Memahami Deep Learning: ChatGPT Menjelaskan Konsep Teknis di Balik Kerja AI dan LLM.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Memahami Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) melalui penjelasan dari ChatGPT adalah sebuah lompatan dalam literasi teknologi, memungkinkan siswa dan pendidik memahami konsep teknis rumit yang mendasari kerja Artificial Intelligence (AI) dan Large Language Model (LLM) itu sendiri. ChatGPT dapat memecah arsitektur jaringan saraf tiruan (Neural Networks) dan proses training data yang masif menjadi bagian-bagian yang mudah dicerna. Akses ke pemahaman teknologi fundamental ini sangat penting untuk SDG 4: Pendidikan Berkualitas, memastikan pelajar memiliki kompetensi digital yang mendalam.
ChatGPT unggul dalam menjelaskan struktur jaringan saraf tiruan (Neural Networks), termasuk bagaimana lapisan-lapisan input, tersembunyi (hidden), dan output bekerja untuk memproses data. AI dapat menggunakan analogi visual dan perbandingan untuk menjelaskan fungsi matematika seperti fungsi aktivasi dan proses propagasi balik (backpropagation). Pemahaman yang jelas tentang mekanisme internal ini mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan mendorong literasi yang lebih tinggi di bidang teknologi dan inovasi.
Model ini dapat secara efektif menjelaskan perbedaan mendasar antara Machine Learning tradisional dan Deep Learning, menekankan bahwa Deep Learning mampu mengekstrak fitur abstrak (feature extraction) secara otomatis dari data mentah. Siswa dapat meminta AI untuk menyajikan perbandingan model dalam konteks aplikasi dunia nyata, seperti pengenalan citra satelit untuk tujuan lingkungan (SDG 15) atau pengolahan data kesehatan (SDG 3).
Dengan menggunakan bahasa yang disesuaikan, ChatGPT dapat menjelaskan bagaimana transformator (Transformer Architecture), yang merupakan inti dari LLM, bekerja. AI dapat menguraikan konsep self-attention dan embedding, yang memungkinkan model memproses urutan data yang panjang dan memahami konteks kalimat secara menyeluruh. Keterampilan memahami arsitektur AI ini sangat berharga di pasar kerja.
Pemahaman tentang Deep Learning membantu siswa mengkritisi keterbatasan dan bias pada AI. Dengan memahami bagaimana bias dalam data pelatihan dapat tercermin dalam output (misalnya, bias gender atau rasial), siswa dapat menjadi pengguna teknologi yang lebih etis dan bertanggung jawab. Pengajaran etika AI dan mitigasi bias ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Bagi siswa yang berjuang dengan konsep matematika dan statistik di balik Deep Learning, ChatGPT dapat memberikan penjelasan langkah demi langkah, memecah kalkulus menjadi contoh yang lebih intuitif. Ini membantu meruntuhkan hambatan akademik dalam mata pelajaran STEM. Mendemokratisasikan pemahaman teknis yang kompleks ini adalah upaya dalam mencapai SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Pelatihan guru harus menyertakan modul tentang cara memanfaatkan ChatGPT untuk menjelaskan konsep Deep Learning dan menjawab pertanyaan teknis siswa. Guru perlu menguasai cara memvalidasi dan mengarahkan penjelasan AI untuk memastikan akurasi kurikuler. Peningkatan kompetensi guru di bidang teknologi ini selaras dengan SDG 4c (peningkatan kualitas guru).
Siswa dapat menggunakan Deep Learning sebagai topik penelitian, dengan menggunakan ChatGPT untuk membantu mereka merumuskan hipotesis tentang bagaimana AI dapat diterapkan untuk memecahkan masalah pembangunan berkelanjutan, misalnya, memprediksi hasil panen untuk mengatasi kelaparan (SDG 2). Pengintegrasian pengetahuan teknis untuk solusi global ini memperkuat SDG 4.7.
Kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan teknologi Deep Learning adalah keterampilan penting untuk masa depan yang didominasi oleh AI. Lulusan yang memiliki literasi AI yang kuat akan lebih siap untuk pekerjaan yang menuntut inovasi dan analisis data tingkat lanjut. Penguatan keterampilan teknis ini secara langsung mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Secara keseluruhan, pemahaman tentang Deep Learning yang difasilitasi oleh ChatGPT adalah kunci untuk memberdayakan generasi mendatang agar tidak hanya menjadi konsumen AI tetapi juga pencipta dan pengkritik yang cerdas. Dengan mendemokratisasi pemahaman teknologi ini, pendidikan memastikan bahwa inovasi digital berkontribusi pada pencapaian yang adil dan berkelanjutan dari semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).