Menghadapi Deepfake: AI pada Proxy untuk Menyaring Media Generatif yang Menyesatkan dalam Pendidikan.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Integrasi Artificial Intelligence (AI) pada proxy server adalah strategi pertahanan penting untuk menyaring media deepfake (pemalsuan mendalam) dan konten generatif yang menyesatkan dari jaringan pendidikan. Ancaman deepfake berupa video, audio, atau gambar yang dimanipulasi realistis dapat digunakan untuk disinformasi akademik, perundungan, atau penipuan. Proxy yang didukung AI menggunakan machine learning untuk menganalisis anomali visual dan auditori, melindungi siswa dari konten berbahaya. Penguatan keamanan siber ini secara fundamental mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan membangun pertahanan digital yang adaptif.
Ancaman deepfake dan konten generatif yang disebarkan untuk tujuan disinformasi secara langsung mengancam integritas informasi dan mutu pendidikan. Proxy cerdas bertindak sebagai gatekeeper untuk memastikan bahwa sumber daya yang diakses siswa dapat dipercaya. Perlindungan terhadap disinformasi ini sangat vital untuk mencapai SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Deepfake dapat digunakan sebagai alat untuk perundungan siber yang parah atau pelecehan, terutama di kalangan siswa rentan. Proxy yang memiliki kemampuan deteksi media generatif membantu melindungi kesejahteraan psikologis dan fisik siswa. Pengawasan proaktif terhadap ancaman etika ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh melalui tata kelola digital yang aman.
Filter deepfake berbasis AI harus mampu menganalisis konteks konten. Misalnya, AI harus memblokir video yang memalsukan tokoh politik atau akademisi untuk menyebarkan disinformasi (terkait dengan SDGs) sambil tetap mengizinkan akses ke video yang sah tentang kebijakan lingkungan (SDG 13). Pengawasan yang nuansial ini mendukung komitmen SDG 4.7.
Penerapan proxy dengan kemampuan deteksi deepfake yang canggih membantu mengurangi risiko keamanan dan menjaga integritas data sekolah. Serangan ransomware sering kali diawali dengan malware yang dikirim melalui media yang menyesatkan. Pencegahan dini ini sangat penting.
Penggunaan teknologi deepfake menciptakan ketidaksetaraan baru dalam literasi media; siswa yang tidak diajarkan cara mengidentifikasi deepfake lebih rentan terhadap manipulasi. Proxy yang memblokulasi konten menyesatkan melindungi semua siswa secara merata. Upaya keamanan ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Guru harus dilatih untuk menggunakan deepfake yang sah untuk tujuan pendidikan (misalnya, simulasi sejarah) dan pada saat yang sama, mengajarkan siswa cara mengidentifikasi pemalsuan berbahaya. Proxy membantu dalam pelatihan ini dengan memblokir konten berbahaya tetapi mengizinkan materi edukatif yang disetujui. Peningkatan kompetensi guru ini sejalan dengan SDG 4c.
Melindungi jaringan dari konten menyesatkan mendukung kolaborasi penelitian yang jujur. Proyek siswa yang melibatkan analisis data global (misalnya tentang kesehatan masyarakat, SDG 3) harus dilindungi dari penyisipan data atau narasi palsu yang dihasilkan AI. Keamanan kolaborasi ini mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Investasi dalam teknologi deepfake dan filter cerdas ini menunjukkan komitmen sekolah untuk membangun infrastruktur digital yang adaptif dan siap menghadapi tantangan teknologi di masa depan, yang merupakan karakteristik dari institusi yang inovatif.
Pada akhirnya, peran proxy dalam menyaring media generatif menyesatkan adalah tentang menjaga kebenaran di ruang digital. Dengan melindungi siswa dari manipulasi dan disinformasi, teknologi ini memastikan pendidikan menghasilkan warga negara yang kritis dan etis, yang merupakan fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).