Interaksi Manusia-AI: Studi Kasus Dampak Gemini pada Keterampilan Komunikasi Interpersonal Siswa.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 - Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) Generatif seperti Gemini ke dalam alur komunikasi siswa, terutama melalui platform chat seperti WhatsApp Web, telah menciptakan laboratorium sosial yang unik. Studi kasus mengenai dampak Gemini pada keterampilan komunikasi interpersonal siswa menunjukkan adanya trade-off yang signifikan: AI meningkatkan efisiensi dan kejelasan pesan tertulis, namun berpotensi melemahkan kapasitas siswa untuk respons emosional dan interaksi tatap muka yang spontan. Oleh karena itu, pendidik harus secara strategis mengelola batas antara dukungan AI dan kebutuhan interaksi manusiawi.
Dampak positif pertama yang terukur adalah Peningkatan Kejelasan dan Profesionalisme Linguistik. Siswa sering menggunakan Gemini untuk menyusun draf email formal, pitch deck akademik, atau klarifikasi pertanyaan yang kompleks. AI membantu menghilangkan kesalahan tata bahasa, menyederhanakan sintaksis yang canggung, dan memastikan tone komunikasi yang tepat. Peningkatan kualitas tekstual ini secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), karena siswa lulus dengan kemampuan komunikasi formal yang lebih baik.
Manfaat ini diperluas untuk Komunikasi Lintas Bahasa dan Inklusi. Gemini secara instan mengatasi hambatan bahasa, memungkinkan siswa multibahasa untuk berinteraksi lebih efektif dengan rekan sebaya dan guru, atau mengakses materi asing. Kemampuan AI untuk menerjemahkan dan mengklarifikasi konteks meningkatkan partisipasi dan kesetaraan akses, yang merupakan pilar dari SDG 10 (Mengurangi Ketidaksetaraan).
Namun, AI Generatif menimbulkan risiko Atrofi Empati Emosional. Ketergantungan siswa pada AI untuk menyusun skrip respons yang bernuansa, seperti saat menghadapi konflik atau menyampaikan permintaan maaf (misalnya, role-playing yang dilakukan di WA Web), dapat mengurangi kemampuan mereka untuk berempati secara spontan. AI menyediakan struktur respons yang logis, tetapi siswa kehilangan latihan kognitif untuk merasakan dan merumuskan bahasa emosional itu sendiri.
Risiko yang kedua adalah Melemahnya Keterampilan Non-Verbal. Karena AI beroperasi dalam dimensi teks, siswa yang terlalu bergantung pada komunikasi yang dimediasi AI (menulis) mungkin kurang terampil dalam menyelaraskan bahasa lisan mereka dengan isyarat non-verbal (kontak mata, bahasa tubuh, intonasi), yang sangat penting dalam interaksi tatap muka. Komunikasi manusiawi yang efektif adalah sintesis lisan dan non-verbal.
Guru harus menggunakan AI untuk Melatih Scaffolding Komunikasi. Gemini dapat digunakan untuk mensimulasikan percakapan sulit dan memberikan feedback pada tone respons siswa. Namun, latihan ini harus selalu diakhiri dengan tugas follow-up yang menuntut penerapan tatap muka—misalnya, siswa berlatih dengan AI, tetapi presentasi akhir dilakukan secara lisan di depan kelas.
Penggunaan AI dalam komunikasi juga terkait dengan Etika dan Kepatuhan (SDG 16). Guru harus mengajarkan siswa tentang transparansi: kapan dan bagaimana mereka harus mengakui penggunaan AI dalam draf komunikasi. Selain itu, Gemini harus digunakan untuk mempromosikan perilaku digital yang bertanggung jawab, membantu siswa menyusun tanggapan yang sopan dan konstruktif alih-alih bahasa yang agresif atau trolling.
Kesimpulan
Dampak Gemini pada keterampilan komunikasi siswa adalah pertukaran nilai. AI secara signifikan meningkatkan kejelasan, efisiensi, dan aksesibilitas komunikasi tertulis, mendukung tujuan SDG 4. Namun, guru harus secara sadar merancang kurikulum yang membatasi penggunaan AI dalam skenario emosional dan memaksakan interaksi tatap muka, memastikan bahwa siswa menguasai struktur bahasa dari AI sambil mempertahankan jiwa dan empati komunikasi manusia.