Etika Desain AI: Mengajarkan Siswa Kritis Terhadap Sumber Gambar dan Hak Cipta di Canva
s2tp.fip.unesa.ac.id, 15 Nopember 2025 - Penggunaan Canva telah mendemokratisasi desain visual, namun memberikan akses ke jutaan aset (foto stok, ikon, ilustrasi) dan alat Kecerdasan Buatan (AI) Generatif yang kuat membawa serta tanggung jawab etika dan hukum yang besar. Siswa harus diajarkan Literasi Etika Desain—memahami batasan hukum (hak cipta) dan moral (atribusi) saat menggunakan visual dalam materi ajar mereka. Kegagalan dalam etika desain dapat merusak integritas akademik dan memicu masalah hukum bagi institusi.
Pilar pertama dari etika desain adalah Pemahaman Lisensi dan Hak Cipta. Siswa harus tahu bahwa tidak semua gambar yang "gratis" di Canva adalah Public Domain. Sebagian besar dilindungi oleh lisensi Royalty-Free, yang memungkinkan penggunaan dalam proyek tertentu tetapi melarang penjualan kembali output mentah. Guru harus mengajarkan perbedaan antara menggunakan aset untuk proyek sekolah dan menggunakan aset yang sama untuk tujuan komersial.
Isu yang paling kompleks adalah Hak Cipta Konten yang Dihasilkan AI. Ketika siswa menggunakan fitur Text-to-Image di Canva, mereka menciptakan gambar yang sepenuhnya baru. Secara hukum, kepengarangan dan hak cipta untuk konten yang dibuat murni oleh AI masih diperdebatkan. Sekolah harus mengajarkan bahwa untuk mengklaim karya tersebut sebagai milik mereka, siswa wajib menambahkan intervensi kreatif yang substantif (memodifikasi desain, menggabungkan dengan aset orisinal mereka).
Kewajiban Etika Atribusi juga sangat penting. Meskipun lisensi Canva mungkin tidak selalu menuntut atribusi eksplisit untuk aset stock, guru harus menetapkan standar etika yang lebih tinggi: melatih siswa untuk selalu mengakui sumber, setidaknya dalam notes presentasi, atau dalam bibliografi proyek. Ini menanamkan rasa hormat terhadap kekayaan intelektual. .
Siswa juga harus dilatih untuk Menganalisis Bias Visual. AI Generatif rentan terhadap bias algoritmik (misalnya, representasi gender atau rasial yang stereotip). Guru harus menetapkan tugas yang secara eksplisit meminta siswa untuk mengaudit visual yang dihasilkan AI atau yang mereka pilih, memastikan desain akhir mereka inklusif dan etis.
Tantangan lainnya adalah Melawan Plagiarisme Visual Pasif. Plagiarisme desain terjadi ketika siswa menggunakan template Canva populer tanpa modifikasi berarti. Ini adalah bentuk kecurangan visual. Siswa harus diajarkan untuk menggunakan Brand Kit mereka dan melakukan modifikasi kreatif yang unik agar output mereka benar-benar mencerminkan pemikiran orisinal, alih-alih sekadar reproduksi template.
Audit Etika Mandiri adalah keterampilan kunci. Sebelum menyerahkan proyek, siswa harus meninjau setiap aset visual mereka dan bertanya: (1) Apakah gambar ini mencerminkan stereotip? (2) Apakah saya memiliki hak untuk menggunakan gambar ini? (3) Apakah saya menambahkan nilai kreatif yang cukup?
Kesimpulan
Etika Desain AI menuntut bahwa keterampilan teknis dalam menggunakan Canva harus dipasangkan dengan tanggung jawab moral. Guru harus secara eksplisit mengajarkan Literasi Lisensi, atribusi wajib, dan audit bias visual. Dengan demikian, AI menjadi alat yang memberdayakan kreativitas, tetapi dalam batasan etika yang menjaga integritas akademik dan hukum.