Implementasi Kurikulum Microlearning untuk Materi Ajar yang Padat: Pendekatan Magister Teknologi Pendidikan.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 23 Nopember 2025 - Implementasi kurikulum Microlearning adalah strategi vital untuk mengatasi kesulitan siswa dalam mencerna materi ajar yang padat dan kompleks. Model ini mengubah beban kognitif yang besar menjadi unit-unit belajar kecil yang dapat dikelola dan diserap secara efektif. Peran Magister Teknologi Pendidikan adalah memastikan implementasi ini sistematis, didukung teknologi, dan didasarkan pada prinsip Instructional Design (ID). Keberhasilan microlearning terletak pada desain yang terstruktur dan pengiriman konten yang konsisten.
Magister Teknologi Pendidikan memulai dengan fase Analisis kurikulum yang ketat, mengidentifikasi konsep-konsep inti yang paling sulit dipahami siswa dalam materi padat tersebut. Analisis ini menggunakan data kinerja historis untuk memetakan cognitive bottleneck yang paling sering menyebabkan kegagalan. Tujuan analisis adalah memecah pengetahuan kompleks (content chunking) menjadi potongan-potongan terkecil yang memiliki makna instruksional. Ini adalah fondasi desain microlearning.
Dalam fase Desain, Magister Teknologi Pendidikan menyusun struktur modular di mana setiap unit microlearning memiliki satu tujuan pembelajaran tunggal yang jelas. Durasi konsumsi setiap chunk dibatasi maksimal 5-10 menit untuk memaksimalkan retensi memori dan meminimalkan digital fatigue. Sekuens atau urutan unit dirancang secara logis, memastikan pengetahuan dibangun secara kumulatif dan progresif. Desain ini sangat penting untuk materi yang memiliki prasyarat konsep yang ketat.
Fase Pengembangan konten sangat mengandalkan AI generatif untuk efisiensi dan kualitas. Magister Teknologi Pendidikan memanfaatkan ChatGPT untuk meringkas teks akademik yang padat menjadi narasi micro-content yang ringkas dan lugas. Gemini digunakan untuk mengubah grafik atau data yang rumit menjadi visualisasi sederhana atau caption yang mudah dipahami. Dukungan AI ini mempercepat waktu produksi materi e-learning secara drastis.
Unit microlearning yang dikembangkan harus memiliki tingkat multimodality yang tinggi untuk mempertahankan engagement siswa. Magister Teknologi Pendidikan memastikan setiap unit mencakup kombinasi media (teks, gambar, quick quiz, atau tautan ke video pendek). Format yang beragam ini mendukung berbagai gaya belajar dan mencegah kejenuhan saat belajar mandiri. Guru dilatih untuk memprioritaskan engagement dalam setiap unit yang dibagikan.
Magister Teknologi Pendidikan merancang strategi Implementasi dengan distribusi yang sangat rendah gesekan (low-friction). Konten didistribusikan melalui saluran yang sudah akrab dan low-bandwidth seperti WA Web atau email terjadwal. Pengiriman konten dijadwalkan secara konsisten setiap hari untuk membangun kebiasaan belajar harian pada siswa. Pengiriman yang cepat ini mendukung pembelajaran just-in-time.
Implementasi ini secara pedagogis harus mendorong praktik active retrieval, yang merupakan kunci retensi memori. Setiap unit microlearning diakhiri dengan reflection prompt atau quick quiz yang harus segera dijawab siswa. Latihan mengingat aktif ini memperkuat pemahaman dan membantu mengidentifikasi misconceptions instan.Data dari quick quiz harian dianalisis untuk mengidentifikasi kegagalan konsep yang berulang. Output data ini segera memicu pengiriman modul remedial Gemini yang ditargetkan kepada siswa yang berjuang. Evaluasi yang cepat ini memastikan learning loss segera diatasi.
Magister Teknologi Pendidikan memastikan keberlanjutan kurikulum microlearning dengan melatih guru untuk membuat dan memperbarui unit mereka sendiri. Pelatihan ini berfokus pada prompt engineering agar guru dapat menyesuaikan konten micro-unit dengan update kurikulum baru. Magister Teknologi Pendidikan membangun kapasitas internal untuk memelihara sistem microlearning.
Implementasi microlearning yang dipimpin Magister Teknologi Pendidikan ini secara efektif mengubah materi ajar padat menjadi pengalaman belajar yang efisien dan terkelola. Strategi ini sangat penting untuk meningkatkan retensi siswa dan mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan menyediakan akses yang lebih mudah dan terstruktur terhadap ilmu pengetahuan yang kompleks.