Evaluasi Otomatis: Dampak AI Terhadap Penilaian dan Umpan Balik Siswa.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 12 Nopember 2025 - Penerapan Kecerdasan Buatan (AI) dalam asesmen pendidikan telah memicu revolusi besar, mengubah penilaian dari proses manual yang memakan waktu menjadi sistem otomatis yang mampu memberikan umpan balik instan dan diagnostik. Dampak AI terhadap evaluasi sangat mendalam, memengaruhi efisiensi guru, kualitas umpan balik, dan integritas akademik siswa.
Peran AI dimulai dengan Otomatisasi Penskoran Asesmen Formatif. Model bahasa besar (Large Language Models/LLM) seperti Gemini dan ChatGPT dapat secara instan menilai jawaban esai singkat, jawaban terbuka, atau bahkan respons proyek yang bersifat kualitatif. AI membandingkan respons siswa dengan model jawaban ideal (gold standard) yang ditetapkan guru dan memberikan skor awal. Ini secara drastis mengurangi beban penilaian guru, membebaskan mereka dari pekerjaan yang berulang.
AI kemudian berfungsi sebagai Mesin Diagnosis Miskonsepsi. Dampak terbesar AI bukanlah pada skor, melainkan pada analisis di balik skor tersebut. AI Generatif dapat menganalisis pola kesalahan dalam tugas yang dikumpulkan (misalnya, esai yang dikirim via WA Web) dan mengidentifikasi mengapa siswa membuat kesalahan tersebut (diagnosis kausal). AI dapat menentukan, misalnya, bahwa siswa gagal pada Soal X bukan karena mereka tidak tahu, melainkan karena mereka salah memahami Konsep Prasyarat Y.
Kualitas umpan balik (feedback) meningkat secara eksponensial. AI (Gemini/ChatGPT) dapat menghasilkan umpan balik naratif yang sangat terperinci dan personal dalam hitungan detik. Feedback ini berfokus pada growth mindset, memberikan saran konstruktif untuk perbaikan (misalnya, "Perkuat argumen Anda dengan data dari Bab 3" atau "Gunakan kata kerja yang lebih kuat di paragraf kedua"), alih-alih hanya memberikan nilai angka.
Efisiensi ini memungkinkan Umpan Balik Instan. Guru tidak perlu menunggu berhari-hari untuk mengembalikan tugas. Feedback yang dihasilkan AI dapat segera dikirim kepada siswa (misalnya, melalui email atau Private Message WA Web), memaksimalkan efektivitas pembelajaran formatif, karena siswa menerima koreksi saat ingatan mereka tentang tugas itu masih segar.
Namun, dampak AI juga membawa risiko integritas akademik. Siswa dapat menggunakan AI untuk menghasilkan jawaban mereka (Plagiarisme AI) atau menyunting feedback yang diberikan AI untuk merevisi tugas mereka tanpa pemahaman sejati. Strategi EdTech harus fokus pada verifikasi proses—meminta bukti draf awal atau log prompt yang digunakan siswa.
AI juga dapat digunakan untuk Analisis Kinerja Siswa Multimodal. Selain teks, AI (Gemini) dapat menganalisis output visual siswa (misalnya, desain Canva atau grafik yang mereka buat), menilai apakah visualisasi tersebut akurat secara statistik dan terstruktur secara logis. Ini memperluas jangkauan asesmen ke keterampilan visual dan desain.
Kesimpulan
Evaluasi otomatis yang didukung AI mengubah peran guru dari "penilai" menjadi "diagnostician" dan "fasilitator umpan balik". Dampak AI pada penilaian adalah peningkatan efisiensi, kecepatan, dan kedalaman diagnostik umpan balik. Namun, keberhasilan jangka panjang tergantung pada kebijakan sekolah yang ketat yang berfokus pada menguji integritas proses siswa dan keterampilan berpikir kritis, alih-alih hanya mengandalkan skor otomatis.