Mengubah Peran Guru: Dari Pengajar ke Kurator Media (ssstiktok/Snaptik) dan Desainer (Canva).
s2tp.fip.unesa.ac.id, 11 Nopember 2025 - Peran guru di era digital telah mengalami pergeseran seismik, menjauh dari model tradisional "Penyampai Materi" (Sage on the Stage) menuju peran yang lebih dinamis. Guru modern dituntut untuk menjadi Kurator Media dan Desainer Visual, yang berarti kemampuan mereka diukur bukan dari pengetahuan yang mereka simpan, tetapi dari kemampuan mereka untuk mengidentifikasi, memverifikasi, dan menyajikan pengetahuan yang melimpah secara menarik. Transformasi ini didorong oleh ketersediaan konten visual viral (ssstiktok/Snaptik) dan alat desain yang didukung AI (Canva).
Perubahan peran ini dimulai dengan Strategi Kurasi Konten yang Baru. Guru tidak lagi menghabiskan waktu untuk membuat slide deck statis yang berisiko membosankan siswa. Sebaliknya, mereka berinvestasi pada riset cepat untuk menemukan video pendek viral (diunduh via ssstiktok/Snaptik) yang secara visual dan menarik mendemonstrasikan satu konsep inti. Klip ini, yang akrab dengan literasi visual siswa, berfungsi sebagai visual hook yang kuat untuk menarik perhatian siswa di menit-menit pertama pembelajaran.
Langkah krusial berikutnya adalah Verifikasi dan Pembingkaian Kritis terhadap konten yang dikurasi. Karena klip viral rentan terhadap misinformasi atau bias, guru menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) Generatif (Gemini/ChatGPT) sebagai filter. AI membantu guru memverifikasi fakta dan mengubah narasi klip (yang awalnya untuk hiburan) menjadi narasi edukatif kritis yang menjelaskan mengapa klip tersebut relevan secara akademis. Guru harus menjadi auditor konten yang cermat.
Setelah konten diverifikasi, peran guru beralih menjadi Desainer Visual. Canva menjadi studio desain mereka. Canva memungkinkan guru untuk membingkai klip yang sudah diverifikasi tersebut. Klip video (dari ssstiktok) disisipkan ke dalam slide Canva, dikelilingi oleh teks instruksional yang ringkas dan on-brand, mengubah klip pasif menjadi aset analisis aktif. Proses desain ini sepenuhnya diotomatisasi.
Guru sebagai Desainer juga bertanggung jawab atas Konsistensi Merek dan Visual. Menggunakan Brand Kit Canva (yang telah ditetapkan dengan warna dan font yang konsisten), guru memastikan bahwa setiap slide, worksheet, atau thumbnail YouTube yang dibuat terlihat profesional, seragam, dan kredibel. Konsistensi visual ini adalah kunci untuk membangun otoritas di mata siswa dan orang tua.
Aspek lain dari peran desain adalah Adaptasi Format Cepat. Guru harus mampu mendaur ulang satu aset ke berbagai format. Misalnya, slide deck Canva dapat dengan cepat diubah menjadi infografis (untuk WA Web) atau thumbnail (untuk YouTube Shorts) menggunakan fitur Magic Resize atau alat AI lainnya di Canva, memaksimalkan penggunaan aset.
Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual kini menjadi mulus. Guru memutar klip ssstiktok yang dibingkai Canva, dan langsung memfasilitasi diskusi yang menantang pemikiran kritis, menghubungkan fenomena viral dengan teori akademik. Guru tidak lagi berjuang untuk membuat teori relevan; klip ssstiktok sudah melakukannya.
Pergeseran peran ini juga memengaruhi manajemen waktu guru. Guru memangkas waktu produksi konten manual (pekerjaan low-level) dan menginvestasikan waktu yang dihemat tersebut untuk tugas bernilai tinggi seperti bimbingan pribadi, analisis Learning Analytics (menggunakan AI), dan interaksi emosional yang otentik dengan siswa.
Etika dan Literasi Digital adalah tanggung jawab tambahan dari peran kurator. Guru harus secara eksplisit mengajarkan siswa cara mengevaluasi konten ssstiktok dan mengkritik bias AI. Guru menjadi role model yang menunjukkan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Kesimpulan
Transformasi peran guru menjadi Kurator Media dan Desainer Visual adalah sebuah keniscayaan. Guru menggunakan ssstiktok sebagai aset visual yang relevan dan Canva sebagai studio desain yang efisien dan profesional. AI mendukung proses ini dengan menyediakan verifikasi dan otomasi desain, memungkinkan guru untuk fokus pada tugas-tugas kritis manusiawi: curation, contextualization, dan facilitation yang mendalam.