Dari Hafalan ke Deep Learning: AI Membebaskan Waktu untuk Fokus pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 21 Nopember 2025 - Artificial Intelligence (AI) secara revolusioner membebaskan waktu belajar dengan mengambil alih tugas-tugas hafalan dan pengumpulan informasi dasar (seperti flashcard dan kuis faktual), memungkinkan waktu kelas dan energi kognitif siswa dialihkan sepenuhnya untuk keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills/HOTS) seperti analisis, sintesis, dan evaluasi. Pergeseran pedagogis ini secara fundamental mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Sistem penilaian beralih dari menguji memori menjadi mengukur kompetensi intelektual sejati. Ujian yang didukung AI kini dapat fokus pada pemecahan masalah yang kompleks, penalaran etika, dan skenario yang menuntut penerapan pengetahuan, bukan sekadar mengingatnya. Pengukuran yang valid ini mendukung integritas akademik.
AI membantu mengatasi akar penyebab kesenjangan dengan mengelola remedial hafalan secara adaptif. AI hanya menyajikan informasi yang dibutuhkan siswa untuk dikuasai, mencegah siswa kesulitan tersendat pada fakta dasar dan membiarkan mereka bergerak ke aplikasi kompleks secepatnya. Dukungan yang tepat sasaran ini mendukung SDG 10: Mengurangi Ketidaksetaraan.
Kurikulum harus direvisi untuk memprioritaskan HOTS dalam konteks isu-isu global. Siswa menggunakan AI untuk mengumpulkan data tentang Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) (misalnya, angka kemiskinan atau kebijakan iklim) dan kemudian menggunakan keterampilan berpikir kritis mereka untuk menganalisis dan mengkritisi data tersebut. Pengarahan kurikulum ini memperkuat komitmen SDG 4.7.
Peran guru bertransisi menjadi mentor dan fasilitator dialog Sokratik. Waktu yang dihemat dari grading dan lecturing didedikasikan untuk membimbing diskusi filosofis, memfasilitasi proyek yang kompleks, dan memberikan mentoring yang sangat personal. Peningkatan peran guru ini sejalan dengan tujuan SDG 4c.
AI mendukung inovasi pedagogis melalui simulasi imersif dan laboratorium virtual yang intensif data. Siswa dapat menguji hipotesis dan melihat hasil secara instan, bergerak melampaui pembelajaran pasif menuju aplikasi pengetahuan di lingkungan yang kompleks. Inovasi teknologi ini mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Fokus pada HOTS (pemecahan masalah, sintesis kreatif) secara langsung mempersiapkan siswa untuk pasar kerja modern, yang menghargai keahlian unik manusia yang tidak dapat diotomatisasi oleh AI. Keterampilan ini penting untuk inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Penguatan kompetensi ini mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth.
Siswa mengalami peningkatan agency dan motivasi karena mereka dapat melewati tugas yang membosankan dan fokus pada proyek kreatif yang menantang. AI mengurus rutinitas, membebaskan siswa untuk melakukan eksplorasi yang didorong oleh rasa ingin tahu. .
Pengawasan etika menjadi tanggung jawab utama. Dengan menggunakan proxy dan analitik AI, sekolah harus memastikan bahwa waktu yang dibebaskan oleh AI tidak digunakan untuk penyalahgunaan atau cheating. Penegakan integritas ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh.
Pada akhirnya, transformasi ini memastikan bahwa pendidikan berfokus pada pengembangan kapasitas kognitif yang diperlukan untuk memecahkan tantangan global yang kompleks. Ini menciptakan sistem pendidikan yang berkelanjutan dan berorientasi pada masa depan.