Mengembangkan Kurikulum AI: Mengajarkan Konsep Model Bahasa Besar (Gemini) dalam Mata Pelajaran Komputer.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 - Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) Generatif ke dalam kurikulum mata pelajaran Komputer adalah keharusan strategis, melampaui pengajaran tentang komputer ke pengajaran tentang kecerdasan. Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLMs) seperti Gemini, yang menjadi inti dari AI modern, harus diajarkan tidak hanya sebagai alat, tetapi sebagai objek studi yang esensial. Kurikulum ini secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan memastikan siswa menguasai kompetensi digital terkini.
Kurikulum AI dimulai dengan Pemahaman Konseptual Dasar LLMs. Siswa perlu mempelajari arsitektur Transformer yang mendasari Gemini dan ChatGPT—yaitu, bagaimana model ini memproses urutan data dan menggunakan mekanisme Attention untuk memprioritaskan kata-kata yang relevan. Pengajaran harus menggunakan analogi sederhana (misalnya, membandingkan LLM dengan perpustakaan cerdas yang memahami konteks) untuk mengatasi kompleksitas teknis.
Fase krusial kedua adalah Pemahaman Data Pelatihan dan Bias Algoritmik. Siswa harus tahu bahwa LLMs adalah sistem statistik yang bekerja berdasarkan probabilitas dan dilatih pada Big Data internet. Kurikulum harus secara eksplisit membahas etika data dan bias. Siswa belajar bahwa output AI mencerminkan ketidaksetaraan yang ada dalam data pelatihan, sebuah diskusi penting yang mendukung SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan).
Keterampilan Praktis: Prompt Engineering Tingkat Lanjut adalah komponen wajib. Siswa dilatih untuk menganggap prompt sebagai kode, memahami bahwa kualitas input menentukan kualitas output. Kurikulum harus mencakup teknik prompt yang menantang Gemini untuk menghasilkan output yang terstruktur, kreatif, dan spesifik (menggunakan persona, konteks, dan batasan).
Integrasi Kemampuan Multimodal Gemini menjadi studi kasus penting. Siswa belajar bagaimana Gemini dapat memproses input ganda (gambar, teks, kode) secara simultan, yang melampaui model berbasis teks murni. Kurikulum harus menugaskan proyek di mana siswa menggunakan Gemini untuk menganalisis kode atau diagram (input visual) dan menghasilkan narasi (output tekstual), melatih pemikiran komputasi yang terintegrasi.
Asesmen dalam kurikulum AI harus fokus pada Verifikasi Kritis dan Audit Fakta. Siswa ditugaskan untuk menguji output Gemini. Mereka harus menggunakan AI lain (misalnya, Google Search) untuk memverifikasi silang klaim faktual dan debugging kode yang dihasilkan AI. Kemampuan untuk mengaudit hallucination AI adalah keterampilan literasi AI yang fundamental.
Aplikasi Etika dan Dampak Sosial adalah tema sentral. Kurikulum harus mencakup diskusi tentang tanggung jawab AI dalam konteks masyarakat (misalnya, deepfake, masa depan pekerjaan). Siswa harus merumuskan kebijakan penggunaan AI (misalnya, di Canva atau YouTube) yang menjunjung SDG 16 (Institusi yang Kuat).
Kesimpulan
Mengembangkan kurikulum AI yang mengajarkan konsep LLMs (Gemini) adalah investasi yang diperlukan untuk SDG 4. Kurikulum harus bersifat holistik, mengajarkan konsep teknis (arsitektur Transformer), keterampilan praktis (Prompt Engineering), dan kesadaran etika (bias data). Sinergi ini memastikan siswa tidak hanya menggunakan AI, tetapi juga memahami mekanisme mendasarinya, mengubah mereka menjadi pengembang dan warga digital yang bertanggung jawab.