Magister Teknologi Pendidikan dan Coding/Computational Thinking: Mengintegrasikan Pemikiran Komputasi ke Semua Jenjang Kurikulum.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 27 Nopember 2025 - Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memimpin integrasi sistemik Computational Thinking (CT) atau Pemikiran Komputasi ke semua jenjang kurikulum, dari SD hingga SMA. CT (meliputi dekomposisi, abstraksi, pengenalan pola, dan algoritma) diubah dari mata pelajaran spesifik menjadi keterampilan berpikir fundamental yang diterapkan di semua mata pelajaran. Peran ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Strategi kurikulum harus memastikan CT tersemat dalam non-STEM. Lulusan Magister Teknologi Pendidikan merancang unit di mana siswa menggunakan logical thinking (CT) untuk menganalisis narasi sejarah atau menyusun argumen dalam literasi, mendorong inovasi pedagogi. Hal ini mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Integrasi CT harus bersifat universal untuk ekuitas. Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memastikan bahwa kurikulum, alat digital, dan pelatihan guru tersedia untuk semua sekolah, mencegah CT menjadi keterampilan yang eksklusif bagi siswa di institusi kaya. Hal ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Pengembangan profesional guru (SDG 4c) adalah kunci keberhasilan. Lulusan Magister Teknologi Pendidikan melatih guru untuk memahami pedagogi CT, mengubah mereka dari pengajar konten menjadi fasilitator berpikir logis yang mampu memandu siswa di semua mata pelajaran.
Keterampilan komputasi sangat penting untuk kesiapan angkatan kerja (SDG 8) di era Artificial Intelligence (AI). Mengintegrasikan CT sejak dini memastikan siswa memiliki keterampilan dasar untuk pemecahan masalah yang dibutuhkan oleh ekonomi berbasis data dan otomatisasi.
Integrasi CT harus mencakup penalaran etika dan bias algoritmik. Siswa diajarkan untuk menganalisis implikasi moral dari keputusan komputasi dan bagaimana sistem AI dapat memperkuat prasangka. Hal ini mendukung SDG 16: Peace, Justice, Strong Institutions.
CT diterapkan pada isu Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Siswa menggunakan model komputasi sederhana dan alat analisis data (didukung EdTech) untuk menyelidiki dan merumuskan solusi berbasis data untuk masalah lingkungan atau sosial. Hal ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Penilaian bergeser ke pengukuran kompetensi CT melalui performance task (misalnya, membuat simulasi sederhana), bukan ujian tertulis. Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memastikan assessment mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan logika.
Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memimpin kolaborasi (SDG 17) antar departemen (Matematika, Sains, Humaniora) untuk menyelaraskan tujuan CT, memastikan bahasa dan kerangka berpikir yang konsisten di seluruh kurikulum.
Pada akhirnya, peran lulusan Magister Teknologi Pendidikan adalah untuk melembagakan CT sebagai keterampilan bertahan hidup digital, menciptakan sistem pendidikan yang tangguh dan siap untuk masa depan yang kompleks dan saling terhubung.