Kurikulum vs. Teknologi: Studi Tentang Mana yang Mendorong Perubahan di Lembaga Pendidikan.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 23 Nopember 2025 - Perdebatan tentang apakah perubahan di lembaga pendidikan didorong oleh kurikulum atau teknologi merupakan inti dari studi Teknologi Pendidikan modern. Secara tradisional, kurikulum dipandang sebagai penggerak utama, yang mendefinisikan filosofi, nilai-nilai, dan tujuan kompetensi yang ingin dicapai sekolah. Teknologi seharusnya berfungsi sebagai tool atau alat yang membantu bagaimana mencapai tujuan kurikulum tersebut. Namun, realitas menunjukkan bahwa teknologi modern sering bertindak sebagai katalisator yang memaksa kurikulum untuk berubah.
Kurikulum harus mempertahankan perannya sebagai penggerak primer karena ia menetapkan arah moral dan pedagogis pendidikan. Kurikulumlah yang menentukan bahwa siswa harus mengembangkan skill berpikir kritis, etika digital, dan tanggung jawab sosial (sejalan dengan SDG 4). Tanpa fondasi filosofis ini, adopsi teknologi berisiko menjadi gimmick yang tidak memiliki tujuan instruksional yang jelas. Kurikulum menjadi kompas yang memandu perjalanan pendidikan.
Namun, teknologi sering menjadi kekuatan yang mendisrupsi yang memaksa perubahan kurikulum agar tetap relevan. Munculnya AI generatif (seperti Gemini dan ChatGPT) telah membuat metode penilaian tradisional (esai rumahan) menjadi usang. Kurikulum harus beradaptasi dengan kenyataan ini dengan merancang ulang tugas agar menuntut kolaborasi dengan AI, bukan persaingan dengannya. Disrupsi teknologi menciptakan urgensi yang mendorong reformasi.
Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan berfungsi sebagai penghubung intelektual yang sangat penting untuk mengelola ketegangan ini. Peran mereka adalah memastikan bahwa integrasi teknologi bersifat disengaja (intentional) dan melayani visi pedagogis kurikulum. Mereka mencegah sekolah jatuh ke dalam determinisme teknologi, di mana tool baru diadopsi tanpa tujuan instruksional yang jelas. MTP menjamin bahwa teknologi digunakan untuk mencapai output kurikulum yang lebih tinggi.
Strategi yang efektif adalah menjadikan kurikulum berbasis data yang terus diperbarui oleh teknologi. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan menggunakan Learning Analytics dan data Gemini untuk mengukur feedback siswa dan kinerja modul. Data ini yang menunjukkan kegagalan pada suatu unit (Data Teknologi) berfungsi sebagai bukti yang memaksa tim kurikulum untuk melakukan revisi segera (Perubahan Kurikulum). Ini adalah siklus perubahan yang digerakkan oleh bukti.
Spesialis MTP merancang kurikulum agar kompetensi yang diinginkan mustahil dicapai tanpa teknologi. Misalnya, mereka merancang tugas yang menuntut siswa menganalisis dataset yang kompleks (yang memerlukan Gemini). Dengan demikian, kurikulum menciptakan kebutuhan pedagogis terhadap tool digital tersebut. Ini menempatkan kurikulum kembali sebagai penggerak yang merumuskan tantangan.
Bahaya terjadi ketika teknologi menjadi satu-satunya penggerak perubahan di institusi. Hal ini sering menghasilkan perubahan yang dangkal, seperti sekadar mengganti papan tulis dengan proyektor tanpa mengubah metode pengajaran. Kurikulum semacam itu gagal dalam menumbuhkan skill abad ke-21 yang mendalam. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan memastikan setiap adopsi teknologi disertai dengan perubahan filosofi dan metodologi pengajaran.
Kurikulum harus berevolusi untuk secara eksplisit mencantumkan keterampilan literasi AI dan etika digital sebagai kompetensi wajib. Kebutuhan filosofis ini (Perubahan Kurikulum) kemudian secara alami memerlukan adopsi platform dan tool AI yang spesifik. Misalnya, tujuan kurikulum untuk "kolaborasi digital" secara logis memerlukan platform terpadu seperti Google Workspace.
Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan memimpin pelatihan guru, memastikan staf memahami teori kognitif (Cognitive Load Theory) yang melandasi penggunaan e-modul dan AI. Guru dilatih untuk melihat Gemini dan ChatGPT sebagai tool yang memperkuat tujuan kurikulum, bukan sebagai beban tambahan. Pelatihan ini menjamin fidelity implementasi visi kurikulum.
Kesuksesan perubahan di lembaga pendidikan terletak pada hubungan yang simbiotik di mana Kurikulum menetapkan tujuan akhir, dan Teknologi menyediakan sarana yang paling efektif dan efisien untuk mencapainya. Lulusan Program Magister Teknologi Pendidikan adalah arsitek yang merancang dan mengelola proses dinamis ini. Pendekatan terpadu ini memastikan perubahan yang terjadi bersifat mendalam, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan masa depan.