadi kurator yang jeli.
Menjadi penulis konteks yang andal.
Menjadi fasilitator diskusi yang berempati.
Menjadi pembimbing yang menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata.
Di era baru ini, guru bukanlah lagi penyampai informasi, melainkan arsitek pengalaman belajar.