Kustomisasi Prompt: Mengajarkan Siswa Seni Bertanya Efektif (Prompt Engineering) kepada ChatGPT.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Mengajarkan siswa seni bertanya efektif, atau Prompt Engineering, kepada ChatGPT adalah keterampilan literasi digital yang paling penting di era AI. Kustomisasi prompt yang baik memungkinkan siswa mendapatkan output yang jauh lebih akurat, relevan, dan mendalam daripada sekadar pertanyaan sederhana. Keterampilan ini memberdayakan pelajar untuk menjadi pengguna teknologi yang mahir, sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pengembangan kompetensi abad ke-21.
Siswa perlu memahami bahwa prompt yang efektif harus mencakup elemen konteks, peran, tugas, dan format. Misalnya, meminta ChatGPT untuk "bertindak sebagai sejarawan lingkungan (peran), buat ringkasan (tugas) tentang dampak industrialisasi di Asia Tenggara (konteks), dalam bentuk poin-poin (format)". Struktur ini memastikan AI menghasilkan konten yang sesuai dengan kebutuhan akademik yang spesifik.
Keterampilan prompt engineering sangat penting untuk mengatasi bias algoritma. Dengan secara eksplisit meminta AI untuk menyertakan perspektif yang beragam atau melakukan perbandingan antarbudaya, siswa dapat mengurangi kecenderungan AI untuk menghasilkan output yang bias atau homogen. Penggunaan prompt yang inklusif ini mendukung upaya SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan dalam representasi informasi.
Guru dapat menggunakan pelatihan prompt engineering ini untuk mengintegrasikan isu-isu pembangunan berkelanjutan (SDGs). Siswa dapat diminta untuk membuat prompt yang menanyakan solusi inovatif untuk tantangan spesifik, seperti "Buat proposal proyek (tugas) yang menerapkan teknologi murah (konteks) untuk mencapai nol kelaparan (SDG 2) di desa terpencil (konteks)". Pendekatan aplikatif ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Bagi siswa dengan disleksia atau kesulitan dalam merumuskan kalimat yang kompleks, mempelajari prompt engineering membantu mereka mengartikulasikan kebutuhan informasi mereka secara efisien kepada AI. AI kemudian dapat menghasilkan ringkasan atau penjelasan yang disesuaikan. Ini menjadikan teknologi AI sebagai alat bantu yang inklusif, mendukung SDG 4.5.
Menguasai prompt engineering secara langsung mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan AI adalah keterampilan yang sangat dicari di industri teknologi dan bidang pekerjaan yang mengandalkan otomatisasi proses. Siswa yang menguasai seni bertanya akan lebih siap untuk pekerjaan masa depan.
Pelatihan ini menumbuhkan pemikiran kritis karena siswa harus secara konstan merefleksikan kualitas output AI dan menyesuaikan prompt mereka. Proses iteratif ini mengajarkan mereka untuk berpikir metodis dan menguji asumsi. Keterampilan refleksi dan pengujian ini sangat penting untuk penelitian dan inovasi, sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Sekolah harus memastikan bahwa semua guru menerima pelatihan tentang prompt engineering sehingga mereka dapat secara efektif mengajarkan dan menilai keterampilan ini di berbagai mata pelajaran. Peningkatan kompetensi guru dalam literasi AI ini sangat penting untuk memastikan integrasi teknologi yang efektif, sejalan dengan SDG 4c.
Penggunaan prompt engineering yang bertanggung jawab harus diajarkan sebagai bagian dari etika digital. Siswa perlu memahami bahwa prompt yang baik juga harus etika—tidak boleh meminta AI untuk menghasilkan konten yang melanggar hak cipta atau berisi informasi yang salah. Pengajaran etika ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Secara keseluruhan, pelatihan prompt engineering adalah investasi dalam otonomi dan kompetensi digital siswa. Dengan mengajarkan mereka seni bertanya efektif, pendidikan memastikan bahwa AI menjadi alat yang kuat untuk eksplorasi, penemuan, dan pemecahan masalah. Inovasi pedagogis ini adalah fondasi yang penting bagi pencapaian semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).