Magister Teknologi Pendidikan dan Blended Learning: Merancang Model Kombinasi Terbaik antara Tatap Muka dan Digital.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 22 Nopember 2025 - Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memimpin desain model Blended Learning (Pembelajaran Campuran) yang strategis, berfokus pada penentuan kombinasi optimal antara waktu tatap muka (F2F) dan instruksi digital untuk memaksimalkan efektivitas dan kualitas pembelajaran. Model yang dirancang ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Model ini memprioritaskan waktu F2F untuk interaksi manusiawi yang kompleks dan Higher-Order Thinking Skills (HOTS), seperti debat Sokratik, kolaborasi proyek, dan mentoring emosional, sementara konten dasar dikirimkan secara online.
Komponen digital memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk personalisasi dan diagnosis. AI menyediakan konten adaptif dan modul remedial online, yang secara efektif membebaskan waktu kelas untuk kegiatan yang lebih bernilai. Hal ini mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Model Blended Learning harus dirancang untuk ekuitas dalam modalitas. Lulusan memastikan bahwa siswa dengan koneksi internet yang buruk atau lingkungan rumah yang tidak kondusif diprioritaskan untuk waktu F2F yang krusial. Pengaturan akses yang adil ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Lulusan Magister Teknologi Pendidikan melatih guru (SDG 4c) dalam fasilitasi hybrid. Pelatihan ini mengajarkan pendidik keterampilan untuk mengelola kedua modalitas secara efektif dan menggunakan data online untuk memandu interaksi F2F mereka.
Desain harus memastikan inklusi dan aksesibilitas (SDG 4.5). Semua materi digital harus memiliki opsi transkripsi, captioning, dan penyesuaian format untuk mendukung siswa dengan disabilitas atau kesulitan belajar.
Model ini secara dinamis mengintegrasikan sumber daya global (penelitian online) ke dalam komponen digital dan menggunakan waktu F2F untuk menganalisis dan mendiskusikan implikasi etika Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Relevansi ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Model ini harus resilien dan tahan banting. Desain harus memungkinkan transisi yang cepat dan mulus ke pembelajaran sepenuhnya jarak jauh (jika diperlukan) tanpa mengorbankan kesinambungan kurikulum. Resiliensi sistemik ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Lulusan memastikan model Blended Learning efisien secara sumber daya. Dengan mengoptimalkan waktu F2F dan mengurangi biaya operasional terkait energi dan bahan fisik, model ini menjadi berkelanjutan secara ekonomi. Hal ini mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth.
Pada akhirnya, Magister Teknologi Pendidikan menciptakan model Blended Learning yang adaptif, menjamin kemitraan yang efektif antara teknologi, guru, dan siswa. Model ini adalah strategi berkelanjutan untuk pendidikan masa depan.