Filsafat Learning Analytics: Magister Teknologi Pendidikan Membahas Etika Pengawasan dan Prediksi Perilaku Siswa Berdasarkan Data.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 23 Nopember 2025 - Lulusan Magister Teknologi Pendidikan mendalami Filsafat Learning Analytics (LA), yaitu studi kritis mengenai dilema etika antara manfaat pedagogis dari pengawasan data dan risiko pelanggaran privasi serta otonomi siswa. Filsafat ini sangat penting untuk memastikan transformasi digital yang bertanggung jawab. Hal ini secara fundamental mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Isu sentralnya adalah etika prediksi. Lulusan Magister Teknologi Pendidikan menganalisis bagaimana model prediktif AI (misalnya, peramalan drop-out) dapat menciptakan self-fulfilling prophecy, secara tidak adil melabeli siswa dan membatasi peluang mereka. Etika harus memitigasi potensi bahaya ini.
Filosofi ini menuntut prinsip minimasi data dan transparansi. Sistem harus didesain untuk hanya mengumpulkan data yang mutlak diperlukan untuk perbaikan pembelajaran, dengan kebijakan yang jelas mengenai bagaimana log proxy dan interaksi siswa digunakan. Hal ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Informed Consent adalah wajib. Filsafat ini mengharuskan adanya persetujuan yang eksplisit dan mudah dicabut dari siswa dan orang tua sebelum data dianalisis, memastikan agency pengguna dihormati.
Lulusan Magister Teknologi Pendidikan memimpin kritik terhadap bias algoritmik. Mereka memastikan bahwa algoritma AI yang digunakan untuk prediksi risiko diaudit secara ketat untuk mencegah model tersebut memperkuat prasangka sosial-ekonomi yang merugikan. Hal ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Peran guru (SDG 4c) ditekankan sebagai pengawas etika. AI memprediksi risiko, tetapi guru memberikan penilaian kontekstual dan persetujuan manusiawi untuk intervensi, memastikan bahwa judgement kemanusiaan mengendalikan teknologi.
LA harus digunakan untuk mendukung kesejahteraan (SDG 3). Etika data harus memandu sistem untuk mendeteksi tanda-tanda stres atau burnout (melalui pola online yang tidak lazim) dan memicu dukungan mental, bukan meningkatkan tekanan kinerja.
Filosofi ini mendukung inovasi yang bertanggung jawab (SDG 9). Kepercayaan yang dibangun oleh praktik etika yang kuat memungkinkan pengembangan alat AI yang lebih kompleks dan dapat diskalakan tanpa khawatir akan regulasi yang membatasi.
LA juga digunakan untuk mengukur relevansi kurikulum global. Data dapat melacak keterlibatan siswa dalam proyek terkait Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) secara etis, memastikan data usage melayani tujuan sosial. Hal ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Pada akhirnya, lulusan Magister Teknologi Pendidikan memastikan bahwa filosofi LA mengarah pada kolaborasi dan kepercayaan sistemik (SDG 17). Sistem yang etis dan transparan adalah fondasi penting untuk berbagi data dan kemitraan di tingkat global.