Ketergantungan Kreatif: Risiko Guru Terlalu Mengandalkan Template AI Canva dan Klip Snaptik.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 11 Nopember 2025 - Efisiensi yang ditawarkan oleh template Kecerdasan Buatan (AI) Canva dan akses mudah ke konten viral (Snaptik/ssstiktok) adalah anugerah bagi guru yang kekurangan waktu. Namun, kenyamanan ini membawa risiko laten berupa Ketergantungan Kreatif dan Atrofi Pedagogis. Risiko ini terjadi ketika guru terlalu mengandalkan alat untuk membuat keputusan kreatif dan kurasi, yang pada akhirnya dapat mengurangi kualitas dan orisinalitas materi ajar.
Risiko pertama adalah Homogenitas Estetika. Canva, meskipun menyediakan jutaan template, tetap memiliki "estetika Canva" yang khas. Jika semua guru di sekolah yang sama menggunakan template yang direkomendasikan AI (seperti Magic Design), slide deck dan materi ajar mereka akan terlihat sama persis. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang membosankan dan prediktif bagi siswa, yang dapat mengurangi engagement jangka panjang dan menghilangkan brand identity unik guru.
Risiko kedua adalah Kekakuan Kurasi. Konten Snaptik/ssstiktok dipilih algoritma untuk viralitas dan daya tarik visual, bukan untuk akurasi akademik atau relevansi pedagogis. Ketergantungan guru pada klip yang tersedia dan mudah ditemukan berisiko membatasi eksplorasi kurikulum. Guru hanya akan mengajarkan konsep yang mudah diilustrasikan oleh klip $15$-detik, sementara topik yang kompleks atau bernuansa (yang sulit divisualisasikan) mungkin terabaikan atau disederhanakan secara berlebihan.
Selanjutnya adalah Atrofi Keterampilan Desain dan Kreatif. Guru yang terlalu mengandalkan template Canva untuk semua keputusan tata letak (layout), palet warna, dan tipografi berisiko kehilangan keterampilan dasar desain. Mereka menjadi operator template alih-alih desainer instruksional yang mampu membuat keputusan visual kreatif secara mandiri. Ketergantungan ini membuat guru rentan jika alat AI tersebut tiba-tiba berubah atau tidak lagi tersedia.
Hilangnya Orisinalitas Konten adalah masalah yang lebih dalam. Meskipun AI Generatif (Gemini/ChatGPT) dapat menulis naskah, guru harus mengawasi prosesnya. Jika guru hanya menggunakan template Canva populer dan mengisi teks dengan narasi AI generik, materi ajar yang dihasilkan menjadi "dibuat oleh mesin untuk dikonsumsi secara pasif," tanpa sentuhan pribadi, cerita unik, atau konteks lokal yang hanya bisa diberikan oleh guru.
Risiko etika juga terlibat dalam Kelalaian Fair Use. Guru yang menjadi terlalu bergantung pada supply klip Snaptik yang mudah ditemukan mungkin menjadi ceroboh dalam protokol Fair Use. Mereka berisiko menggunakan klip secara berlebihan (melampaui batas yang diizinkan untuk transformative use) atau gagal memberikan atribusi yang benar, melanggar etika dan hukum hak cipta.
Strategi yang bertanggung jawab harus menekankan Modifikasi Kreatif Wajib. Guru harus menggunakan AI Canva untuk mengotomatisasi pekerjaan yang membosankan (misalnya, background removal, konsistensi font), tetapi mereka harus secara sengaja mengubah layout atau skema warna template dasar yang dihasilkan AI. Ini memastikan bahwa sentuhan kreatif manusia tetap menjadi bagian dari produk akhir.
Untuk mitigasi risiko kurasi, guru harus menggunakan AI (Gemini) sebagai auditor dan filter untuk memverifikasi akurasi klip Snaptik, bukan hanya sebagai mesin pencari. AI harus membantu guru untuk menemukan keragaman perspektif visual, bukan hanya popularitas visual.
Kesimpulan
Ketergantungan kreatif adalah tantangan terbesar AI dalam EdTech. Meskipun template Canva dan klip Snaptik menawarkan efisiensi yang luar biasa, terlalu mengandalkannya berisiko menciptakan lingkungan belajar yang homogen, artifisial, dan terputus dari orisinalitas guru. Guru harus mengadopsi AI sebagai asisten efisiensi, bukan sebagai pengganti kreativitas, dengan senantiasa menyuntikkan sentuhan unik, analisis kritis, dan keputusan desain yang mandiri ke dalam setiap materi ajar yang diproduksi.