Filosofi Pendidikan Era AI: Mendefinisikan Ulang Makna Sukses Akademik dan Profesional.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 21 Nopember 2025 - Makna sukses akademik di era Artificial Intelligence (AI) harus bergeser dari pencapaian skor tinggi melalui hafalan menjadi demonstrasi penguasaan sintesis, evaluasi kritis, dan aplikasi pengetahuan. Nilai tertinggi diberikan kepada siswa yang dapat menggunakan AI sebagai alat untuk memecahkan masalah kompleks, bukan sekadar menghasilkan output. Perubahan filosofis ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Sukses profesional tidak lagi diukur dari efisiensi individu, melainkan dari kemampuan untuk berkolaborasi, mengaudit, dan mengelola alat AI secara efektif. Karyawan yang sukses adalah human augmentors yang dapat meningkatkan produktivitas melalui teknologi. Peningkatan keterampilan adaptif ini mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth.
Filosofi baru ini menempatkan Higher-Order Thinking Skills (HOTS) dan penalaran etika sebagai inti. Sukses menuntut kemampuan untuk membuat keputusan moral dan mengatasi dilema kompleks (misalnya, bias data AI) yang tidak dapat diselesaikan oleh algoritma. Kompetensi etika ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Secara akademik, sukses diukur dari penguasaan prompt engineering dan keterampilan validasi output. Siswa yang berhasil adalah mereka yang tahu cara bertanya kepada AI secara presisi dan secara kritis memverifikasi informasi yang dihasilkan. Keterampilan ini mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Filosofi harus mendefinisikan sukses secara ekuitas. AI digunakan untuk menyediakan jalur yang dipersonalisasi yang menjamin bahwa semua siswa, tanpa memandang latar belakang sosial-ekonomi mereka, dapat mencapai tingkat penguasaan tertinggi. Mengatasi hambatan sistemik ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Sukses akademik diukur dari dampak nyata dan relevansi global. Siswa yang berhasil adalah mereka yang dapat menerapkan pembelajaran mereka untuk merumuskan solusi Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang kredibel, menunjukkan efektivitas sebagai warga global yang aktif. Pengarahan kurikulum ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Keberhasilan seorang guru diukur dari transisi peran mereka—sebagai mentor etika dan pembimbing proyek kompleks, membebaskan diri dari peran penyampaian konten. Guru yang berhasil adalah yang mampu memimpin siswa menuju hasil yang didukung AI. Peningkatan peran guru ini sejalan dengan tujuan SDG 4c.
Filosofi pembelajaran seumur hidup adalah kunci. Sukses profesional diukur dari kemampuan adaptasi yang berkelanjutan—kecepatan di mana individu dapat memperoleh keterampilan baru dan mengintegrasikan alat AI baru. Ini adalah keterampilan yang diperlukan untuk ketahanan karier.
Pengukuran sukses harus mencakup pengembangan holistik dan empati. Karyawan yang berhasil adalah mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang kuat dan keterampilan kolaborasi, yang sangat vital untuk navigasi konflik dan tim kerja. Pengembangan ESI ini mendukung SDG 3: Good Health and Well-being.
Pada akhirnya, filosofi pendidikan di era AI harus menekankan nilai kemanusiaan yang unik—kreativitas, penilaian etika, dan interaksi sosial. . Inilah esensi dari pendidikan yang relevan dan berkelanjutan. Strategi kemitraan ini mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.