Etika AI dalam Kelas: Panduan Menggunakan ChatGPT dan Gemini Secara Bertanggung Jawab.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 9 Nopember 2025 - Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan sekolah menuntut adanya panduan etika yang jelas agar pemanfaatan ChatGPT dan Gemini berjalan bertanggung jawab. Guru dan siswa harus memahami bahwa meskipun AI adalah alat yang kuat, penggunaannya harus selaras dengan nilai-nilai akademik seperti integritas, orisinalitas, dan kejujuran. Etika AI dalam kelas mencakup aspek transparansi, privasi data, dan pencegahan kecurangan akademik yang terselubung. Panduan ini bertujuan untuk memastikan AI menjadi mitra belajar yang berharga, bukan sumber masalah etika baru.
Guru harus secara eksplisit mendefinisikan apa yang termasuk dan tidak termasuk penggunaan AI yang diperbolehkan dalam setiap tugas akademik. Penggunaan ChatGPT atau Gemini untuk brainstorming ide, menyusun kerangka, atau mengklarifikasi konsep harus diizinkan dan didorong. Namun, menyerahkan output yang dihasilkan sepenuhnya oleh AI sebagai pekerjaan orisinal siswa adalah bentuk kecurangan akademik. Siswa harus selalu merevisi, memverifikasi, dan menambahkan pemikiran kritis mereka sendiri ke dalam output AI. Orisinalitas pekerjaan siswa tetap menjadi fokus utama penilaian.
Prinsip transparansi mewajibkan siswa untuk secara jelas mengakui bagian mana dari pekerjaan mereka yang dibantu oleh AI. Institusi pendidikan harus menetapkan format kutipan yang standar untuk mencantumkan penggunaan ChatGPT atau Gemini dalam daftar pustaka atau catatan kaki. Pengakuan yang jelas ini membantu dosen membedakan antara pekerjaan mandiri siswa dan bagian yang diolah oleh mesin. Kegagalan untuk mencantumkan penggunaan AI harus diperlakukan sama dengan plagiarisme konvensional, yaitu mengambil karya orang lain tanpa atribusi. Keterbukaan adalah kunci untuk membangun kepercayaan dalam proses penilaian.
Dalam menggunakan Gemini dan ChatGPT, masalah privasi data siswa harus diutamakan dan dilindungi oleh guru. Siswa tidak boleh memasukkan informasi pribadi yang sensitif, seperti nomor identifikasi, alamat, atau data kesehatan, ke dalam platform AI. Guru harus memastikan bahwa setiap analisis data siswa yang dimasukkan ke AI (misalnya, nilai atau kinerja kelas) telah dianonimkan sepenuhnya. Sekolah perlu memilih versi AI yang menawarkan jaminan privasi data yang ketat dan memproses data sesuai dengan regulasi yang berlaku. Menjaga kerahasiaan data adalah kewajiban etis yang tidak bisa ditawar.
Setiap model AI, termasuk ChatGPT dan Gemini, dilatih berdasarkan data historis yang mungkin mengandung bias yang tidak disengaja. Guru memiliki tanggung jawab etis untuk mengajarkan siswa agar selalu skeptis terhadap output AI dan melakukan verifikasi fakta secara mandiri. Output AI tidak boleh diterima sebagai kebenasan mutlak; siswa harus memeriksa silang informasi dengan sumber-sumber tepercaya. Mengajarkan keterampilan verifikasi ini memberdayakan siswa untuk berpikir kritis terhadap informasi yang dihasilkan oleh mesin. Penggunaan AI secara bertanggung jawab berarti mengakui dan secara aktif mengurangi potensi biasnya.
Etika AI menempatkan Gemini dan ChatGPT sebagai alat bantu untuk meningkatkan pembelajaran, bukan sebagai pengganti keterampilan fundamental siswa. Guru harus mendesain tugas yang membutuhkan sintesis, analisis, dan refleksi, yang melampaui kemampuan AI untuk menghasilkan jawaban instan. Siswa harus didorong untuk menggunakan AI untuk mendapatkan feedback awal atau menyederhanakan konsep yang sulit, tetapi tetap mengerjakan inti tugas secara mandiri. Tujuannya adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi sambil memanfaatkan efisiensi yang ditawarkan oleh AI.
Guru juga harus memastikan bahwa akses ke ChatGPT dan Gemini bersifat adil dan setara bagi semua siswa, terlepas dari latar belakang ekonomi mereka. Sekolah perlu menyediakan akses yang seragam, misalnya melalui lisensi sekolah atau perangkat komputasi di laboratorium. Mengandalkan siswa untuk mengakses versi berbayar AI di rumah dapat menciptakan kesenjangan baru dalam pendidikan. Prinsip etika ini menuntut institusi untuk memikirkan distribusi sumber daya teknologi secara merata. Kesetaraan akses adalah fondasi untuk memanfaatkan potensi AI secara penuh.
Penggunaan yang bertanggung jawab juga mencakup pemahaman tentang dampak lingkungan dari operasional model AI yang besar. Guru dapat mengajarkan siswa tentang jejak karbon dari AI dan mendorong penggunaan yang bijak dan terfokus untuk meminimalkan konsumsi energi yang tidak perlu. Meskipun ini bukan masalah etika di tingkat individu, ini adalah tanggung jawab etika kolektif yang harus dipahami oleh komunitas sekolah. Memasukkan aspek keberlanjutan AI ke dalam kurikulum akan menumbuhkan kesadaran lingkungan siswa. Edukasi tentang dampak luas AI adalah bagian dari literasi AI yang holistik.
Guru memiliki peran sentral dalam memodelkan penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab di depan siswa mereka. Mereka harus secara terbuka mendemonstrasikan bagaimana mereka menggunakan Gemini atau ChatGPT untuk membuat materi ajar dan kemudian memverifikasi output tersebut. Transparansi guru dalam penggunaan AI akan memberikan contoh praktis tentang bagaimana mengintegrasikan teknologi ini dengan integritas akademik. Teladan dari guru adalah alat yang paling efektif untuk menanamkan praktik etika AI kepada siswa. Peran guru adalah sebagai role model dalam ekosistem AI.
Penyusunan kebijakan sekolah yang secara eksplisit mengatur penggunaan ChatGPT dan Gemini harus menjadi prioritas. Kebijakan ini harus dikembangkan melalui diskusi yang melibatkan guru, siswa, orang tua, dan administrator untuk memastikan keberterimaan yang luas. Panduan harus bersifat adaptif dan dapat direvisi seiring dengan evolusi teknologi AI. Dengan menetapkan batasan yang jelas dan mendorong pemanfaatan yang bertanggung jawab, sekolah dapat memetik manfaat inovasi AI sambil menjunjung tinggi integritas akademik. Adaptasi kebijakan adalah cerminan dari komitmen sekolah terhadap etika AI.