Guru sebagai Prompt Engineer: Pelatihan Pendidik untuk Memanfaatkan AI Generatif dalam Pengajaran.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 21 Nopember 2025 - Pelatihan pendidik untuk menjadi Prompt Engineer adalah pergeseran keterampilan yang krusial di era digital, memungkinkan guru memaksimalkan potensi Artificial Intelligence (AI) generatif (seperti ChatGPT) untuk pengajaran dan kurikulum. Prompt Engineering adalah seni merumuskan perintah yang efektif kepada AI untuk menghasilkan konten yang relevan, akurat, dan sesuai tujuan pedagogis. Peningkatan kompetensi ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui inovasi metodologi.
Pelatihan harus fokus pada keterampilan kustomisasi dan konteks. Guru perlu belajar bagaimana memberikan prompt yang mencakup parameter spesifik (tingkat kelas, topik, format keluaran) dan etika yang diperlukan, mengubah output AI yang generik menjadi materi ajar yang sangat ditargetkan.
Keterampilan Prompt Engineering sangat penting untuk mendukung personalisasi skala besar. Guru dapat membuat prompt yang menghasilkan variasi soal atau penjelasan yang berbeda untuk siswa yang berbeda, memastikan setiap siswa menerima dukungan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Strategi inklusif ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Pelatihan harus mengajarkan guru cara menggunakan prompt untuk mengintegrasikan isu-isu Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke dalam tugas sehari-hari. Misalnya, prompt untuk membuat studi kasus yang menuntut analisis tentang ketahanan air (SDG 6) atau pembangunan infrastruktur berkelanjutan (SDG 9) di daerah setempat. Pengarahan kurikulum ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Guru sebagai Prompt Engineer juga harus dilatih untuk mengaudit dan memverifikasi output yang dihasilkan AI, menguji bias, ketidakakuratan faktual (hallucination), dan kesesuaian budaya. Keterampilan evaluasi kritis ini sangat penting untuk menjaga integritas akademik.
Peningkatan kompetensi guru ini secara langsung mendukung SDG 4c (peningkatan kualitas guru) karena guru beralih dari konsumen teknologi menjadi arsitek pembelajaran berbasis AI yang mampu memanfaatkan alat paling canggih.
Kemampuan Prompt Engineering memungkinkan guru untuk menghemat waktu administratif yang signifikan, seperti membuat draf komunikasi, rubrik, atau skenario simulasi. Waktu yang dibebaskan ini dapat dialokasikan kembali untuk interaksi manusiawi yang berharga. Efisiensi kerja ini mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth.
Pelatihan juga harus mencakup aspek keamanan dan etika data. Guru harus belajar bagaimana merumuskan prompt tanpa memasukkan Informasi Identitas Pribadi (PII) siswa ke dalam layanan AI eksternal, menjaga privasi dan akuntabilitas. Pengawasan etika ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Guru dapat menggunakan Prompt Engineering untuk memfasilitasi kolaborasi global (SDG 17) dengan membuat prompt yang menghasilkan skenario role-playing atau studi kasus yang dapat digunakan bersama dengan rekan guru di negara lain, mendukung pertukaran praktik terbaik.
Pada akhirnya, pelatihan Prompt Engineering memberdayakan guru untuk memimpin transformasi pendidikan digital, memastikan teknologi AI digunakan secara kreatif, etis, dan efektif. Guru menjadi komandan yang cerdas dalam ekosistem AI, yang sangat penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).