ChatGPT di Ruang Kelas: Studi Kasus Penggunaan Model Bahasa AI Generatif.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 12 Nopember 2025 - ChatGPT, sebagai salah satu Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLMs) terkemuka, telah memicu revolusi tak terhindarkan dalam Teknologi Pendidikan (EdTech). Kehadirannya di ruang kelas mengubah dinamika pengajaran, asesmen, dan kreasi konten. Studi kasus penggunaannya harus fokus pada bagaimana AI ini dapat diintegrasikan secara etis dan efektif untuk memperkuat proses belajar, alih-alih hanya menjadi alat curang.
Salah satu studi kasus paling efektif adalah ChatGPT sebagai Asisten Instructional Designer bagi guru. Guru menggunakan ChatGPT untuk mengotomatisasi $80\%$ pekerjaan pra-produksi, seperti merumuskan tujuan pembelajaran, membuat kerangka (outline) Rencana Pelajaran (RPP), dan menulis naskah video explainer yang koheren. Dengan ini, guru mengalihkan waktu yang dihemat dari tugas penulisan manual ke interaksi langsung dengan siswa.
Bagi siswa, studi kasus menunjukkan ChatGPT berfungsi sebagai Tutor Drafting dan Editing. Siswa yang mengalami writer's block (kebuntuan menulis) menggunakan AI untuk membuat draf awal esai mereka. Penggunaan yang etis mengharuskan siswa untuk secara kritis merevisi, memverifikasi fakta, dan menambahkan suara otentik mereka sendiri. Guru menilai proses transformasi dari draf AI menjadi karya orisinal.
Studi kasus menunjukkan bahwa Kualitas Prompt Engineering menjadi variabel yang menentukan hasil akademik. Guru yang efektif mengajarkan siswa untuk memberikan prompt yang spesifik, kaya konteks, dan berorientasi pada tujuan (misalnya, meminta AI berperan sebagai "ahli matematika" dan memecahkan masalah dalam format "langkah-demi-langkah"). Kualitas output AI secara langsung mencerminkan keterampilan berpikir logis dan komunikasi siswa.
Dalam konteks asesmen, ChatGPT digunakan untuk Membuat Soal Ujian yang Berbobot. Guru memberi prompt AI untuk menghasilkan set soal yang bervariasi—mulai dari tingkat hafalan (C1) hingga analisis (C4)—dan rubrik penilaian yang terstruktur. Ini memungkinkan guru untuk meningkatkan frekuensi dan kualitas asesmen formatif, mempersonalisasi kesulitan soal untuk setiap kelompok siswa.
Analisis Lintas Bahasa adalah aplikasi penting lain. Siswa multibahasa dapat menggunakan ChatGPT untuk memahami instruksi yang kompleks atau untuk menghasilkan draf komunikasi dalam bahasa target, menjembatani kesenjangan linguistik yang sering menjadi hambatan dalam tugas-tugas EdTech.
Tantangan etika menjadi bagian integral dari studi kasus. Penggunaan ChatGPT memaksa sekolah untuk mengembangkan Kebijakan Penggunaan AI yang transparan. Siswa diwajibkan memberikan atribusi eksplisit atas bantuan AI dalam tugas mereka, mengajarkan mereka tentang integritas akademik di era digital.
Integrasi Multi-Modal adalah tren yang muncul. Output teks dari ChatGPT sering diintegrasikan dengan aset visual yang dibuat di Canva atau video yang diunggah ke YouTube, menciptakan materi ajar yang menarik dan on-brand—semuanya dikoordinasikan oleh guru.
Kesimpulan
Studi kasus penggunaan ChatGPT di ruang kelas mengkonfirmasi bahwa AI adalah mitra produktivitas pedagogis yang transformatif. AI mengotomatisasi kreasi konten dan drafting, tetapi secara fundamental menuntut guru untuk bertransisi menjadi Prompt Engineer yang menilai proses dan sintesis ide, bukan hanya produk akhir. Keberhasilan bergantung pada kebijakan etika yang jelas dan desain tugas yang menuntut pemikiran kritis manusiawi.