Evolusi Model: Dampak Versi ChatGPT yang Lebih Baru (GPT-4, dll.) pada Metode Pengajaran.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Evolusi Model Bahasa Besar seperti peralihan dari GPT-3 ke GPT-4 dan versi yang lebih baru memiliki dampak transformatif pada metode pengajaran. Model yang lebih baru menawarkan akurasi, pemahaman konteks, dan kemampuan penalaran yang jauh lebih unggul, memungkinkan guru untuk merancang pengalaman belajar yang lebih kompleks dan autentik. Peningkatan kemampuan teknologi ini secara fundamental mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan menyediakan alat yang lebih canggih untuk layanan pendidikan.
Model-model terbaru memungkinkan diferensiasi pembelajaran yang lebih mendalam. GPT-4 dapat memproses prompt yang lebih panjang dan menghasilkan materi yang sangat spesifik, disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa—seperti membuat skenario simulasi untuk tingkat mahir atau ringkasan yang disederhanakan untuk pemula. Peningkatan personalisasi ini adalah kunci untuk mencapai SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan meningkatkan hasil belajar secara merata.
Dengan kemampuan penalaran yang lebih baik, versi AI yang lebih baru dapat memfasilitasi tugas-tugas yang berorientasi pada pemecahan masalah kompleks, seperti proyek yang menuntut analisis dampak perubahan iklim (SDG 13) atau perumusan kebijakan kesehatan masyarakat (SDG 3). Guru dapat mengandalkan AI untuk memberikan umpan balik yang lebih nuansial pada solusi siswa. Integrasi pemecahan masalah global ini memperkuat SDG 4.7.
Peningkatan kemampuan GPT-4 dalam memahami konteks dan menghasilkan respons yang lebih koheren mengurangi hallucination dan bias, yang secara tidak langsung mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh dengan meningkatkan keandalan dan akuntabilitas alat pembelajaran. Keandalan yang lebih tinggi ini memungkinkan guru untuk menggunakan AI dengan kepercayaan diri yang lebih besar.
Versi AI yang lebih canggih dapat diakses melalui antarmuka yang lebih intuitif, yang meningkatkan aksesibilitas bagi siswa dan guru, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan digital. Kemudahan penggunaan alat canggih ini membantu menjembatani kesenjangan akses teknologi. Peningkatan inklusi digital ini merupakan upaya penting dalam mencapai SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Guru harus menjalani pelatihan berkelanjutan untuk menguasai kemampuan baru dari model AI yang berevolusi. Pelatihan ini harus berfokus pada teknik prompt engineering tingkat lanjut dan bagaimana menggunakan kemampuan multimodal (teks, gambar) AI yang baru. Peningkatan kompetensi guru ini sangat penting untuk memastikan integrasi teknologi yang efektif, sejalan dengan SDG 4c.
Model AI terbaru memungkinkan kolaborasi penelitian yang lebih efektif, di mana siswa dapat menggunakan AI untuk mensintesis literatur atau data yang lebih kompleks untuk proyek-proyek keberlanjutan. Kemampuan analisis data yang ditingkatkan oleh AI ini mendukung kerja ilmiah dan pertukaran pengetahuan.
Kemampuan AI untuk menghasilkan konten yang lebih mirip manusia juga meningkatkan tantangan integritas akademik, memaksa sekolah untuk terus mengembangkan strategi penilaian yang AI-resistant. Guru harus merancang tugas yang menuntut siswa menggunakan AI secara etis dan kreatif, bukan sebagai pengganti pemikiran. Penguatan keterampilan orisinalitas ini mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Evolusi model AI ini mendorong sekolah untuk mengevaluasi kembali infrastruktur dan kebijakan mereka secara berkala, memastikan bahwa sistem LMS dan perangkat keras dapat mendukung tuntutan komputasi dari versi AI yang lebih baru. Adaptasi kelembagaan ini menunjukkan komitmen terhadap modernisasi pendidikan.
Pada akhirnya, dampak evolusi ChatGPT pada metode pengajaran adalah percepatan transformasi pendidikan. Dengan memanfaatkan kemampuan AI yang terus meningkat, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, menantang, dan sangat relevan, yang merupakan fondasi penting bagi keberhasilan implementasi semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).