Menciptakan Bot Edukasi: Guru Membuat Chatbot Khusus Bidang Studi dengan Kemampuan Gemini.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 - MTransformasi peran guru di era Teknologi Pendidikan (EdTech) melibatkan transisi dari penyampai informasi menjadi Desainer Pengalaman Pembelajaran. Alih-alih menjawab pertanyaan yang sama berulang kali, guru kini dapat memanfaatkan Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLMs) seperti Gemini untuk menciptakan chatbot pendidikan yang sangat spesifik dan cerdas. Chatbot ini berfungsi sebagai tutor digital yang tersedia $24/7$ yang dikuratori oleh guru, berfokus pada satu bidang studi tertentu (misalnya, Bot Fisika Kuantum atau Bot Sejarah Lokal).
Kemampuan Gemini memungkinkan guru untuk melatih AI pada corpus Kurikulum Spesifik. Guru dapat memasukkan semua materi ajar mereka (catatan kuliah, textbook yang direkomendasikan, log pertanyaan siswa sebelumnya) ke dalam Gemini. AI kemudian dilatih untuk memprioritaskan informasi ini, memastikan bahwa semua respons chatbot konsisten dengan standar pedagogis dan kurikulum yang ditetapkan sekolah.
Bot yang dibuat oleh guru ini jauh lebih unggul daripada Gemini versi umum karena ia dapat memberikan Respon yang Sangat Kontekstual. Misalnya, chatbot Sejarah lokal yang dilatih pada materi tentang Perang Dunia II di Indonesia akan memberikan contoh dan studi kasus yang relevan dengan konteks nasional, alih-alih memberikan jawaban generik yang berpusat pada Eropa. Personalisasi kontekstual ini sangat penting untuk meningkatkan pemahaman siswa.
Pemanfaatan chatbot ini secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Chatbot bertindak sebagai asisten scaffolding (bantuan) yang tak pernah lelah, menjawab pertanyaan fundamental dan memberikan klarifikasi konsep, membebaskan guru dari pekerjaan instruksional low-level. Ini memungkinkan guru fokus pada coaching individu dan proyek yang menuntut pemikiran kritis tingkat tinggi.
Aksesibilitas dan Kesetaraan (SDG 10) sangat ditingkatkan. Dengan chatbot khusus bidang studi yang tersedia secara instan (misalnya, melalui WhatsApp Web atau interface LMS), siswa dari latar belakang ekonomi kurang mampu atau di daerah terpencil dapat mengakses dukungan akademik yang setara dengan tutor privat, tanpa biaya tambahan. Ini mendemokratisasi bimbingan belajar yang berkualitas.
Gemini memungkinkan chatbot untuk memiliki Kemampuan Penalaran dan Diagnosis. Chatbot dapat diprogram untuk tidak hanya memberikan jawaban, tetapi untuk mengajukan pertanyaan balik (sokrates) untuk menguji pemahaman siswa, atau memberikan umpan balik yang mendorong growth mindset yang positif. Ini mengubah interaksi chatbot dari sesi tanya jawab pasif menjadi dialog belajar yang aktif.
Chatbot ini adalah demonstrasi nyata Inovasi dan Infrastruktur (SDG 9) dalam skala mikro. Guru menjadi inovator yang menggunakan teknologi canggih untuk menciptakan solusi hyper-lokal. Keterampilan guru dalam merancang dan mengelola chatbot ini menjadi kompetensi profesional baru di era digital.
Data yang dihasilkan oleh interaksi chatbot (yaitu, pertanyaan yang paling sering diajukan, konsep yang paling membingungkan) diumpankan kembali ke guru sebagai Analitika Pembelajaran (Learning Analytics) yang kaya. Guru mendapatkan wawasan real-time untuk merevisi Rencana Pelajaran (RPP) atau materi ajar mereka untuk menutup gap pengetahuan yang teridentifikasi secara kolektif. .
Kesimpulan
Menciptakan chatbot khusus bidang studi dengan Gemini adalah transformasi peran guru menjadi Prompt Engineer dan kurator kurikulum. Chatbot ini menyediakan dukungan akademik yang sangat terpersonalisasi, kontekstual, dan inklusif. Dengan mengotomatisasi instruksi dasar dan memfasilitasi scaffolding yang cerdas, guru secara efektif meningkatkan kualitas pengajaran, mendukung SDG 4, SDG 9, dan SDG 10.