Mengatasi Geoblocking: Proxy dalam Memungkinkan Akses ke Sumber Belajar Global yang Dibatasi.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Proxy server adalah alat Teknologi Pendidikan (EdTech) yang penting untuk mengatasi geoblocking, yaitu pembatasan akses ke konten online berdasarkan lokasi geografis pengguna. Dengan mengalihkan koneksi siswa melalui server yang berada di negara lain, proxy memungkinkan akses ke jurnal akademik, video edukasi, platform simulasi, atau repositori data yang secara regional dibatasi. Kemampuan proxy untuk menjembatani hambatan geografis ini sangat mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memperluas jangkauan sumber belajar.
Geoblocking sering menghambat akses siswa dari negara berkembang ke sumber daya pengetahuan premium yang di-hosting di negara maju. Proxy memungkinkan siswa mengakses basis data penelitian global yang relevan dengan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), seperti data kesehatan terbaru (SDG 3) atau inovasi pertanian berkelanjutan (SDG 2), yang merupakan prasyarat untuk penelitian yang mendalam.
Dengan membuka akses ke perpustakaan digital dan kursus online (MOOCs) yang dibatasi secara geografis, proxy secara fundamental mendemokratisasikan akses ke pendidikan tinggi dan pelatihan profesional. Alat ini membantu mengurangi kesenjangan pengetahuan yang disebabkan oleh batasan lisensi regional. Pemerataan akses ini secara langsung mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Proxy sangat berguna untuk penelitian yang menuntut perbandingan regional dalam konteks SDGs. Siswa dapat mengakses dan menganalisis data ekonomi atau lingkungan dari berbagai negara untuk memahami tantangan dan solusi di berbagai wilayah, yang memperkaya pemahaman mereka tentang SDG 4.7.
Penggunaan proxy untuk mengatasi geoblocking harus diatur oleh kebijakan etika dan hukum yang jelas. Sekolah harus memastikan bahwa akses yang diberikan sah dan tidak melanggar hak cipta atau perjanjian lisensi penyedia konten. Pengawasan etika ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh melalui praktik digital yang bertanggung jawab.
Kemampuan proxy untuk membuka akses ke alat-alat inovatif yang mungkin hanya tersedia di yurisdiksi tertentu, seperti platform coding canggih atau alat visualisasi data, mendorong eksplorasi teknologi dan inovasi di kalangan siswa. Pemanfaatan teknologi ini sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Penyediaan akses ke sumber daya global yang komprehensif mendukung kolaborasi dan kemitraan penelitian antar siswa dari berbagai negara. Dengan mengakses sumber data yang sama, kolaborasi pada proyek bersama menjadi lebih mudah dan efektif. Kerjasama akademik ini mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Bagi pembelajaran bahasa asing, proxy memungkinkan siswa mengakses materi media, siaran, atau platform komunikasi dalam bahasa target yang mungkin diblokir secara regional. Akses ke konten otentik ini sangat penting untuk penguasaan bahasa dan pemahaman budaya.
Tantangan infrastruktur ini menyoroti perlunya pelatihan guru tentang bagaimana menggunakan proxy secara aman dan bagaimana mengintegrasikan sumber daya global yang beragam ke dalam kurikulum mereka. Peningkatan kompetensi guru ini sejalan dengan tujuan SDG 4c (peningkatan kualitas guru).
Pada akhirnya, proxy server adalah katalisator globalisasi pendidikan. Dengan meruntuhkan tembok virtual geoblocking, teknologi ini memastikan bahwa pengetahuan adalah milik bersama, memberdayakan siswa untuk menjadi warga global yang terinformasi dan siap menghadapi tantangan dunia, yang merupakan fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).