Membuat Modul Pembelajaran Visual: Alur Kerja dari Snaptik (Inspirasi) ke Canva (Desain) dan YouTube (Hosting).
s2tp.fip.unesa.ac.id, 6 Nopember 2025 - Modul pembelajaran visual yang efektif harus memadukan informasi yang terstruktur dengan elemen visual yang menarik dan mudah dicerna. Alur kerja ini menggunakan konten video pendek yang viral (diunduh via Snaptik) sebagai benchmark gaya visual, Canva sebagai studio produksi desain, dan YouTube sebagai platform hosting yang stabil.
1. Fase Inspirasi dan Ekstraksi (Snaptik)
Tujuan di sini adalah mengidentifikasi gaya visual yang menarik bagi audiens saat ini.
Identifikasi Gaya Viral: Guru mengamati video pendek (misalnya, dari TikTok, diunduh via Snaptik) yang berkaitan dengan topik pembelajaran. Guru mencatat elemen kunci yang membuat video tersebut menarik: penggunaan teks tebal dan singkat, transisi cepat, skema warna kontras, atau penggunaan meme/ikon yang relevan.
Ekstraksi Konten (AI Transkripsi): Jika video memiliki narasi, guru menggunakan AI (Gemini atau alat Speech-to-Text) untuk mentranskripsikan dan meringkas narasi tersebut menjadi 3–5 poin kunci. Poin-poin ini menjadi fondasi konten modul.
Aset Visual Mentah: Guru mengambil screenshot dari video yang diunduh (via Snaptik) untuk digunakan sebagai visual pendukung atau sebagai referensi desain di Canva.
2. Fase Desain Modul (Canva)
Canva berfungsi sebagai alat yang mengubah struktur teks (dari AI) menjadi slide atau infografis yang meniru gaya viral Snaptik.
Pembuatan Slide Deck Pembelajaran: Guru membuat slide deck di Canva. Aturan desain harus diadaptasi dari tren video pendek:
Satu Ide Per Slide: Memecah poin-poin kunci (dari AI) menjadi slide individual untuk menjaga fokus.
Teks Low-Attention Span: Menggunakan font tebal, ukuran besar, dan warna kontras untuk memastikan teks terbaca cepat.
Animasi Cepat: Menggunakan fitur animasi Canva untuk membuat transisi antar slide menjadi dinamis (meniru transisi cepat video pendek).
Integrasi Visual: Screenshot (dari Snaptik) dapat disisipkan ke dalam slide (misalnya, sebagai case study visual) atau digunakan sebagai latar belakang.
Thumbnail yang Menarik: Guru mendesain thumbnail YouTube di Canva yang menarik dan click-worthy, menggunakan prinsip kontras dan emosi yang dipelajari dari tren viral.
3. Fase Produksi dan Hosting (YouTube)
Slide deck Canva kini diubah menjadi aset video permanen.
Perekaman (Narasi Manusia): Guru merekam layar mereka (menampilkan slide Canva) sambil membacakan narasi (script yang diringkas oleh AI). Proses ini cepat karena naskah sudah siap dan visual sudah dirancang.
Hosting: Video diunggah ke YouTube sebagai aset pembelajaran. YouTube menangani streaming global, closed captions (subtitle), dan menyediakan ruang yang stabil untuk perpustakaan modul pembelajaran visual.
Optimalisasi Penemuan: Judul dan deskripsi video dioptimalkan SEO untuk memastikan modul pembelajaran tersebut dapat ditemukan oleh siswa.
4. Distribusi dan Interaksi (Last-Mile)
Pengiriman: Tautan YouTube dibagikan kepada siswa (misalnya, melalui WA Web atau LMS).
Aktivasi: Guru menggunakan pertanyaan pemantik (yang juga bisa dibuatkan oleh AI) untuk mendorong diskusi atau refleksi di platform komunikasi kelas.
Kesimpulan
Menciptakan modul pembelajaran visual melalui alur kerja ini adalah sinergi yang efisien. Tren video pendek (Snaptik) memberikan inspirasi gaya visual yang terbukti efektif dalam menarik perhatian siswa. Canva (dengan AI-nya) berfungsi sebagai studio desain untuk mengubah gaya visual tersebut menjadi aset pembelajaran yang terstruktur. YouTube menyediakan platform hosting yang stabil dan global. Proses ini memungkinkan guru untuk menghasilkan materi yang relevan dan menarik dengan kecepatan yang sangat tinggi.