Keamanan Siber EdTech: Risiko Mengunduh Konten Melalui Snaptik/ssstiktok dan Mengintegrasikannya ke Canva.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 11 Nopember 2025 - Integrasi konten viral (ssstiktok/Snaptik) ke dalam materi ajar EdTech adalah praktik yang efisien, tetapi membawa risiko keamanan siber yang signifikan dan sering terabaikan. Risiko ini terletak pada integritas file yang diunduh melalui downloader pihak ketiga dan potensi kerentanan yang timbul saat aset yang tidak terverifikasi tersebut diunggah ke platform desain seperti Canva. Guru harus bertindak sebagai gatekeeper keamanan yang ketat.
Risiko utama berasal dari Integritas File yang Diunduh. Alat downloader pihak ketiga (seperti Snaptik atau ssstiktok) adalah black box yang memotong proses keamanan server asli (TikTok). File MP4 yang diunduh dari situs-situs ini berpotensi disisipi malware, spyware, atau adware tersembunyi. Meskipun tujuannya adalah mendapatkan klip bersih tanpa watermark, tindakan ini membuka celah keamanan pada perangkat guru (PC/Laptop).
Selanjutnya, adalah risiko Kerentanan pada Lapisan Browser dan Akun. Proses pengunduhan seringkali membutuhkan interaksi langsung dengan situs downloader melalui browser yang sama yang digunakan guru untuk mengakses platform kerja sensitif (misalnya, email Gmail, Learning Management System/LMS, atau bahkan Canva itu sendiri). Risiko Cross-Site Scripting (XSS) atau cookie theft (pencurian cookie) menjadi nyata, di mana malware dari situs pengunduhan berpotensi membahayakan kredensial login guru.
Kemudian, aset yang berpotensi terkontaminasi tersebut diunggah ke Canva. Meskipun Canva memiliki protokol keamanan yang kuat, pengunggahan file video yang tidak terverifikasi tetap menimbulkan risiko integritas data di platform. Jika file video mengandung metadata atau header yang bermasalah, hal itu dapat menyebabkan ketidakstabilan pada proyek desain guru, meskipun risiko infeksi langsung pada sistem Canva minimal.
Keamanan Jaringan Sekolah juga dapat terancam. Jika guru melakukan pengunduhan di jaringan sekolah atau universitas, traffic dari situs downloader tersebut dapat ditandai sebagai malicious oleh firewall institusi. Hal ini dapat memicu alarm keamanan atau bahkan membuat alamat IP sekolah masuk daftar hitam (blacklist), mengganggu akses jaringan untuk seluruh staf dan siswa.
Keterlibatan Kecerdasan Buatan (AI) eksternal juga membawa risiko. Guru menggunakan AI Generatif (Gemini/ChatGPT) untuk memverifikasi akurasi narasi klip yang diunduh. Namun, AI ini hanya dapat memverifikasi teks; mereka tidak dapat memindai file video untuk virus atau malware yang tersemat secara fisik.
Strategi mitigasi utama adalah Penggunaan Virtual Sandbox. Guru harus melakukan pengunduhan aset dari ssstiktok/Snaptik di lingkungan virtual yang terisolasi (virtual machine) atau di perangkat terpisah yang tidak menyimpan data sensitif. Ini mencegah potensi kontaminasi malware mencapai endpoint utama guru.
Selanjutnya, Verifikasi File Otomatis adalah wajib. Setiap file MP4 yang diunduh harus dipindai oleh software antivirus yang up-to-date sebelum diunggah ke Canva atau digunakan di materi ajar. Langkah scan manual ini adalah satu-satunya jaminan keamanan sebelum aset masuk ke lingkungan EdTech.
Guru juga harus mempertimbangkan opsi yang lebih aman secara hukum dan teknis. Daripada mengunduh, guru dapat merekam ulang klip dari layar (screen recording) untuk mendapatkan versi yang lebih aman, meskipun ini membutuhkan sedikit waktu lebih banyak.
Kesimpulan
Keamanan siber EdTech sangat bergantung pada integritas file yang masuk. Risiko utama terletak pada infiltrasi malware dari situs pengunduhan pihak ketiga dan ancaman endpoint (perangkat guru) yang rentan. Guru harus mengadopsi protokol keamanan yang ketat: menggunakan lingkungan terisolasi untuk pengunduhan dan memindai file secara wajib sebelum mengintegrasikannya ke dalam materi ajar yang dibuat di Canva.