Dilema EdTech: Menimbang Manfaat (AI, ssstiktok, Google Translate) vs. Risiko Privasi dan Misinformasi di Platform WhatsApp Web.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 2 Nopember 2025 - Alur kerja teknologi pendidikan (EdTech) yang mengintegrasikan ssstiktok, AI Google Translate, dan WhatsApp Web menjanjikan sebuah utopia efisiensi. Guru dapat mengkurasi konten global, menerjemahkannya, dan mendistribusikannya secara instan—semuanya hampir tanpa biaya. Ini adalah demokratisasi pengetahuan dalam praktiknya.
Namun, di balik manfaat revolusioner ini, terdapat dilema etis dan praktis yang serius. Ketika kita memindahkan ruang kelas ke platform konsumen yang tidak dirancang untuk pendidikan (seperti TikTok dan WhatsApp), kita tidak hanya mengadopsi efisiensinya; kita juga mewarisi risikonya. Dilema EdTech ini adalah pertarungan konstan antara kenyamanan dan keamanan, antara akses dan akurasi.
Manfaat: Rayuan Efisiensi dan Aksesibilitas
Manfaat dari alur kerja ini tidak dapat disangkal dan merupakan alasan mengapa alur kerja ini begitu cepat diadopsi:
Efisiensi Radikal: Guru dapat merancang "paket belajar" dalam hitungan menit, bukan jam. AI (Google Translate dan perangkum) mengotomatisasi tugas penerjemahan dan sintesis.
Akses Global (ssstiktok): Guru dan siswa mendapatkan akses ke perpustakaan visual demonstrasi dan studi kasus terbaik dunia, menghancurkan monopoli buku teks.
Nol Biaya: Seluruh toolkit ini (ssstiktok, Google Translate, WhatsApp) gratis, menjadikannya solusi paling adil untuk institusi dengan anggaran terbatas.
Relevansi: Materi diambil dari platform (TikTok) yang sudah relevan secara budaya bagi siswa, meningkatkan keterlibatan awal.
Risiko 1: Mesin Amplifikasi Misinformasi
Risiko terbesar dan paling langsung adalah kualitas konten. Alur kerja ini bisa menjadi "mesin amplifikasi misinformasi" yang sangat efisien.
Sumber Tidak Terverifikasi (ssstiktok): TikTok mengoptimalkan untuk keterlibatan, bukan akurasi. Sebuah video eksperimen sains yang salah secara faktual namun "terlihat keren" akan lebih viral daripada video yang akurat namun membosankan. Guru, yang bukan ahli di setiap bidang, dapat secara tidak sengaja mengunduh dan mengajarkan konten yang salah.
AI sebagai Pemoles Kebohongan (Google Translate): Di sinilah bahayanya berlipat ganda. AI Google Translate tidak memiliki filter kebenaran. Ia akan menerjemahkan sebuah video teori konspirasi atau tips kesehatan berbahaya (dari bahasa asing) ke dalam Bahasa Indonesia yang lugas, otoritatif, dan terdengar "ilmiah".
Distribusi Otoritatif (WhatsApp Web): Ketika "paket" misinformasi ini (video ssstiktok + terjemahan AI) didistribusikan oleh seorang guru di platform kelas (WhatsApp Web), konten tersebut secara otomatis menerima "stempel validasi". Siswa akan menerimanya sebagai kebenaran yang sudah diverifikasi.
Risiko 2: Dilema Privasi dan Data (WhatsApp Web)
Risiko kedua lebih berbahaya secara jangka panjang: privasi. WhatsApp bukanlah platform pendidikan; ini adalah platform media sosial milik Meta (Facebook) yang model bisnisnya adalah pengumpulan data.
Tidak Ada Privasi Institusional: Ketika guru membuat grup kelas di WhatsApp, mereka secara efektif memindahkan interaksi akademis ke server komersial. Meta dapat (dan memang) mengumpulkan metadata—siapa berbicara dengan siapa, kapan, seberapa sering, dari lokasi mana.
Mengekspos Data Siswa: Guru memaksa siswa untuk membagikan nomor telepon pribadi mereka (aset data yang sangat sensitif) kepada semua anggota kelas. Ini membuka risiko cyberbullying, doxing, atau kontak yang tidak diinginkan di luar jam sekolah.
Pelanggaran Regulasi Data: Di banyak negara (termasuk yang memiliki undang-undang seperti GDPR di Eropa atau UU PDP di Indonesia), menggunakan platform konsumen non-resmi untuk data akademis siswa berada di "wilayah abu-abu" hukum, bahkan mungkin ilegal, karena sekolah tidak memiliki kendali atas bagaimana data itu disimpan atau digunakan.
Kesimpulan: Menavigasi Dilema (Peran Guru sebagai "Firewall")
Dilema EdTech ini tidak memiliki jawaban mudah. Mengabaikan alur kerja ini berarti kehilangan efisiensi yang luar biasa. Mengadopsinya secara naif berarti membuka pintu bagi misinformasi dan risiko privasi.
Solusinya terletak pada guru. Guru harus bertindak sebagai "Firewall Manusia" yang kritis.
Untuk Misinformasi: Guru tidak boleh pernah percaya pada konten ssstiktok atau terjemahan AI secara membabi buta. Setiap aset harus diverifikasi silang (triangulasi) dengan sumber akademis tepercaya sebelum dibagikan.
Untuk Privasi: Guru harus sangat transparan. Idealnya, platform ini digunakan dengan persetujuan orang tua, dan aturan dasar digital (seperti tidak membagikan info pribadi) harus ditegakkan dengan ketat di grup WhatsApp.
Manfaat dari alur kerja ini sangat besar, tetapi hanya aman jika pendidiknya menerapkan skeptisisme kritis tingkat tinggi—memperlakukan setiap alat sebagai utilitas yang berpotensi rusak, bukan sebagai sumber kebenaran.