Ekonomi Pembelajaran: Analisis Biaya dan Manfaat Adopsi ChatGPT Dibandingkan Tutor Manusia.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 16 Nopember 2025 - Analisis biaya dan manfaat adopsi ChatGPT dibandingkan tutor manusia menunjukkan pergeseran paradigma dalam ekonomi pembelajaran, terutama dalam hal skalabilitas dan aksesibilitas. Biaya operasional tutor manusia terikat pada waktu, keahlian, dan lokasi geografis, yang menjadikannya mahal dan terbatas. Sebaliknya, biaya marjinal ChatGPT mendekati nol setelah investasi awal, memungkinkan layanan tutoring diakses oleh ribuan siswa secara simultan. Efisiensi biaya yang masif ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan skalabilitas dan jangkauan pendidikan.
Manfaat utama ChatGPT terletak pada aksesibilitas 24/7 dan ketersediaan instan tanpa batasan geografis. Layanan tutor manusia sering kali tidak terjangkau bagi siswa di daerah terpencil atau yang membutuhkan bantuan pada waktu yang tidak teratur. AI menghilangkan hambatan ini, menyediakan dukungan akademik kapan pun dibutuhkan. Pemerataan akses terhadap bimbingan berkualitas ini secara langsung mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan, menjamin setiap siswa memiliki kesempatan belajar yang setara.
Dari sisi biaya, ChatGPT memberikan nilai tambah yang tinggi dalam tugas-tugas spesifik seperti debugging kode, latihan tata bahasa, dan pembuatan draf, yang secara tradisional memerlukan tutor mahal. AI dapat menangani tugas-tugas rutin ini dengan konsistensi dan kecepatan yang melampaui kemampuan manusia. Efisiensi pada tugas-tugas repetitif ini sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, mengalokasikan sumber daya manusia ke tugas yang bernilai lebih tinggi.
Namun, analisis biaya-manfaat harus mengakui keterbatasan kualitas AI. Tutor manusia unggul dalam menyediakan mentorship emosional, bimbingan etika, dan dukungan personal yang krusial untuk pengembangan holistik siswa. Mengandalkan AI secara eksklusif dapat merusak aspek-aspek pembangunan karakter ini, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kualitas yang dicita-citakan oleh SDG 4.
Adopsi ChatGPT memerlukan biaya investasi awal yang signifikan dalam infrastruktur digital dan pelatihan guru. Sekolah harus memastikan bahwa sistem LMS terintegrasi, kebijakan keamanan data ditetapkan, dan guru terlatih untuk menggunakan AI secara efektif. Investasi infrastruktur ini sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, yang mendorong modernisasi layanan.
ChatGPT dapat secara efektif menyajikan remedial dan latihan yang berfokus pada isu-isu Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang disesuaikan. Manfaat dari sudut pandang kurikulum adalah kemampuan untuk mengintegrasikan tema-tema seperti kesehatan masyarakat (SDG 3) atau inovasi berkelanjutan (SDG 12) ke dalam materi tutoring dengan biaya minimal. Integrasi tematik ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Model yang optimal adalah keseimbangan hibrida. Tutor manusia harus memfokuskan waktu mereka pada bimbingan kualitatif, motivasi, dan pengawasan etika, sementara AI menangani dukungan kuantitatif dan faktual. Pendekatan ini memaksimalkan manfaat dari kedua sumber daya, menjaga human touch sambil mencapai efisiensi tinggi.
Analisis manfaat harus memasukkan kemudahan bagi guru dalam tugas administratif. Guru dapat menggunakan AI untuk menyusun komunikasi atau laporan, menghemat waktu yang setara dengan biaya jam kerja administrasi. Pengoptimalan waktu guru ini mendukung SDG 4c, memungkinkan mereka fokus pada peran pengajaran.
Meskipun murah, penggunaan AI menimbulkan biaya risiko etika terkait privasi data dan bias algoritma, yang harus dikelola melalui kebijakan dan investasi keamanan siber. Institusi harus mengalokasikan sumber daya untuk mitigasi risiko ini, mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Pada akhirnya, ekonomi pembelajaran harus dievaluasi berdasarkan dampak inklusif-nya. Adopsi ChatGPT memberikan manfaat terbesar dengan menyediakan layanan berkualitas ke populasi yang sebelumnya tidak terlayani, mendorong ekuitas pendidikan. Keseimbangan biaya, manfaat, dan ekuitas ini adalah kunci untuk mencapai semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui inovasi pendidikan.